Orangutan Tapanuli, Banjir Sumatera Tewaskan Puluhan Kera Paling Langka Dunia

Minggu, 14 Desember 2025 - 13:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir merendam permukiman warga di Teluk Pucung, Bekasi Utara, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026), dengan ketinggian air mencapai hingga 1,5 meter akibat hujan deras. (Dok: BNPB)

Banjir merendam permukiman warga di Teluk Pucung, Bekasi Utara, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026), dengan ketinggian air mencapai hingga 1,5 meter akibat hujan deras. (Dok: BNPB)

SUMATERA UTARA, POSNEWS.CO.ID — Di tengah lumpur pekat sisa banjir bandang Sumatera Utara, sebuah tengkorak menyembul keluar. Itu bukan tengkorak manusia, melainkan sisa-sisa dari salah satu kerabat terdekat kita yang paling langka: Orangutan Tapanuli.

Bencana banjir akhir November lalu bukan sekadar tragedi kemanusiaan. Bagi spesies Pongo tapanuliensis, peristiwa ini adalah kiamat kecil.

Para ilmuwan memperkirakan antara 33 hingga 54 ekor orangutan kritis ini tewas akibat banjir dan tanah longsor. Padahal, populasi mereka di alam liar kurang dari 800 ekor sebelum bencana terjadi.

“Ini bencana total. Jalan menuju kepunahan sekarang jauh lebih curam,” ujar Erik Meijaard, antropolog biologi yang merupakan salah satu penemu spesies ini.

Gangguan Tingkat Kepunahan

Curah hujan ekstrem lebih dari 1.000 mm mengguyur hanya dalam empat hari. Akibatnya, habitat hutan Batang Toru yang menjadi satu-satunya rumah mereka hancur lebur.

Baca Juga :  Krisis Piring Nasi Dunia: Revolusi Hijau Melambat

Meijaard menyebut dampak demografis ini sebagai “gangguan tingkat kepunahan”. Faktanya, kehilangan 1 persen populasi saja setiap tahun sudah cukup untuk memusnahkan spesies ini. Pasalnya, orangutan Tapanuli berkembang biak sangat lambat, hanya melahirkan setiap enam hingga sembilan tahun sekali.

Kehilangan hingga 10,5 persen populasi dalam hitungan hari adalah pukulan yang sangat mematikan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukti Foto yang Memilukan

Panut Hadisiswoyo, pendiri Pusat Informasi Orangutan, melihat bukti tragis itu secara langsung. Tim penyelamat yang mencari korban manusia menunjukkan foto mayat yang tertimbun lumpur.

“Saya yakin tubuh yang membusuk, rambut kemerahan, dan ukuran tengkorak itu adalah Orangutan Tapanuli,” tegas Panut.

Citra satelit memperlihatkan luka menganga di lanskap pegunungan. Longsoran lumpur selebar 100 meter menyapu bersih segala yang ada di jalurnya sejauh satu kilometer. Tentu saja, orangutan, gajah, dan satwa liar lainnya tidak memiliki kesempatan untuk selamat dari terjangan alam tersebut.

Baca Juga :  Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Hentikan Tambang Emas dan Sawit

Habitat Orangutan Tapanuli sebenarnya sudah lama terancam. Sebelum banjir, mereka terjepit oleh aktivitas tambang emas, perkebunan kelapa sawit, dan proyek PLTA.

David Gaveau, ahli penginderaan jauh, mengaku terkejut melihat kerusakan hutan yang terjadi. “Saya belum pernah melihat yang seperti ini selama 20 tahun memantau deforestasi di Indonesia,” katanya.

Pemerintah Indonesia merespons dengan menghentikan sementara seluruh aktivitas sektor swasta di kawasan Batang Toru. Namun, para ahli mendesak langkah lebih jauh. Mereka menuntut penghentian permanen pembangunan yang merusak habitat.

Kini, hutan Batang Toru menjadi sunyi senyap. Jika kita tidak bertindak cepat melindungi sisa habitat yang rapuh ini, kera besar terlangka di dunia ini mungkin hanya akan tinggal nama dalam buku sejarah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis
Iran Ancam Serangan Panjang dan Menyakitkan Terhadap Posisi AS
He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia
Bocah 4 Tahun di Rokan Hilir Meninggal Diduga Diperkosa, Polisi Usut Tuntas

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:58 WIB

Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:29 WIB

101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Menepis spekulasi. Pejabat senior Iran menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dalam kondisi kesehatan yang prima dan tetap menjalankan tugas negara secara aktif, membantah laporan mengenai cedera akibat serangan udara. Dok: Xinhua.

INTERNASIONAL

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB