Tragedi Kalibata Tewaskan 2 Penagih, Kuasa Hukum Surati Presiden dan DPR Minta Turun Tangan

Senin, 15 Desember 2025 - 10:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Debt Collector. (Posnews/Net)

Ilustrasi Debt Collector. (Posnews/Net)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Tragedi Kalibata yang menewaskan dua Debt Collector asal Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki babak serius. Keluarga mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kuasa hukum keluarga korban, Wilvridus Watu, S.H., M.H., mengirim surat terbuka kepada Presiden RI dan Ketua DPR RI. Melalui langkah ini, ia mendesak negara hadir dan memberikan perlindungan hukum bagi jasa penagih profesional.

Melalui surat tersebut, Wilvridus menegaskan peristiwa berdarah pada 11 Desember 2025 di Kalibata, Jakarta Selatan, bukan sekadar tindak kriminal biasa.

Sebaliknya, ia menyebut insiden ini sebagai Tragedi Kalibata, yang lahir dari akumulasi stigma, prasangka, dan lemahnya perlindungan hukum.

Wilvridus menjelaskan dua korban, NET dan MET, tewas akibat kekerasan brutal. Keduanya merupakan perantau asal NTT yang bekerja secara halal di Jakarta.

MET sehari-hari bekerja sebagai petugas SPBU di Tanjung Barat dan pada hari libur membantu rekannya sebagai jasa penagih profesional.

β€œProfesi ini sah dan diakui dalam sistem pembiayaan nasional,” tegas Wilvridus.

Selanjutnya, ia mengungkapkan para korban bekerja secara resmi melalui PT Devana yang memiliki kerja sama dengan perusahaan pembiayaan.

Baca Juga :  RUU Perampasan Aset Dikebut, Ini 13 Kejahatan yang Masuk Daftar DPR

Saat kejadian, korban menjalankan tugas penagihan sepeda motor bernomor polisi B 5732 TKY, objek pembiayaan BAF Finance.

Kronologi Berdarah di Kalibata

Menurut Wilvridus, debitur hanya membayar satu kali angsuran pada 20 Juli 2025 senilai Rp1.170.000. Setelah itu, pembayaran macet lebih dari lima bulan.

Bahkan, kendaraan tersebut diduga telah dipindahtangankan atau digadaikan secara melawan hukum.

Pada 11 Desember 2025, korban menelusuri alamat debitur sesuai prosedur, tanpa senjata dan tanpa ancaman. Namun, saat berhenti di lampu merah Kalibata, mereka melihat kendaraan objek pembiayaan dan mengikutinya secara terbuka.

Situasi kemudian berubah mencekam di sekitar Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Pengendara motor menghubungi sejumlah orang.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang, memukul korban, merampas kunci motor, dan meneriakkan kata β€œmaling”, hingga memicu penghakiman massa.

Akibat kekerasan itu, NET tewas di lokasi. Sementara itu, MET meninggal dunia di RS Budi Asih akibat luka berat. Dua rekan korban berhasil menyelamatkan diri dan kini menjadi saksi kunci.

Baca Juga :  UNMA dan BNN Perkuat Kolaborasi Cegah Narkotika, Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perubahan

Wilvridus menegaskan jasa penagih profesional telah diakui secara hukum melalui POJK Nomor 22 Tahun 2023 serta asas kebebasan berkontrak dalam KUH Perdata. Namun demikian, ketiadaan undang-undang khusus membuat profesi ini rentan kekerasan.

β€œTragedi Kalibata membuktikan negara gagal melindungi pekerja sah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti stigma negatif yang kerap dilekatkan kepada penagih, terutama pekerja asal Indonesia Timur.

Tiga Tuntutan ke Presiden dan DPR

Melalui surat terbuka itu, Wilvridus mendesak Presiden RI untuk menginstruksikan Kapolri mengusut Tragedi Kalibata secara transparan dan berkeadilan.

Selain itu, ia meminta DPR RI dan Pemerintah segera menyusun Undang-Undang Jasa Penagih Profesional. Lebih jauh, ia menuntut negara menjamin perlindungan hukum agar tragedi serupa tak terulang.

β€œNegara hukum tidak boleh kalah oleh kekerasan. Tidak ada pelanggaran prosedur yang bisa dibenarkan dengan hilangnya nyawa manusia,” tandas Wilvridus.

Kini, Tragedi Kalibata menjadi sorotan nasional. Publik menunggu langkah tegas negara agar hukum berdiri tegak dan nyawa anak bangsa tidak lagi melayang sia-sia. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kios di Pondok Pinang Digerebek, 827 Obat Keras Disita Polisi
Sosok Dadang Hartanto, Kapolda Metro Jaya Baru: Karier Panjang hingga Jadi Guru Besar
Kapolri Suyudi Mutasi 88 Pati dan Pamen, 19 Kapolda Berganti
Tragedi KM Virgo Transport 8: 80 Korban Meninggal, 55 Masih Dicari
G20 Tolak Pangan Jadi Alat Tekanan Geopolitik, Ini Sikap Mendag Budi
Dipanggil Boleng Berujung Maut, Pria di Cilincing Tewas Dibacok Celurit
AAN Dituduh Curi Amplop Hajatan, Berujung Pengeroyokan dan Lapor Polisi
7 Oktober! Sidang Perdana Febrie Adriansyah Dimulai, Jaksa Bacakan Dakwaan

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Kios di Pondok Pinang Digerebek, 827 Obat Keras Disita Polisi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Sosok Dadang Hartanto, Kapolda Metro Jaya Baru: Karier Panjang hingga Jadi Guru Besar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:42 WIB

Tragedi KM Virgo Transport 8: 80 Korban Meninggal, 55 Masih Dicari

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:33 WIB

G20 Tolak Pangan Jadi Alat Tekanan Geopolitik, Ini Sikap Mendag Budi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 06:49 WIB

Dipanggil Boleng Berujung Maut, Pria di Cilincing Tewas Dibacok Celurit

Berita Terbaru

Taiwan menerima dua jet tempur F-16V Block 70 pertama dari Amerika Serikat untuk memperkuat armada pertahanan udara. Simak informasi selengkapnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Taiwan Menyambut Dua Jet Tempur F-16V Pertama

Sabtu, 3 Okt 2026 - 11:30 WIB

Pemerintah Prancis meliburkan 400 sekolah akibat aksi unjuk rasa siswa yang berujung rusuh di berbagai kota. Simak laporan selengkapnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gelombang Unjuk Rasa Siswa Tutup Ratusan Sekolah di Prancis

Sabtu, 3 Okt 2026 - 10:33 WIB