JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering menganggap diri kita sebagai pemilih yang cerdas dan logis. Saat masuk ke bilik suara, kita merasa telah menimbang visi misi kandidat dengan matang. Ilmu politik mengenal konsep ini sebagai “Teori Pilihan Rasional” (Rational Choice Theory).
Teori ini mengasumsikan bahwa pemilih adalah aktor ekonomi yang dingin. Mereka mengkalkulasi untung dan rugi (cost-benefit) secara matematis sebelum menentukan pilihan. Namun, apakah manusia benar-benar serasional itu?
Kalkulator yang Rusak: Emosi dan Identitas
Realita di lapangan sering kali menampar asumsi tersebut dengan keras. Faktanya, pemilih jarang bertindak seperti kalkulator. Sebaliknya, mereka lebih sering bertindak berdasarkan emosi dan bias kognitif.
Identitas sosial, seperti agama dan etnis, memegang kendali yang jauh lebih kuat daripada program kerja yang rasional. Seseorang bisa saja memilih kandidat yang korup atau tidak kompeten. Alasannya sederhana, karena kandidat tersebut “satu golongan” dengan mereka.
Akibatnya, logika mati di hadapan sentimen primordial. Kita memilih bukan karena kandidat itu terbaik untuk negara, tetapi karena dia membuat kita merasa nyaman dengan identitas kita.
Paradoks Pemilih: Mengapa Kita Tetap Mencoblos?
Teori ini juga membentur tembok besar bernama “Paradoks Pemilih” (Paradox of Voting). Jika kita benar-benar rasional, kita seharusnya tidak akan mau pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Hitungan matematikanya sederhana. Peluang satu suara untuk menentukan kemenangan sangatlah kecil, nyaris nol persen. Sementara itu, biaya untuk memilih cukup besar (waktu, tenaga, antre).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara logika murni, memilih adalah tindakan irasional karena “biaya” lebih besar daripada “manfaat” langsung. Namun, jutaan orang tetap antre mencoblos.
Hal ini membuktikan adanya faktor non-rasional yang bekerja. Rasa kewajiban sipil, tekanan sosial, atau kepuasan batin menjadi penggerak utama, bukan kalkulasi untung-rugi.
Manipulasi Janji Manis
Politisi yang cerdik memahami celah psikologis ini dengan sangat baik. Mereka tidak menjual data statistik yang rumit kepada pemilih. Justru, mereka memanipulasi persepsi tentang “keuntungan”.
Kampanye populis tumbuh subur di lahan ini. Calon pemimpin mengumbar janji manis yang tidak masuk akal, seperti “uang gratis” atau subsidi gila-gilaan.
Tujuannya, mereka ingin menyentuh sisi emosional dan harapan instan pemilih. Mereka membajak sistem rasionalitas kita dengan iming-iming surga yang semu.
Batas Nalar di Kotak Suara
Pada akhirnya, kotak suara menjadi saksi bisu atas batas-batas rasionalitas manusia. Kita mungkin ingin menjadi pemilih yang objektif. Akan tetapi, otak kita sering kali kalah melawan hati dan identitas.
Demokrasi tidak berjalan di atas kertas hitungan matematika. Melainkan, sistem ini berjalan di atas gelombang emosi manusia yang tak terduga dan penuh warna.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















