Hilirisasi Nikel: Antara Mimpi Raja Baterai Dunia dan Kerusakan Lingkungan

Kamis, 18 Desember 2025 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Indonesia bermimpi jadi raja baterai EV, tapi alam membayar harganya. Simak paradoks hilirisasi nikel: ekonomi meroket, tapi laut dan hutan menjerit. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Indonesia bermimpi jadi raja baterai EV, tapi alam membayar harganya. Simak paradoks hilirisasi nikel: ekonomi meroket, tapi laut dan hutan menjerit. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Indonesia sedang mengejar mimpi besar. Kita ingin duduk di singgasana “Raja Baterai Dunia”. Pemerintah meluncurkan strategi berani dengan melarang ekspor bijih nikel mentah sejak 2020.

Langkah ini memaksa dunia untuk bertekuk lutut. Jika mereka menginginkan nikel Indonesia, mereka harus membangun pabrik di sini. Seketika, Indonesia bertransformasi menjadi titik vital dalam rantai pasok global kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV).

Kebijakan hilirisasi ini sukses besar secara statistik. Namun, di balik kilap angka pertumbuhan ekonomi, tersimpan cerita kelam tentang kerusakan ekologis dan konflik sosial yang tak kunjung usai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesta Pora Ekonomi dan Investasi China

Dampak ekonomi dari kebijakan ini memang mencengangkan. Nilai ekspor produk turunan nikel melesat tajam hingga puluhan kali lipat dibandingkan saat kita hanya menjual tanah air (bijih mentah).

Kawasan industri raksasa tumbuh subur di Morowali, Sulawesi Tengah, dan Halmahera, Maluku Utara. Faktanya, wilayah-wilayah sunyi itu kini berubah menjadi kota industri yang sibuk 24 jam.

Baca Juga :  Indra Sjafri Pimpin Garuda Muda U-23, 32 Pemain Dipanggil TC SEA Games 2025

Investor asing, terutama dari China, membanjiri sektor ini dengan modal triliunan rupiah. Mereka membangun smelter canggih untuk mengolah nikel menjadi bahan baku baterai. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus yang membanggakan.

Laut Merah dan Hutan Gundul

Akan tetapi, pesta ekonomi ini menyisakan “sampah” yang berbahaya. Masalah lingkungan menjadi sisi gelap yang paling menakutkan.

Aktivis lingkungan menyoroti praktik pembuangan limbah sisa pengolahan atau tailing. Beberapa perusahaan menggunakan metode Deep Sea Tailing Placement (DSTP). Mereka membuang limbah beracun langsung ke dasar laut dalam.

Imbasnya, ekosistem laut terancam mati. Nelayan lokal mengeluh hasil tangkapan mereka menurun drastis karena air laut berubah keruh dan tercemar logam berat.

Selain itu, pembukaan lahan tambang yang masif menyebabkan deforestasi parah. Hutan hujan tropis yang dulu hijau kini berubah menjadi lubang-lubang galian raksasa yang menganga. Banjir lumpur pun kerap menghantui pemukiman warga saat hujan turun.

Paradoks Energi Hijau yang Kotor

Ironi terbesar terletak pada sumber energinya. Kita memproduksi bahan baku untuk “mobil hijau” yang ramah lingkungan. Padahal, proses produksinya justru sangat kotor.

Smelter nikel membutuhkan energi listrik yang sangat besar. Sayangnya, sebagian besar pasokan listrik itu berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive atau khusus pabrik yang berbahan bakar batu bara.

Baca Juga :  Dilema Keamanan: Saat Niat Damai Memicu Perang

Lantas, cerobong-cerobong asap mengepulkan polusi udara hitam pekat ke langit Sulawesi dan Maluku setiap hari. Kita membersihkan udara di negara maju (pengguna mobil listrik), tetapi mengotori udara di negeri sendiri.

Nyawa Pekerja dan Konflik Lahan

Isu kemanusiaan juga tak kalah pelik. Konflik lahan antara perusahaan tambang dan warga lokal sering kali meletup. Warga merasa terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri.

Parahnya lagi, standar keselamatan kerja di area smelter sering menjadi sorotan. Kita sering mendengar berita tragis tentang tungku smelter yang meledak atau terbakar.

Insiden-insiden tersebut telah merenggut nyawa puluhan pekerja, baik lokal maupun asing. Tampaknya, pengejaran target produksi terkadang mengabaikan nyawa manusia.

Menyeimbangkan Ambisi

Pada akhirnya, hilirisasi adalah pedang bermata dua. Keuntungan ekonomi makro memang penting bagi kemajuan bangsa. Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap biaya ekologis dan sosial yang harus kita bayar.

Pemerintah wajib memperketat regulasi lingkungan dan keselamatan kerja. Jangan sampai mimpi menjadi raja baterai dunia justru mewariskan lingkungan yang rusak dan tangisan anak cucu di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun
Harta Pejabat Tak Sesuai LHKPN Bisa Dirampas? Ini Usulan Wakil Ketua KPK
Api Masih Mengintai di Lahan Gambut, 17.942 Hektare Karhutla Belum Padam
Kapal Bawa 1,16 Ton Ketamin, Kapolri Ingatkan Modus Narkotika Cair lewat Vape
Izin Tambang Emas PT KEL di Nabire Dicabut, Satgas Temukan Pelanggaran
25.338 Titik Panas Terdeteksi di Enam Provinsi, Kalteng Terbanyak
Sengketa Lahan Summarecon Berujung Dugaan Suap, KPK Telusuri Uang Rp800 Juta
Aduan Warga Berujung Razia Kalibata City, 45 WNA Jalani Pemeriksaan Imigrasi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:03 WIB

Harta Pejabat Tak Sesuai LHKPN Bisa Dirampas? Ini Usulan Wakil Ketua KPK

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Api Masih Mengintai di Lahan Gambut, 17.942 Hektare Karhutla Belum Padam

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Kapal Bawa 1,16 Ton Ketamin, Kapolri Ingatkan Modus Narkotika Cair lewat Vape

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Izin Tambang Emas PT KEL di Nabire Dicabut, Satgas Temukan Pelanggaran

Berita Terbaru

Tren busana Gothic Lolita Jepang kian populer di Eropa. Simak lonjakan penjualan Atelier Pierrot dan kemeriahan acara tea party di Berlin. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Selasa, 27 Okt 2026 - 08:00 WIB

Kepolisian Turki menemukan lonceng perdamaian hadiah dari Jepang yang sempat dicuri di Yalova. Simak rincian penangkapan pelaku. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Selasa, 27 Okt 2026 - 07:14 WIB