RIYADH, POSNEWS.CO.ID – Ambisi besar Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 sedang menghadapi ujian realitas ekonomi. Laporan terbaru menyebutkan bahwa proyek pembangunan stadion-stadion megah di kerajaan tersebut mengalami penundaan signifikan.
Penyebab utamanya adalah instruksi dari Dana Investasi Publik (PIF). Lembaga pengelola kekayaan negara (sovereign wealth fund) itu meminta pengurangan biaya proyek secara drastis.
Sumber industri mengungkapkan bahwa beberapa firma arsitektur ternama telah menerima permintaan revisi. Pasalnya, desain awal mereka dinilai terlalu mewah dan mahal. Akibatnya, kontraktor yang seharusnya mulai bekerja tahun depan mendapat pemberitahuan bahwa pembangunan tidak akan dimulai tepat waktu.
Spekulasi Pengurangan Jumlah Stadion
Kondisi ini memicu spekulasi liar di kalangan industri konstruksi. Beredar kabar, Arab Saudi mungkin akan mengurangi jumlah stadion yang akan mereka gunakan.
Dalam dokumen penawaran (bidding) yang FIFA setujui Desember lalu, Saudi menjanjikan 15 stadion. Namun, realisasi angka tersebut kini diragukan. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2022 di Qatar hanya menggunakan delapan stadion.
Rencana awal Saudi mencakup pembangunan stadion di empat kota utama: Riyadh, Jeddah, Al Khobar, dan Abha. Selain itu, satu stadion futuristik direncanakan berdiri di Neom, mega-proyek kota vertikal “The Line”.
Harga Minyak Anjlok, Anggaran Dipangkas
Akar permasalahan bermuara pada kondisi keuangan PIF. Meskipun sangat kaya, dana PIF masih sangat bergantung pada pendapatan minyak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sayangnya, harga minyak dunia sedang lesu akibat penurunan permintaan global dan kelebihan pasokan OPEC. Perusahaan minyak negara, Aramco, bahkan baru saja menurunkan harga jualnya bulan ini.
Imbasnya, PIF mengumumkan rencana pemotongan belanja setidaknya 20 persen pada tahun 2025. Mega-proyek hiburan dan pariwisata seperti Qiddiya City dan Diriyah sudah mulai merasakan dampaknya lebih dulu.
“Business as Usual” atau Lampu Kuning?
Meskipun demikian, pihak PIF berusaha menenangkan situasi. Mereka menganggap penyesuaian ini sebagai hal yang wajar dalam bisnis (business as usual).
Mereka berargumen bahwa waktu masih panjang. Piala Dunia baru akan digelar sembilan tahun lagi, yakni pada November dan Desember 2034. Oleh karena itu, keputusan kunci masih bisa berubah seiring waktu.
Sumber internal Saudi mengonfirmasi bahwa belanja olahraga tetap menjadi prioritas. Akan tetapi, beberapa proyek stadion kemungkinan besar akan terkena dampak efisiensi.
Firma arsitektur kelas dunia seperti Foster + Partners (Inggris) dan Populous (AS) yang terlibat dalam desain kini harus memutar otak. Jika mereka gagal menyajikan penghematan biaya yang signifikan, kontrak mereka terancam melayang ke tangan pesaing yang lebih murah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















