DHAKA, POSNEWS.CO.ID – Kekerasan kembali pecah di jantung ibu kota Bangladesh, Dhaka. Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan dengan amarah yang meluap pada Jumat (20/12/2025) dini hari.
Pemicu kerusuhan ini adalah kabar duka dari Singapura. Sharif Osman Hadi (32), tokoh pemimpin pemuda dalam pemberontakan pro-demokrasi 2024, meninggal dunia di rumah sakit.
Hadi sebelumnya menjadi korban percobaan pembunuhan. Nahasnya, penyerang bertopeng menembaknya saat ia keluar dari masjid di Dhaka pada 12 Desember lalu. Meskipun dokter di Singapura telah berjuang keras, nyawa kandidat parlemen itu tidak tertolong.
Kantor Berita Dibakar, Wartawan Terjebak
Kematian Hadi memicu gelombang anarki. Massa menargetkan gedung-gedung vital di ibu kota. Seketika, api melahap kantor dua surat kabar terbesar di negara itu, The Daily Star dan Prothom Alo.
Para pengunjuk rasa menuduh kedua media tersebut bersekutu dengan negara tetangga, India. Akibatnya, puluhan staf dan wartawan terjebak di dalam gedung yang terbakar.
Zyma Islam, seorang reporter Daily Star, menulis pesan putus asa di media sosial. “Saya tidak bisa bernapas lagi. Asap terlalu banyak. Saya di dalam. Kalian membunuhku,” tulisnya.
Petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api pada Jumat dini hari. Beruntung, mereka bisa menyelamatkan 27 karyawan yang sempat berlindung di bagian belakang gedung sambil mendengar teriakan slogan dari massa yang marah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sentimen Anti-India Memanas
Kemarahan massa tidak hanya menyasar media. Mereka juga mengepung rumah wakil duta besar India untuk Bangladesh. Lantas, polisi terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang mencoba melakukan aksi duduk.
Faktanya, Hadi dikenal sebagai kritikus vokal terhadap India. Negara tetangga tersebut saat ini menjadi tempat perlindungan bagi mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina yang terguling tahun lalu.
Selain di Dhaka, kekerasan juga menjalar ke kota lain seperti Chattogram. Massa menyerang kediaman mantan menteri dan memblokir jalan raya utama. Bahkan, pusat kebudayaan Bengali “Chhayanaut” turut menjadi sasaran amuk massa.
Pemerintah Sementara Berduka
Di tengah kekacauan, pemerintahan sementara pimpinan peraih Nobel Muhammad Yunus mencoba menenangkan situasi. Yunus menyebut kematian Hadi sebagai kehilangan yang tak tergantikan bagi bangsa.
“Perjalanan negara menuju demokrasi tidak dapat dihentikan melalui ketakutan, teror, atau pertumpahan darah,” tegas Yunus dalam pidato di televisi.
Pemerintah mengumumkan hari berkabung setengah hari dan doa khusus di masjid-masjid. Sementara itu, kepolisian meluncurkan perburuan besar-besaran. Mereka merilis foto dua tersangka utama dan menawarkan hadiah 5 juta taka (sekitar $42.000) bagi informasi yang mengarah pada penangkapan pembunuh Hadi.
PBB Desak Investigasi
Dunia internasional merespons dengan kekhawatiran. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker TĂĽrk, mendesak ketenangan dan penyelidikan yang transparan.
“Saya mendesak pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan yang cepat, tidak memihak, dan menyeluruh,” kata TĂĽrk.
Kini, Bangladesh berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Pemilihan umum nasional dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026. Namun, dengan meninggalnya tokoh kunci dan memanasnya suhu politik, jalan menuju kotak suara tampaknya akan penuh dengan kerikil tajam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















