Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Suntikan opini yang mematikan logika. Melalui teori Jarum Hipodermik, kita membedah alasan psikologis di balik kerentanan manusia terhadap hoaks di tengah banjir informasi digital saat ini. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Suntikan opini yang mematikan logika. Melalui teori Jarum Hipodermik, kita membedah alasan psikologis di balik kerentanan manusia terhadap hoaks di tengah banjir informasi digital saat ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa pesan singkat yang tidak masuk akal sering kali menyulut amarah massal dalam sekejap? Di tahun 2026, meskipun tingkat literasi digital meningkat, penyebaran hoaks justru semakin agresif dan sulit untuk kita bendung.

Ilmu komunikasi menawarkan penjelasan klasik melalui Hypodermic Needle Theory. Oleh karena itu, memahami mekanisme “suntikan” pesan ini menjadi sangat penting agar kita tidak menjadi korban manipulasi opini yang dapat memecah belah masyarakat.

Sejarah Teori: Audiens sebagai Target Pasif

Harold Lasswell merumuskan teori ini pada era 1920-an setelah mengamati efektivitas propaganda selama Perang Dunia I. Para peneliti masa itu memandang media massa layaknya jarum suntik raksasa. Pasalnya, mereka percaya bahwa media mampu menembakkan pesan langsung ke dalam otak audiens tanpa ada perlawanan.

Sebagai salah satu contoh, siaran radio War of the Worlds pada tahun 1938 menyebabkan kepanikan massal di Amerika Serikat. Ribuan orang percaya bahwa alien sedang menyerang bumi hanya karena mendengarkan drama radio yang terdengar mirip berita asli. Dengan demikian, teori ini menetapkan premis bahwa media sangat perkasa, sementara manusia merupakan penerima informasi yang pasif dan mudah petugas kendalikan.

Baca Juga :  KPK Bongkar Modus Eks Sekjen Kemnaker Tampung Uang Suap Lewat Rekening Keluarga

Kondisi Krisis: Saat Logika Menyerah pada Emosi

Mengapa teori ini seolah menemukan nyawa baru di era modern? Jawabannya terletak pada kondisi psikologis masyarakat saat menghadapi krisis, baik itu pandemi, gejolak ekonomi, maupun polarisasi politik.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, otak manusia secara alami mencari informasi apa pun yang mampu meredakan kecemasan. Sayangnya, mekanisme ini sering kali mengabaikan verifikasi fakta. Alhasil, individu cenderung menelan mentah-mentah narasi yang selaras dengan rasa takut atau harapan mereka. Bahkan, emosi intensitas tinggi seperti kemarahan atau kejutan bertindak sebagai “pelicin” yang mempercepat masuknya pesan hoaks ke dalam keyakinan seseorang tanpa melalui proses filter logika yang sehat.

Kritik Modern: Apakah Kita Masih “Pasif”?

Banyak pakar komunikasi modern mengkritik Teori Jarum Hipodermik karena meremehkan kecerdasan manusia. Teori-teori baru seperti Uses and Gratifications berargumen bahwa audiens sebenarnya sangat aktif dalam memilih informasi yang ingin mereka konsumsi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun demikian, realitas di tahun 2026 menunjukkan sisi lain. Meskipun kita merasa aktif memilih, algoritma media sosial justru menciptakan “jarum hipodermik” yang jauh lebih canggih. Oleh sebab itu, kita tidak lagi petugas suntik secara massal dengan pesan yang sama, melainkan petugas suntik secara personal berdasarkan data perilaku kita. Personalisasi ini membuat pesan tersebut terasa sangat nyata dan personal, sehingga filter kritis kita justru semakin melemah karena merasa informasi tersebut “benar” bagi diri kita sendiri.

Baca Juga :  Kekuatan Meme dalam Politik

Membangun Tameng Literasi

Teori Jarum Hipodermik mungkin sudah berusia seabad, namun prinsip dasarnya tetap menghantui ruang digital kita. Kita tidak boleh lagi memandang diri kita sebagai penerima pesan yang kebal terhadap manipulasi.

Pada akhirnya, solusi utama bukanlah dengan mematikan teknologi, melainkan dengan memperkuat filter internal. Menumbuhkan kebiasaan untuk selalu mempertanyakan sumber, mencari penyeimbang opini, dan menahan diri sebelum membagikan informasi adalah langkah kecil yang krusial. Hanya dengan bersikap aktif dan kritis, kita dapat memastikan bahwa “jarum” disinformasi tidak akan pernah mampu menembus pertahanan logika kita demi menjaga integritas sosial bangsa di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Buron Narkoba Koh Erwin Dibekuk Bareskrim Polri di Perairan Asahan, Nyaris Lolos ke Malaysia
Budaya Over-Sharing di Media Sosial: Ketika Privasi Menjadi Komoditas Publik
Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran
Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi
Kim Jong Un dan Ju Ae Tampil Serasi dengan Jaket Kulit
Anak Riza Chalid Dihukum 15 Tahun, Hakim Bebankan Uang Pengganti Rp2,9 Triliun
Pramono Anung Siapkan LPDP Jakarta, Target 100 Penerima Beasiswa pada 2027
Krisis Demografi Jepang: Angka Kelahiran 2025 Sentuh Titik Terendah dalam 126 Tahun

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 13:49 WIB

Buron Narkoba Koh Erwin Dibekuk Bareskrim Polri di Perairan Asahan, Nyaris Lolos ke Malaysia

Jumat, 27 Februari 2026 - 13:21 WIB

Budaya Over-Sharing di Media Sosial: Ketika Privasi Menjadi Komoditas Publik

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:17 WIB

Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:10 WIB

Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:06 WIB

Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi

Berita Terbaru

Ilustrasi, Suntikan opini yang mematikan logika. Melalui teori Jarum Hipodermik, kita membedah alasan psikologis di balik kerentanan manusia terhadap hoaks di tengah banjir informasi digital saat ini. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik

Jumat, 27 Feb 2026 - 12:17 WIB

Penyempitan jalur minyak ilegal. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap puluhan entitas dan kapal

INTERNASIONAL

Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran

Jumat, 27 Feb 2026 - 11:10 WIB

Pesan dari Pyongyang. Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae, mengenakan jaket kulit yang identik saat mengawasi parade militer besar, memperkuat persepsi publik bahwa sang remaja sedang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan Korea Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi

Jumat, 27 Feb 2026 - 10:06 WIB