WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Apakah kita benar-benar hidup di tengah kepunahan massal keenam? Para ekolog sering menggambarkan skenario kiamat ini. Namun, tantangan besar muncul untuk membuktikannya secara empiris. Masalah utamanya adalah ketiadaan gambaran jelas mengenai perubahan kehidupan di masa lalu. Kita bahkan tidak tahu pasti jumlah spesies hari ini atau laju kepunahannya secara presisi.
Maka, para ilmuwan menciptakan Paleobiology Database untuk mengisi celah informasi tersebut. Proyek ini menjadi gudang informasi daring untuk setiap fosil temuan manusia. Banyak pihak menjuluki proyek ambisius ini sebagai “Proyek Genom Manusia” versi biodiversitas. Tujuannya adalah merekam sejarah keanekaragaman hayati Bumi. Data ini memberikan wawasan tentang pengaruh lingkungan terhadap kehidupan di masa lalu dan masa depan.
Kritik dan Tantangan: Seberapa Akurat Catatan Fosil?
Proyek ini memicu kritik keras dari sejumlah ahli meski terdengar menjanjikan. Mereka berpendapat bahwa kualitas basis data bergantung pada data yang masuk ke dalamnya. Catatan fosil tetap tidak lengkap meski para ilmuwan mengatalogkan semua temuan saat ini. Kita masih belum menemukan setiap spesies yang pernah terfosilisasi di Bumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa skeptis juga menyoroti adanya “lubang” dan bias dalam catatan fosil. Makhluk laut dengan bagian tubuh keras lebih mudah meninggalkan jejak sejarah. Sebaliknya, organisme lunak seperti ubur-ubur atau jamur sangat sulit terlacak. Namun, John Alroy dari National Center for Ecological Analysis and Synthesis menilai catatan fosil sebagai alat terbaik saat ini. Data ini membantu kita memahami mekanisme diversitas dan kepunahan di masa normal.
Temuan Mengejutkan: Teori “Multi-Storey Car Park”
Ilmuwan telah memasukkan hampir 340.000 spesimen ke dalam database ini sejak tahun 1998. Data tersebut mencakup berbagai jenis kehidupan, mulai dari tumbuhan purba hingga dinosaurus. Situs resminya memperbarui informasi ini setiap jam agar publik dapat mengaksesnya secara bebas.
Temuan mengejutkan menunjukkan bahwa biodiversitas mencapai titik jenuh atau plateau jutaan tahun lalu. Hal ini membantah pandangan tradisional mengenai peningkatan jumlah spesies secara terus-menerus. Alroy mengibaratkan kapasitas Bumi sebagai tempat parkir bertingkat. Ceruk (niche) yang tersedia bagi makhluk hidup bersifat terbatas. Spesies baru tidak bisa masuk jika tempat parkir sudah penuh. Hanya peristiwa kepunahan yang bisa membebaskan ruang baru bagi kehidupan lain. Peristiwa katastropik langka bahkan dapat “menambahkan lantai baru” pada kapasitas planet ini.
Bias Taksonomi dan Duplikasi Nama
Database ini juga mengungkap masalah serius dalam klasifikasi spesies. Analisis Alroy menunjukkan bahwa ketidakteraturan taksonomi menggelembungkan jumlah spesies hingga 44%. Para peneliti sering memberikan nama berbeda untuk spesies yang sama. Kesalahan identifikasi atau kurangnya komunikasi antarnegara sering kali memicu hal ini.
Repetisi nama semacam ini dapat mendistorsi kurva biodiversitas global secara signifikan. Sebagai contoh, sekitar 31% mamalia fosil Amerika Utara kemungkinan besar adalah duplikat data. Jika tidak segera diperbaiki, “kekacauan nama” ini akan terus menyesatkan analisis ilmiah mengenai sejarah kehidupan.
Menatap Masa Depan: Proyek ALL Species
Di sisi lain, upaya dokumentasi spesies yang masih hidup juga tengah berjalan di San Francisco. ALL Species Foundation ingin menginventarisasi seluruh spesies di Bumi dalam 25 tahun ke depan. Biolog legendaris Edward O. Wilson menilai informasi ini sangat mendesak.
Menurut Wilson, kita sedang berada dalam krisis kepunahan dengan laju yang sangat tinggi. Daftar lengkap biodiversitas saat ini menjadi kunci penting untuk melindungi kehidupan. Kita perlu membandingkan data spesies hidup dengan data sejarah dari Paleobiology Database untuk melihat gambaran besar kerusakan ekosistem.
Benchmark untuk Masa Kini
Pada akhirnya, Paleobiology Database memberikan kita sebuah “benchmark” atau tolok ukur. Kita dapat mengukur seberapa buruk krisis biodiversitas saat ini secara relatif melalui data sejarah. Proyek ini bukan sekadar tentang menghitung tulang belulang masa lalu. Ini adalah upaya untuk memahami aturan main planet Bumi dalam mempertahankan kehidupan. Kita harus mengetahui apakah aktivitas manusia telah melanggar aturan tersebut secara permanen.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












