Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adaptasi energi di tengah perang. Korea Selatan mengalihkan ketergantungan impor naphtha dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna mengamankan bahan baku industri petrokimia saat konflik Iran melumpuhkan jalur pasokan tradisional. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

Adaptasi energi di tengah perang. Korea Selatan mengalihkan ketergantungan impor naphtha dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna mengamankan bahan baku industri petrokimia saat konflik Iran melumpuhkan jalur pasokan tradisional. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Konflik berkepanjangan di Iran memaksa Korea Selatan merombak total strategi pengadaan bahan baku industrinya. Saat ini, Amerika Serikat muncul sebagai mitra utama pemasok naphtha. Bahan baku ini sangat krusial bagi industri petrokimia Negeri Ginseng tersebut.

Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya merilis laporan terbaru pada Kamis. Amerika Serikat menyumbang porsi terbesar impor naphtha Korea Selatan sebesar 24,7 persen. Beberapa negara lain menyusul di posisi berikutnya. India memasok 23,2 persen, Aljazair 14,5 persen, Uni Emirat Arab (UEA) 10,2 persen, dan Yunani 4,5 persen.

Pergeseran Drastis dari Dominasi Timur Tengah

Negara-negara Teluk sangat mendominasi peta pasokan naphtha Korea Selatan sebelum perang pecah. Saat itu, Amerika Serikat hanya menempati peringkat ketujuh dalam daftar importir.

Data historis menunjukkan posisi pertama sebelumnya milik Uni Emirat Arab. Aljazair, Qatar, Kuwait, dan India menyusul di belakangnya. Namun, blokade dan risiko pengiriman di Selat Hormuz memicu percepatan diversifikasi. “Amerika Serikat menjadi sumber impor terbesar karena kemudahan keamanan pasokan. Selain itu, ketersediaan komoditas dari sana jauh lebih stabil,” ujar Yang Ghi-wuk, Wakil Menteri Keamanan Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya.

Baca Juga :  11 Gajah Sumatera Amuk Mess PT Arara Abadi Siak, Anak Gajah Terperosok Septic Tank

Stabilitas Pasokan dan Dukungan Kebijakan

Pemerintah Korea Selatan merasa optimis terhadap stabilitas pasokan naphtha domestik bulan depan. Upaya diversifikasi berkelanjutan dan berbagai langkah dukungan kebijakan membuahkan hasil. Pemerintah berharap industri petrokimia tidak akan mengalami kekurangan bahan baku yang signifikan.

Korea Selatan memproyeksikan pasokan naphtha bulan Mei mencapai 90 persen dari level sebelum perang. Selain itu, perusahaan petrokimia besar mulai memperluas operasi pabrik mereka. Langkah ini sejalan dengan lancarnya aliran pasokan baru. “Pihak industri menyamai volume kontrak Maret hanya dalam setengah bulan di April ini,” tambah Yang.

Tantangan Masa Depan: Harga vs Struktur

Pemerintah tetap mengambil sikap waspada meskipun impor dari AS melonjak. Yang Ghi-wuk menyatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan adanya perubahan struktural permanen.

Baca Juga :  Netflix Caplok Warner Bros Discovery Senilai Rp1.300 Triliun, Era Baru Streaming Dimulai

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasar naphtha sangat sensitif terhadap pergerakan harga global. Faktor biaya kemungkinan mendorong perusahaan meninjau ulang sumber pasokan jika stabilitas kembali ke Timur Tengah. Di samping itu, Seoul mulai mengimpor bahan baku petrokimia dasar dalam jumlah besar dari China sebagai mitigasi tambahan.

Menjaga Ketahanan Energi Industri

Korea Selatan membuktikan kelincahan ekonominya dalam menghadapi guncangan geopolitik. Mereka berhasil mengalihkan ketergantungan energinya ke Amerika Serikat. Di tahun 2026 ini, ketahanan industri petrokimia bergantung pada inovasi pemerintah dan swasta dalam mencari sumber daya aman.

Masyarakat industri kini memantau keberlanjutan diversifikasi ini. Kemitraan energi dengan Amerika Serikat memberikan “napas” bagi industri manufaktur Korea Selatan. Hal ini sangat penting di tengah bara konflik Timur Tengah yang belum kunjung padam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Tiba di Monas Naik Maung, Joget Bareng Buruh di May Day 2026
Diplomasi Beijing-Brussel: China Ajak Belgia Redam Ketegangan Dagang
May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan – Prabowo Janjikan Kejutan
Banjir Bogor Hari Ini, Kali Cibeber Meluap – 168 Warga Citeureup Terdampak
Tabrakan KA Bekasi Timur, Polisi Periksa Manajemen Green SM – Kasus Naik Penyidikan
Sayap Tradisi di Langit Delhi: Menjaga Kabootarbaazi
Prakiraan Cuaca Hari Ini, Jabodetabek Diguyur Hujan – Waspada Petir dan Angin Kencang
Sedikitnya 358 Orang Dieksekusi di Bawah Rezim Kim Jong Un

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:00 WIB

Prabowo Tiba di Monas Naik Maung, Joget Bareng Buruh di May Day 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:11 WIB

Diplomasi Beijing-Brussel: China Ajak Belgia Redam Ketegangan Dagang

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:32 WIB

May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan – Prabowo Janjikan Kejutan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB

Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:55 WIB

Banjir Bogor Hari Ini, Kali Cibeber Meluap – 168 Warga Citeureup Terdampak

Berita Terbaru

Adaptasi energi di tengah perang. Korea Selatan mengalihkan ketergantungan impor naphtha dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna mengamankan bahan baku industri petrokimia saat konflik Iran melumpuhkan jalur pasokan tradisional. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB