Burger Jangkrik dan Daging Laboratorium: Menu Makan Siang Kita di Masa Depan?

Rabu, 21 Januari 2026 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lupakan mobil terbang. Tantangan terbesar masa depan adalah isi piring kita. Saat harga daging sapi meroket, jangkrik dan alga siap mengambil alih meja makan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lupakan mobil terbang. Tantangan terbesar masa depan adalah isi piring kita. Saat harga daging sapi meroket, jangkrik dan alga siap mengambil alih meja makan. Dok: Istimewa.

AMSTERDAM, POSNEWS.CO.ID – Ketika membayangkan masa depan, kita sering terbuai oleh visi mobil terbang dan hoverboard. Namun, kita jarang merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang akan kita makan nanti?

Para futurolog makanan dan ilmuwan di seluruh dunia telah meneliti prospeknya, dan sekilas, hasilnya mungkin membuat selera makan Anda hilang.

Satu hal yang pasti, menurut futurolog makanan Morgaine Gaye, adalah daging akan kembali menjadi barang mewah. Di Barat, generasi tumbuh dengan daging murah dan berlimpah. Namun, tren itu berakhir. Harga pakan ternak naik, lahan menipis.

“Saat harga beternak naik, kita akan makan lebih sedikit daging sapi,” kata Profesor Sheenan Harpaz dari Volcani Centre di Israel. Lalu, apa gantinya?

Makanan Fungsional: Kustomisasi Genetik

Jawabannya mungkin terletak pada rekayasa genetika. Yoram Kapulnik, direktur Volcani Centre, memprediksi industri makanan akan bergeser dari “bentuk” ke “fungsi”.

Di masa depan yang padat penduduk, kita akan mengandalkan “makanan fungsional” yang dimodifikasi secara genetik untuk memberikan nilai tambah spesifik. Bayangkan makanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan pria, wanita, atau lansia secara presisi.

Baca Juga :  Ribuan Pelajar Keracunan MBG di Jawa Barat, Fortusis Tuntut Program Dihentikan

“Begitu kita memiliki gambaran lengkap tentang genom manusia, kita akan tahu cara membuat makanan yang lebih memenuhi kebutuhan kita,” jelas Kapulnik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Yuck Factor”: Tantangan Makan Serangga

Namun, teknologi saja tidak cukup. Kita butuh sumber protein riil. Ilmuwan menunjuk kandidat yang mengejutkan: serangga.

“Mereka sangat bergizi,” ujar Arnold van Huis, penulis utama laporan PBB tentang Serangga yang Dapat Dimakan. Peneliti di Universitas Wageningen, Belanda, mengonfirmasi bahwa serangga penuh protein dan setara dengan daging biasa.

Meski wajar di Asia dan Afrika, Barat masih jijik. Solusinya? Penyamaran. Jangkrik dan belalang harus digiling menjadi tepung untuk bahan burger. Proyek WinFood di Kenya dan Kamboja sudah membuktikan keberhasilannya, dan Belanda kini gencar berinvestasi dalam legislasi peternakan serangga.

Hutan Alga dan Daging Tanpa Hewan

Kandidat kedua adalah alga. Dr. Craig Rose dari Seaweed Health Foundation menyebut alga sebagai solusi sempurna karena tiga alasan:

  1. Fleksibel: Tumbuh di air tawar dan asin (hemat lahan darat).
  2. Cepat: Tumbuh dengan kecepatan yang tidak tertandingi tanaman lain.
  3. Variatif: Ada 10.000 jenis rumput laut dengan rasa baru.
Baca Juga :  Gas Suntik Meresahkan Warga, Polres Metro Bekasi Tindak Pelaku Oplosan LPG Subsidi 3 Kg

Lebih hebat lagi, alga bisa menghasilkan biofuel untuk mengurangi jejak karbon. Ilmuwan di Universitas Sheffield Hallam bahkan sukses mengganti garam dalam roti dengan butiran rumput laut yang lebih sehat tanpa merusak rasa.

Opsi terakhir adalah daging buatan laboratorium (lab-grown meat). Pada 2012, ilmuwan Belanda sukses memproduksi daging sintetis dari sel punca sapi.

Manfaat lingkungannya luar biasa: hemat air, energi, dan tanpa penyiksaan hewan. Satu-satunya kendala saat ini adalah harga. Burger buatan pertama di Universitas Maastricht pada 2013 menelan biaya fantastis €250.000 (sekitar Rp4 miliar). Namun, seiring waktu, harga itu dipastikan akan turun, membawa fiksi ilmiah ke piring makan kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars
Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Panggil Eks Menag Yaqut Hari Ini
Pembicaraan Teknis Greenland dengan AS Dimulai, Tensi Mereda

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB

Ilustrasi, Riset membuktikan: loyalitas pada merek masa kecil bertahan hingga 50 tahun. Migran di AS dan India lebih memilih produk mahal dari daerah asal daripada alternatif lokal yang murah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:11 WIB