TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan antara Washington dan Teheran mencapai level baru yang berbahaya pada hari Kamis (22/1). Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengumumkan pergerakan kekuatan militer besar-besaran ke arah Iran.
Berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat kembali dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump tidak menutupi manuver tersebut.
“Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah sana untuk berjaga-jaga. Kami memiliki armada besar (flotilla) yang menuju ke arah sana. Dan kita akan lihat apa yang terjadi,” ujar Trump.
Ia menambahkan penekanan pada skala kekuatan tersebut. “Kami memiliki armada. Kami memiliki armada masif yang menuju ke arah itu, dan mungkin kami tidak harus menggunakannya. Kita lihat saja,” katanya, menyiratkan ancaman sekaligus ketidakpastian.
Iran: “Jangan Salah Hitung”
Pernyataan Trump segera mendapat balasan sengit dari Teheran. Mohammad Pakpour, kepala komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pakpour mendesak musuhnya untuk “menahan diri dari kesalahan perhitungan apa pun”. Ia memperingatkan bahwa kesalahan langkah akan berujung pada “nasib yang lebih menyakitkan dan memicu penyesalan”.
Sang komandan menegaskan kesiapan tempur pasukannya. “Pasukan Iran memiliki jari di pelatuk, lebih siap dari sebelumnya, dan siap melaksanakan perintah dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei,” tegas Pakpour.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bayang-bayang Kerusuhan Berdarah
Ketakutan akan serangan AS meningkat seiring dengan gejolak domestik di Iran. Selama protes Desember-Januari, Trump sempat mengancam akan melakukan intervensi jika otoritas Iran menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa. Ia bahkan menyebut AS dalam posisi “terkunci dan siap” (locked and loaded) untuk melindungi demonstran.
Pemerintah Iran secara konsisten menyalahkan AS dan Israel atas kekerasan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menuduh ancaman AS memberi insentif kepada “komplotan” untuk mengejar strategi “pertumpahan darah maksimum”.
Pemimpin Tertinggi Khamenei juga menyerang Trump secara personal dalam pernyataan televisi Sabtu lalu. Ia menyebut presiden AS itu sebagai “kriminal” atas korban jiwa dan kerusakan yang menimpa bangsa Iran.
Data Korban Jiwa: 3.117 Tewas
Laporan terbaru dari stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, pada hari Rabu mengungkap skala tragedi tersebut. Sebanyak 3.117 orang tewas selama kerusuhan.
Laporan tersebut mengklasifikasikan 2.427 dari korban tewas sebagai “warga sipil tak berdosa dan pasukan keamanan,” memperkuat narasi pemerintah bahwa kerusuhan tersebut merupakan serangan terorganisir, bukan sekadar protes damai.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















