Akhir Perburuan Desmond Freeman: Buronan Paling Dicari di Australia Tewas Ditembak Polisi

Selasa, 31 Maret 2026 - 16:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengejaran tujuh bulan berakhir. Kepolisian Victoria berhasil melumpuhkan Desmond Freeman, buronan yang membunuh dua petugas polisi, mengakhiri salah satu operasi perburuan terbesar dalam sejarah Australia. Dok: Istimewa.

Pengejaran tujuh bulan berakhir. Kepolisian Victoria berhasil melumpuhkan Desmond Freeman, buronan yang membunuh dua petugas polisi, mengakhiri salah satu operasi perburuan terbesar dalam sejarah Australia. Dok: Istimewa.

VICTORIA, POSNEWS.CO.ID – Operasi perburuan terbesar di Australia akhirnya mencapai titik akhir pada Senin pagi. Kepolisian Victoria secara resmi mengonfirmasi kematian Desmond Freeman, buronan yang paling dicari karena pembunuhan dua orang perwira polisi tahun lalu.

Dalam konteks ini, petugas terpaksa melepaskan tembakan mematikan di sebuah properti di wilayah timur laut Victoria. Langkah tegas tersebut mengakhiri pelarian Freeman yang telah berlangsung selama tujuh bulan di medan pegunungan yang sangat berat.

Kronologi Penangkapan dan Pengejaran Masif

Desmond Freeman, yang akrab dengan panggilan “Dezi”, menghilang ke dalam semak-semak yang lebat sejak Agustus tahun lalu. Ratusan polisi melakukan pengejaran tanpa henti melalui medan yang terjal. Oleh karena itu, otoritas keamanan mengerahkan sumber daya yang luar biasa besar guna memastikan ancaman Freeman berakhir.

“Seorang pria telah ditembak mati oleh polisi sebagai bagian dari operasi pencarian Desmond Freeman,” bunyi pernyataan resmi Kepolisian Victoria. Bahkan, kepolisian sempat menawarkan hadiah sebesar Aus$1 juta ($685.000) bagi siapa saja yang memberikan informasi mengenai keberadaan Freeman. Angka ini merupakan nilai imbalan terbesar yang pernah pemerintah Australia tawarkan.

Baca Juga :  Banjir Bandang Terjang Kepulauan Sitaro, 9 Orang Tewas dan 5 Masih Hilang

Profil Pelaku: Teori Konspirasi dan “Warga Berdaulat”

Media lokal menggambarkan Freeman sebagai sosok yang berbahaya dengan kemampuan bertahan hidup di alam liar yang mumpuni. Selain itu, ia dikenal sebagai penganut teori konspirasi dan anggota gerakan “warga berdaulat”. Kelompok ini secara keliru meyakini bahwa mereka tidak tunduk pada hukum negara.

Lebih lanjut, dokumen pengadilan mengungkap kebencian mendalam Freeman terhadap aparat keamanan. Ia sering melontarkan hinaan kasar dengan menyebut polisi sebagai “Nazi” atau “preman teroris”. Akibatnya, polisi mengklasifikasikan Freeman sebagai individu yang bersenjata dan sangat agresif, yang kemungkinan besar mendapatkan bantuan dari simpatisan lokal untuk menghindari penangkapan.

Tragedi Agustus: Gugurnya Dua Perwira Polisi

Pelarian Freeman bermula dari sebuah penggerebekan di rumahnya di desa Porepunkah. Saat itu, tim investigasi yang mencakup unit kejahatan seksual dan anak melakukan penggeledahan resmi. Namun, Freeman justru melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah petugas yang datang.

Baca Juga :  Hujan Sedang Mengguyur Jabodetabek 29–30 Januari, BMKG Ingatkan Potensi Genangan

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Insiden tersebut menewaskan detektif Neal Thompson (59) dan sersan senior Vadim De Waart (35). Satu petugas lainnya juga menderita luka tembak di bagian bawah tubuh. Oleh sebab itu, Asosiasi Polisi Victoria menegaskan bahwa hari ini bukan tentang mengenang seorang pengecut. “Kami akan mengingat keberanian dan kegigihan para anggota kami yang gugur demi melindungi masyarakat,” tegas perwakilan asosiasi tersebut.

Menutup Luka Komunitas Victoria

Masa depan keamanan di wilayah pedesaan Victoria kini diharapkan kembali stabil pasca-tewasnya Freeman. Pada akhirnya, keberhasilan operasi ini membuktikan ketangguhan sistem penegakan hukum Australia terhadap ancaman kekerasan terencana.

Dengan demikian, masyarakat kini dapat bernapas lega setelah berbulan-bulan hidup dalam bayang-bayang ancaman bersenjata. Tragedi ini juga kembali memicu diskusi mengenai efektivitas pengawasan terhadap kelompok-kelompok radikal anti-pemerintah di tahun 2026. Dunia internasional kini memuji profesionalisme Kepolisian Australia dalam menyelesaikan kasus yang sangat kompleks ini tanpa jatuh korban sipil tambahan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, MPR Desak Evaluasi dan Penarikan Pasukan UNIFIL
Uang Palsu Rp620 Juta Digerebek di Hotel Kemang Bogor, Satu Pelaku Ditangkap
Mutilasi Freezer Bekasi Terungkap, Korban Dibunuh karena Tolak Ajakan Mencuri
Pakistan Tawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Perundingan AS-Iran di Tengah Eskalasi Total
Cuaca Ekstrem Hantam 4 Daerah di Jateng dan Jabar, Ratusan KK Terdampak
Ketua KMT Cheng Li-wun Terima Undangan Xi Jinping ke Beijing
Spanyol Boikot Militer AS: Tutup Ruang Udara dan Larang Penggunaan Pangkalan untuk Perang Iran
Misteri Mutilasi Freezer di Bekasi Terbongkar, Motif Ekonomi dan Pelaku Bertambah

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:26 WIB

3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, MPR Desak Evaluasi dan Penarikan Pasukan UNIFIL

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:15 WIB

Uang Palsu Rp620 Juta Digerebek di Hotel Kemang Bogor, Satu Pelaku Ditangkap

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:59 WIB

Mutilasi Freezer Bekasi Terungkap, Korban Dibunuh karena Tolak Ajakan Mencuri

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:39 WIB

Pakistan Tawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Perundingan AS-Iran di Tengah Eskalasi Total

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:36 WIB

Cuaca Ekstrem Hantam 4 Daerah di Jateng dan Jabar, Ratusan KK Terdampak

Berita Terbaru