PHNOM PENH, POSNEWS.CO.ID – Beijing menunjukkan keseriusannya dalam meredakan ketegangan di Asia Tenggara. Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri China untuk Urusan Asia, Deng Xijun, baru saja menyelesaikan misi diplomatik maraton di Thailand dan Kamboja.
Selama kunjungan dari 18 hingga 23 Desember, Deng membawa pesan damai yang mendesak. China bersedia menciptakan kondisi dan menyediakan platform bagi dialog bilateral antara kedua tetangga yang bertikai tersebut.
Langkah “diplomasi ulang-alik” (shuttle diplomacy) ini diambil menyusul bentrokan berdarah di perbatasan yang tak kunjung usai. Dalam misinya, Deng bertemu langsung dengan petinggi kedua negara, termasuk Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul.
“China sangat prihatin dengan situasi saat ini dan sangat sedih atas korban jiwa serta pengungsian yang terjadi,” ujar Deng. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa prioritas paling mendesak adalah mencapai gencatan senjata segera.
Dukungan untuk ASEAN dan Misi Pengamat
Posisi China cukup strategis. Deng menegaskan dukungan Beijing terhadap upaya mediasi ASEAN. Bahkan, China mendukung peran penting misi pengamat ASEAN untuk memantau gencatan senjata di lapangan.
“Kami berharap Kamboja dan Thailand akan bertemu di tengah jalan, bekerja sama memulihkan rasa saling percaya,” harap Deng.
Respons dari kedua belah pihak cukup positif. Thailand dan Kamboja mengapresiasi upaya China yang mereka nilai objektif dan tidak memihak. Lantas, kedua negara menyatakan kesediaan untuk menjaga komunikasi erat dengan Beijing demi de-eskalasi ketegangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Thailand menghargai peran China dalam memfasilitasi peredaan ketegangan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Meskipun upaya diplomatik berjalan intensif, realitas di lapangan masih memilukan. Data terbaru menunjukkan lonjakan jumlah korban jiwa yang signifikan.
Juru bicara pertahanan Kamboja melaporkan bahwa korban tewas warga sipil di pihaknya telah naik menjadi 21 orang setelah 17 hari konflik. Parahnya lagi, Kementerian Dalam Negeri Kamboja mencatat sekitar 545.000 warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Di sisi lain, Thailand juga menderita kerugian besar. Militer mengumumkan 22 tentara gugur dalam tugas. Selain itu, data Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand menunjukkan 38 warga sipil tewas akibat konflik ini.
Totalnya, konflik ini telah merenggut setidaknya 81 nyawa manusia dari kedua belah pihak.
Pertemuan Lanjutan 24 Desember
Upaya regional juga terus bergulir. Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN telah terlaksana di Kuala Lumpur pada Senin lalu. Forum tersebut menyerukan pemulihan kepercayaan dan kembalinya jalur dialog.
Menindaklanjuti hal itu, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyambut baik dimulainya kembali diskusi.
“Kami akan membahas rincian gencatan senjata lebih lanjut pada pertemuan lain dengan Kamboja tanggal 24 Desember,” ungkap Sihasak.
Kini, harapan perdamaian di perbatasan kuil Preah Vihear bergantung pada keberhasilan pertemuan besok. Jika gagal, penderitaan setengah juta pengungsi akan terus berlanjut di tengah ketidakpastian nasib mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















