Cuaca Ekstrem Meningkat, BNPB Lanjutkan Modifikasi Cuaca hingga 3 Februari

Sabtu, 31 Januari 2026 - 07:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesawat BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menekan curah hujan ekstrem di wilayah Jabodetabek. (Posnews/BPBD DKI)

Pesawat BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menekan curah hujan ekstrem di wilayah Jabodetabek. (Posnews/BPBD DKI)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jabodetabek hingga 3 Februari 2026.

BNPB mengambil langkah ini untuk menekan dampak cuaca ekstrem yang berpotensi meningkat.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan, operasi modifikasi cuaca terus berjalan dengan menyesuaikan eskalasi ancaman cuaca ekstrem yang dipantau setiap hari.

“Rencana sampai 3 Februari 2026, menyesuaikan situasi dan kondisi ancaman cuaca yang ada,” ujar Suharyanto kepada wartawan, Sabtu (31/1/2026).

Saat ini, BNPB mengerahkan empat pesawat untuk mendukung operasi OMC. Sebelumnya, BNPB telah menggelar modifikasi cuaca di Jabodetabek sejak 12 Januari 2026 dengan satu pesawat.

Baca Juga :  Ramalan Zodiak Rabu 3 Desember 2025: Gemini Jadi Bintang, Scorpio Awas Jebakan Emosi

Namun, seiring meningkatnya ancaman cuaca ekstrem berdasarkan rekomendasi BMKG, BNPB menambah tiga pesawat pada 23 Januari 2026.

Penambahan armada dilakukan dengan menggeser pesawat yang sebelumnya bertugas untuk OMC bencana di tiga provinsi di Sumatera.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sehingga total armada BNPB menjadi empat pesawat yang masih beroperasi hingga 31 Januari 2026, dan akan kami evaluasi apakah dihentikan atau diperpanjang kembali,” jelas Suharyanto.

BNPB menempatkan dua pesawat di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, dan dua pesawat lainnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Selain itu, BPBD DKI Jakarta menambah satu pesawat Cassa TNI AU yang mulai beroperasi sejak pagi hari.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Jabodetabek Minggu 25 Januari 2026, Hujan Guyur Seluruh Wilayah

Dalam pelaksanaannya, BNPB telah mencatat 152 sortie penerbangan. Total bahan semai yang digunakan mencapai 83,2 ton Natrium Klorida (NaCl) dan 49 ton Kalsium Oksida (CaO).

Sementara itu, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyebut operasi OMC di Jabodetabek berjalan cukup efektif.

Ia mencatat intensitas curah hujan menurun hingga 35 persen. “Jabodetabek berkurang 35 persen,” kata Budi.

Meski demikian, BMKG menegaskan ancaman cuaca ekstrem masih berlanjut. Berdasarkan data klimatologi dan historis, puncak musim hujan di Jabodetabek justru terjadi pada Februari.

“Masih. Secara klimatologi, wilayah Jabodetabek memasuki puncak musim hujan pada Februari,” pungkasnya. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bandar Sabu Samarinda Dibekuk, Omzet Jaringan Capai Rp630 Miliar
Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Hasil Hisab Rukyat Kemenag
Motor Dirampas Usai Kecelakaan, Polisi Selidiki Video Viral di Tambora
Pedagang Kurban Dilarang Pakai Trotoar di Jakarta, Satpol PP Perketat Patroli
Mengapa Terapi Gen Menjadi Pengobatan Masa Depan?
Viral Penculikan di Cakung, Korban Disekap di Showroom dan Dikeroyok, 2 Pelaku Dibekuk
Mengapa Beberapa Wilayah Memiliki Populasi Tertua di Dunia?
Adaptasi Genetik: Bisakah Spesies Bertahan dari Kepunahan?

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 04:35 WIB

Bandar Sabu Samarinda Dibekuk, Omzet Jaringan Capai Rp630 Miliar

Minggu, 17 Mei 2026 - 18:30 WIB

Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Hasil Hisab Rukyat Kemenag

Minggu, 17 Mei 2026 - 18:07 WIB

Motor Dirampas Usai Kecelakaan, Polisi Selidiki Video Viral di Tambora

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:53 WIB

Pedagang Kurban Dilarang Pakai Trotoar di Jakarta, Satpol PP Perketat Patroli

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:28 WIB

Mengapa Terapi Gen Menjadi Pengobatan Masa Depan?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Menulis ulang kode kehidupan. Kemajuan dalam pemetaan genom dan teknologi penyuntingan CRISPR membawa harapan baru bagi penyembuhan penyakit bawaan, sembari memicu perdebatan etika terdalam dalam sejarah peradaban manusia. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Mengapa Terapi Gen Menjadi Pengobatan Masa Depan?

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:28 WIB