Dosa Kuliner: Siapa Penentu Rasa Otentik?

Jumat, 31 Oktober 2025 - 15:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari pizza nanas hingga karbonara krim, di mana batas antara inovasi brilian dan penistaan warisan kuliner? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari pizza nanas hingga karbonara krim, di mana batas antara inovasi brilian dan penistaan warisan kuliner? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Coba katakan carbonara pakai krim di depan orang Italia, atau sarankan rendang dimasak setengah matang. Kemungkinan besar, Anda akan memicu perdebatan sengit. Di era internet, kontroversi kuliner seperti penggunaan nanas di atas pizza atau keju di dalam sushi bisa meledak menjadi perang digital.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: Siapa sebenarnya yang berhak menentukan standar rasa “otentik”? Mengapa sebagian orang merasa perlu menjadi “polisi rasa” bagi hidangan yang mereka klaim sebagai warisan budayanya?

Polisi Rasa dan Penjaga Warisan

Bagi banyak orang, makanan bukan sekadar bahan bakar; itu adalah identitas. Resep “asli” adalah tautan langsung ke sejarah, keluarga, dan nonna (nenek) mereka. Oleh karena… itu, ketika seseorang dari luar budaya tersebut mengubah resep ikonik—seperti menambahkan krim ke carbonara yang aslinya hanya menggunakan guanciale, telur, dan keju pecorino—orang-orang tidak menganggapnya sebagai inovasi. Mereka merasakannya sebagai penghapusan sejarah atau pelecehan terhadap warisan.

Baca Juga :  Zulhas Tutup SPPG Bermasalah, Dari 8.549 Dapur MBG Baru 34 Punya Sertifikat SLHS

Para “polisi rasa” ini seringkali bertindak karena rasa protektif yang kuat terhadap identitas budaya mereka. Di dunia yang terglobalisasi, di mana segala sesuatu mudah orang tiru dan modifikasi, menjaga resep “asli” adalah cara untuk mempertahankan keunikan budaya mereka.

Makanan Tak Pernah Diam

Namun, argumen tandingan untuk kaum puritan ini sangat kuat: makanan tidak pernah diam. Makanan selalu berevolusi.

Fakta sejarah terbesar yang sering orang abaikan adalah bahwa banyak bahan “tradisional” justru merupakan hasil dari pertukaran global. Sebagai contoh, tomat. Kita menganggap tomat sebagai jantung masakan Italia, tetapi tomat baru tiba di Italia dari benua Amerika pada abad ke-16. Cabai, yang mendefinisikan masakan Thailand atau India, juga berasal dari Amerika Selatan. Ini membuktikan bahwa resep “otentik” yang kita kenal hari ini sebenarnya adalah hasil fusion dari masa lalu.

Baca Juga :  Bom Waktu Demografi: Dampak Ekonomi Menua di Asia Timur bagi Dunia

Batas Antara Inovasi dan Perusakan

Lalu, di mana batas antara inovasi kuliner yang brilian dan perusakan warisan budaya? Jawabannya, sayangnya, tidak pernah jelas dan sangat subjektif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Inovasi seperti sushi isi keju krim (Philadelphia roll) mungkin orang anggap sebagai “dosa” di Tokyo, tetapi hidangan itu berhasil membuka pintu bagi jutaan orang di Barat untuk mencintai sushi. Pada akhirnya, debat ini mungkin sehat. Diskusi antara kaum puritan dan inovator inilah yang menjaga warisan kuliner tetap hidup, relevan, dan terus berevolusi, alih-alih hanya menjadi artefak museum yang kaku.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars
Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Panggil Eks Menag Yaqut Hari Ini
Pembicaraan Teknis Greenland dengan AS Dimulai, Tensi Mereda

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB

Ilustrasi, Riset membuktikan: loyalitas pada merek masa kecil bertahan hingga 50 tahun. Migran di AS dan India lebih memilih produk mahal dari daerah asal daripada alternatif lokal yang murah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:11 WIB