JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Coba katakan carbonara pakai krim di depan orang Italia, atau sarankan rendang dimasak setengah matang. Kemungkinan besar, Anda akan memicu perdebatan sengit. Di era internet, kontroversi kuliner seperti penggunaan nanas di atas pizza atau keju di dalam sushi bisa meledak menjadi perang digital.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan: Siapa sebenarnya yang berhak menentukan standar rasa “otentik”? Mengapa sebagian orang merasa perlu menjadi “polisi rasa” bagi hidangan yang mereka klaim sebagai warisan budayanya?
Polisi Rasa dan Penjaga Warisan
Bagi banyak orang, makanan bukan sekadar bahan bakar; itu adalah identitas. Resep “asli” adalah tautan langsung ke sejarah, keluarga, dan nonna (nenek) mereka. Oleh karena… itu, ketika seseorang dari luar budaya tersebut mengubah resep ikonik—seperti menambahkan krim ke carbonara yang aslinya hanya menggunakan guanciale, telur, dan keju pecorino—orang-orang tidak menganggapnya sebagai inovasi. Mereka merasakannya sebagai penghapusan sejarah atau pelecehan terhadap warisan.
Para “polisi rasa” ini seringkali bertindak karena rasa protektif yang kuat terhadap identitas budaya mereka. Di dunia yang terglobalisasi, di mana segala sesuatu mudah orang tiru dan modifikasi, menjaga resep “asli” adalah cara untuk mempertahankan keunikan budaya mereka.
Makanan Tak Pernah Diam
Namun, argumen tandingan untuk kaum puritan ini sangat kuat: makanan tidak pernah diam. Makanan selalu berevolusi.
Fakta sejarah terbesar yang sering orang abaikan adalah bahwa banyak bahan “tradisional” justru merupakan hasil dari pertukaran global. Sebagai contoh, tomat. Kita menganggap tomat sebagai jantung masakan Italia, tetapi tomat baru tiba di Italia dari benua Amerika pada abad ke-16. Cabai, yang mendefinisikan masakan Thailand atau India, juga berasal dari Amerika Selatan. Ini membuktikan bahwa resep “otentik” yang kita kenal hari ini sebenarnya adalah hasil fusion dari masa lalu.
Batas Antara Inovasi dan Perusakan
Lalu, di mana batas antara inovasi kuliner yang brilian dan perusakan warisan budaya? Jawabannya, sayangnya, tidak pernah jelas dan sangat subjektif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inovasi seperti sushi isi keju krim (Philadelphia roll) mungkin orang anggap sebagai “dosa” di Tokyo, tetapi hidangan itu berhasil membuka pintu bagi jutaan orang di Barat untuk mencintai sushi. Pada akhirnya, debat ini mungkin sehat. Diskusi antara kaum puritan dan inovator inilah yang menjaga warisan kuliner tetap hidup, relevan, dan terus berevolusi, alih-alih hanya menjadi artefak museum yang kaku.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















