Deklarasi Perang Terbuka: Pakistan Bombardir Markas Taliban di Afghanistan

Jumat, 27 Februari 2026 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecahnya garis perbatasan. Pakistan meluncurkan serangan udara ke jantung kekuatan Taliban di Kandahar, memicu aksi balasan masif dan eksodus ratusan ribu pengungsi di tengah bulan suci Ramadan. Dok: Istimewa.

Pecahnya garis perbatasan. Pakistan meluncurkan serangan udara ke jantung kekuatan Taliban di Kandahar, memicu aksi balasan masif dan eksodus ratusan ribu pengungsi di tengah bulan suci Ramadan. Dok: Istimewa.

ISLAMABAD, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Pakistan dan Afghanistan resmi runtuh setelah Islamabad melancarkan operasi militer skala besar semalam. Menteri Pertahanan Pakistan menyebut tindakan tersebut sebagai awal dari konfrontasi militer total.

“Cangkir kesabaran kami telah meluap. Sekarang adalah perang terbuka antara kami dan Anda,” tegas Khawaja Muhammad Asif pada Jumat pagi. Serangan terkoordinasi ini melibatkan jet tempur dan artileri berat guna menghancurkan infrastruktur militer Taliban di sepanjang perbatasan sepanjang 2.600 kilometer.

Serangan Udara di Kabul dan Kandahar

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi bahwa pasukan udara Pakistan menghantam beberapa titik strategis di ibu kota Kabul, serta wilayah Kandahar dan Paktia. Video yang beredar menunjukkan kobaran api besar melalap bangunan yang otoritas sebut sebagai markas besar Taliban.

Warga di Kabul melaporkan suara ledakan dahsyat yang diikuti oleh deru mesin jet tempur dan sirine ambulans sepanjang malam. Pemerintah Pakistan berdalih bahwa operasi ini merupakan serangan balasan atas provokasi militer Afghanistan sebelumnya. Juru bicara pemerintah, Mosharraf Zaidi, mengeklaim pihaknya berhasil melumpuhkan 133 pejuang Taliban dan menghancurkan 27 pos militer dalam satu malam.

Baca Juga :  Polda Sulsel Tetapkan 29 Tersangka Kasus Pembakaran Gedung DPRD Sulsel dan DPRD Makassar

Tuduhan Perlindungan Militan dan TTP

Akar konflik ini bersumber dari tuduhan lama Islamabad bahwa pemerintahan Taliban memberikan perlindungan bagi kelompok militan Tehreek-e-Taliban (TTP). Pakistan meyakini bahwa TTP menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis untuk meluncurkan teror di kota-kota besar Pakistan.

Namun demikian, pihak Taliban secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa masalah keamanan Pakistan merupakan urusan internal yang tidak berkaitan dengan kedaulatan Afghanistan. Ketegangan semakin meruncing setelah Pakistan melancarkan serangan udara ke kamp-kamp TTP awal pekan ini, yang menurut Kabul telah menewaskan 13 warga sipil tidak bersalah.

Baca Juga :  Jepang Rem Overtourism: Aturan Ekowisata Diperketat untuk Pertama Kali Sejak 2008

Ancaman Batalion Pengebom Bunuh Diri

Situasi keamanan di kawasan kini berada pada tingkat bahaya tertinggi. Media pemerintah Afghanistan di Nangarhar merilis gambar yang mereka sebut sebagai batalion pengebom bunuh diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laporan intelijen menyebutkan bahwa para penyerang telah dilengkapi dengan rompi peledak dan bom mobil untuk menyerang target-target vital di pusat kota Pakistan. Oleh karena itu, otoritas Pakistan kini memberlakukan status siaga satu guna mengantisipasi eskalasi serangan teror sebagai bentuk balasan Taliban.

Pada akhirnya, pecahnya perang terbuka ini mengancam stabilitas seluruh kawasan Asia Selatan. Masyarakat internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri, namun retorika keras dari Islamabad menunjukkan bahwa Pakistan tidak akan berhenti sebelum ancaman militansi di perbatasan benar-benar tuntas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Tangkap Mantan Suami Pembunuh Wanita di Pondok Pakulonan Serpong
Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia: Infrastruktur vs Kesiapan Masyarakat
PC vs Laptop di Era Kerja Remote: Mana yang Lebih Worth It untuk Jangka Panjang?
Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?
5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam
49 Siswa MTs di Cilegon Keracunan Usai Menyantap MBG, Polisi Selidiki Dapur SPPG
Panduan Membangun Smart Home Budget Minimalis: Mulai dari Mana?
Suami Bunuh Istri 17 Tahun di Minahasa Tenggara, Cemburu Berujung Maut

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 15:28 WIB

Polisi Tangkap Mantan Suami Pembunuh Wanita di Pondok Pakulonan Serpong

Jumat, 17 April 2026 - 15:04 WIB

Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia: Infrastruktur vs Kesiapan Masyarakat

Jumat, 17 April 2026 - 14:58 WIB

PC vs Laptop di Era Kerja Remote: Mana yang Lebih Worth It untuk Jangka Panjang?

Jumat, 17 April 2026 - 12:40 WIB

Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?

Jumat, 17 April 2026 - 11:32 WIB

5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam

Berita Terbaru

Ilustrasi, Benteng digital yang retak. Di tahun 2026, metode peretasan telah berevolusi menggunakan kecerdasan buatan, membuat kebiasaan lama kita tidak lagi cukup untuk melindungi identitas dan aset finansial di ruang siber. Dok: Istimewa.

NETIZEN

5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam

Jumat, 17 Apr 2026 - 11:32 WIB