Diplomasi di Balik Layar: Trump Tunda Serangan Listrik demi Negosiasi

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sinyal perdamaian atau manipulasi pasar? Presiden Donald Trump menunda ancaman penghancuran jaringan listrik Iran selama lima hari karena alasan

Sinyal perdamaian atau manipulasi pasar? Presiden Donald Trump menunda ancaman penghancuran jaringan listrik Iran selama lima hari karena alasan "negosiasi produktif", namun Teheran menyebut klaim tersebut sebagai berita palsu. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengambil langkah mengejutkan dengan menunda ancaman serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran pada hari Senin. Trump mengeklaim bahwa Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan yang “sangat kuat dan produktif” untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Dalam konteks ini, penundaan selama lima hari tersebut bertujuan memberikan ruang bagi para negosiator. Trump menginstruksikan utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner, untuk memimpin dialog dengan pihak Iran. “Kita sedang berurusan dengan orang-orang yang sangat masuk akal,” ujar Trump kepada wartawan di Florida.

Kontradiksi Teheran: Qalibaf Sebut “Berita Palsu”

Namun, pernyataan optimistis Trump segera menghadapi tembok besar di Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf—yang disebut-sebut sebagai lawan bicara utama AS—memberikan bantahan melalui media sosial X. Ia menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington.

Sebaliknya, Qalibaf menuduh pemerintah Amerika Serikat menyebarkan berita palsu guna memanipulasi pasar keuangan. Ia menyatakan bahwa rakyat Iran tetap menuntut hukuman berat bagi para agresor. Selain itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) melabeli pernyataan Trump sebagai “operasi psikologis” usang yang tidak akan menyurutkan perlawanan mereka.

Baca Juga :  Kanal Erie: Ide Gila yang Mengubah New York

Dampak Ekonomi: Harga Minyak Terjun Bebas

Sinyal de-eskalasi dari Gedung Putih memberikan dampak instan pada ekonomi dunia. Harga minyak mentah Brent merosot tajam sebesar 10,92 persen menjadi $99,94 per barel. Penurunan ini membalikkan tren lonjakan harga yang terjadi selama akhir pekan akibat ancaman serangan energi.

Oleh karena itu, para investor melihat penundaan serangan ini sebagai peluang untuk stabilisasi pasar. Indeks saham di Wall Street juga mencatat kenaikan signifikan setelah pengumuman tersebut. Meskipun demikian, analis pasar tetap waspada karena fluktuasi harga sangat bergantung pada realisasi hasil pembicaraan di lapangan.

Pakistan sebagai Pusat Mediasi Baru

Diplomasi regional kini bergeser ke arah Timur. Seorang pejabat Pakistan mengungkapkan rencana pertemuan tingkat tinggi di Islamabad pekan ini. Pertemuan tersebut kabarnya akan melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner bersama delegasi dari Iran.

Baca Juga :  Laporan Fed New York Ungkap Konsumen AS Tanggung Biaya Terbesar

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berdiskusi dengan PM Pakistan Shehbaz Sharif mengenai dampak perang terhadap keamanan global. Pihak Mesir, Oman, dan negara-negara Teluk juga berperan aktif dalam menyampaikan pesan antar-negara. Upaya kolektif ini menunjukkan bahwa meskipun ada bantahan publik, jalur komunikasi melalui pihak ketiga tetap terbuka lebar.

Posisi Israel dan Kelanjutan Operasi Militer

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi komunikasinya dengan Trump pada hari Senin. Israel tampaknya akan mengikuti langkah Washington untuk menunda penargetan fasilitas energi Iran. Namun, Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tetap akan melanjutkan operasi tempur di Lebanon dan wilayah Iran lainnya.

Pada akhirnya, dunia kini menanti hasil dari tenggat waktu lima hari yang Trump berikan. Keberhasilan mediasi di Islamabad akan menjadi kunci utama untuk mencegah kehancuran permanen infrastruktur vital di Timur Tengah. Jika diplomasi ini gagal, maka risiko kiamat energi global kembali membayangi tatanan dunia di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mandat Kekuatan Militer: Bahrain Ajukan Resolusi PBB untuk Amankan Selat Hormuz
Kim Jong Un Labeli Korea Selatan Musuh Utama dan Perkuat Nuklir Tanpa Batas
Tragedi Udara Kolombia: 66 Prajurit Tewas dalam Kecelakaan Hercules C-130 di Perbatasan Peru
Uni Eropa dan Australia Sahkan Perjanjian Dagang Bebas di Tengah Krisis Energi
China Petakan Dasar Samudra Global demi Keunggulan Kapal Selam
Menggugat Kekosongan Hukum bagi Pengungsi Lingkungan
Mengapa Litium Menjadi Minyak Baru dalam Geopolitik?
Pemberangkatan Haji 2026: Jadwal 22 April Tak Berubah Meski Konflik AS-Iran Memanas

Berita Terkait

Selasa, 24 Maret 2026 - 22:00 WIB

Mandat Kekuatan Militer: Bahrain Ajukan Resolusi PBB untuk Amankan Selat Hormuz

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:30 WIB

Diplomasi di Balik Layar: Trump Tunda Serangan Listrik demi Negosiasi

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:00 WIB

Kim Jong Un Labeli Korea Selatan Musuh Utama dan Perkuat Nuklir Tanpa Batas

Selasa, 24 Maret 2026 - 20:30 WIB

Tragedi Udara Kolombia: 66 Prajurit Tewas dalam Kecelakaan Hercules C-130 di Perbatasan Peru

Selasa, 24 Maret 2026 - 20:00 WIB

Uni Eropa dan Australia Sahkan Perjanjian Dagang Bebas di Tengah Krisis Energi

Berita Terbaru