MALANG, POSNEWS.CO.ID – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menerima kritik dan masukan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), swasembada pangan, hingga hilirisasi riset.
Dalam dialog tersebut, Dudung menegaskan pemerintah akan melibatkan kampus dan mahasiswa dalam pengawasan distribusi logistik serta edukasi gizi pada program MBG.
Mahasiswa UB, Farhan Fariz Rizqullah, menilai penyaluran MBG di sejumlah daerah belum tepat sasaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga meminta pemerintah menggandeng akademisi untuk pendampingan teknis dan memprioritaskan anggaran di wilayah dengan angka stunting serta kerentanan gizi yang tinggi.
Menanggapi hal itu, Dudung mengakui masih terdapat perbedaan kualitas pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Pemerintah juga menemukan kasus makanan yang tidak habis dikonsumsi penerima manfaat.
Karena itu, pemerintah akan mengevaluasi dan menata ulang program tersebut.
“Hal-hal seperti ini akan ditata ulang agar program benar-benar mencapai tujuannya,” kata Dudung, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, pemerintah akan fokus pada tiga hal, yakni standarisasi gizi menu, kualitas bahan pangan, dan ketepatan sasaran dengan memprioritaskan daerah rawan stunting serta wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Regenerasi Petani Disorot
Mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Naufal Syahfahlevie Samosir, menyoroti lambatnya regenerasi petani.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan 10 hingga 12 tahun untuk mencetak petani muda yang mandiri dan adaptif.
Ia menilai pembangunan sektor pertanian tidak akan maksimal tanpa strategi yang mampu menarik minat generasi muda.
Dudung menjelaskan swasembada pangan berbeda dengan swasembada beras.
Swasembada pangan bertujuan memenuhi seluruh kebutuhan pangan nasional, sedangkan swasembada beras fokus pada pemenuhan kebutuhan karbohidrat utama.
Ia juga mengakui mayoritas petani Indonesia berusia di atas 40 tahun. Karena itu, pemerintah terus mendorong modernisasi teknologi agar sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
Hilirisasi Riset Jadi Perhatian
Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, Muhammad Ziyad Husaini, menyoroti kesenjangan antara hasil riset kampus dan kebutuhan industri.
Ia meminta pemerintah memperkuat akses permodalan, pendampingan bisnis, dan ekosistem startup agar inovasi mahasiswa dapat berkembang menjadi usaha nyata.
Dudung sepakat bahwa tantangan besar Indonesia saat ini bukan hanya hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga hilirisasi sumber daya manusia.
“Banyak lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi luar biasa, tetapi saluran yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia kerja masih terbatas,” ujarnya.
Dudung memastikan seluruh hasil dialog tersebut akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan pemerintah.
Menurutnya, masukan dari kalangan akademisi penting untuk memastikan investasi pendidikan tinggi menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat dan negara. **
Editor : Hadwan












