BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Tekanan internasional terhadap kebijakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah semakin menguat. Pemerintah Tiongkok secara resmi menyatakan bahwa blokade maritim di Selat Hormuz bukan merupakan solusi bagi keamanan global.
Dalam konteks ini, Menteri Luar Negeri Wang Yi menyampaikan keberatan tersebut saat bertemu Utusan Khusus Presiden UEA di Beijing. Tiongkok memandang pencapaian gencatan senjata permanen melalui jalur politik sebagai satu-satunya jalan keluar yang logis di tahun 2026.
Tiongkok dan UEA: Arteri Energi Harus Terbuka
Juru bicara Kemenlu Tiongkok, Guo Jiakun, menekankan pentingnya menjaga keamanan koridor perdagangan internasional tersebut. Menurutnya, gangguan navigasi saat ini merupakan dampak langsung dari konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran.
Tiongkok mendesak semua pihak untuk tetap tenang dan menahan diri. Oleh karena itu, Beijing siap terus memainkan peran konstruktif guna mencegah kelumpuhan logistik energi. Di saat yang sama, Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan mulai melakukan operasi pembersihan ranjau laut yang diduga milik Garda Revolusi Iran pada 11 April kemarin.
Perlawanan Diplomatik Eropa: Pirasi dan Hukum Internasional
Respon keras juga datang dari Teheran dan ibu kota negara-negara Eropa. Militer Iran melabeli rencana blokade Amerika Serikat sebagai bentuk “bajak laut” yang melanggar hukum internasional secara terang-terangan.
Selain itu, para pemimpin Eropa menunjukkan kekhawatiran yang serupa:
- Ursula von der Leyen (Uni Eropa): Menegaskan bahwa pemulihan navigasi bersifat “paramount” atau sangat mendesak bagi ekonomi kawasan.
- Keir Starmer (Inggris): Menyatakan Inggris tidak akan terseret ke dalam konflik dan tidak mendukung blokade apa pun.
- Emmanuel Macron (Perancis): Mengonfirmasi rencana konferensi bersama Inggris guna menjamin kebebasan navigasi dengan misi yang murni bersifat defensif.
Sebagai hasilnya, blok Barat kini tampak terbelah antara strategi tekanan maksimal Trump dengan pendekatan perlindungan maritim berbasis hukum yang diusung Eropa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tantangan Perundingan: Angka $\$27$ Miliar yang Membeku
Meskipun tensi militer meningkat, upaya mediasi di balik layar tetap berjalan intensif. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa para mediator sedang mengupayakan putaran dialog baru dalam beberapa hari ke depan.
Namun, terdapat tiga batu sandungan utama yang sulit terjebak kesepakatan:
- Biaya Transit: Iran menuntut legalitas biaya lintas di selat, sementara AS menolaknya.
- Stok Uranium: Masa depan pengayaan uranium Iran yang telah mencapai tingkat tinggi.
- Aset Beku: Tuntutan Teheran atas pelepasan pendapatan senilai $\$27$ miliar yang saat ini masih tertahan akibat sanksi.
Hitungan Mundur 22 April
Masa depan stabilitas energi dunia kini bergantung pada keberhasilan diplomasi di Islamabad atau Doha sebelum 22 April mendatang. Pada akhirnya, berakhirnya masa gencatan senjata sementara ini akan menentukan apakah Timur Tengah akan kembali jatuh ke dalam perang terbuka.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau seberapa jauh Amerika Serikat bersedia melunakkan posisi tawar mereka. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, keberanian untuk berkompromi menjadi barang langka yang sangat dibutuhkan guna mencegah ledakan harga minyak yang dapat menghancurkan pasar global secara permanen.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















