Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat akibat perubahan iklim, memicu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dok: Istimewa.

Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat akibat perubahan iklim, memicu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, BRUSSELS — Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas sepanjang sejarah pencatatan akibat perubahan iklim. Benua ini memegang predikat kawasan dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Rekor Suhu dan Kekeringan Meluas

Dua bulan awal musim panas menghadirkan gelombang panas berturut-turut, suhu ekstrem, serta kondisi tanah yang sangat kering. Copernicus mencatat suhu rata-rata gabungan Eropa Barat periode ini mencapai 21,62°C, melampaui rekor 2022.

Copernicus menyebut angka tersebut mencerminkan persistensi panas yang luar biasa sepanjang musim panas tahun ini. Tingkat kelembapan tanah pun mencatatkan angka jauh lebih rendah dibanding Juli 2022, saat kekeringan parah terakhir melanda kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa, yang mengoperasikan Copernicus, menyebut fenomena ini sebagai contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperparah suhu ekstrem. Ia menekankan bahwa panas dan kekeringan kini saling memperkuat satu sama lain.

Kondisi sangat kering melanda sepanjang Juli di berbagai negara Eropa Barat dan Tengah, termasuk Prancis, Spanyol, Austria, dan Hungaria. Inggris, Irlandia, serta sebagian Islandia turut merasakan dampaknya.

Dampak pada Sungai dan Kebakaran Hutan

Kondisi panas dan kering ini turut menciptakan situasi ideal bagi kebakaran hutan. Para ilmuwan mencatat peningkatan frekuensi cuaca ekstrem pemicu kebakaran di Eropa seiring perubahan iklim.

Prancis dan Spanyol menghadapi kebakaran terburuk dalam ingatan publik musim panas ini. Kebakaran serius serupa juga melanda kawasan lain di Eropa, wilayah barat laut Amerika Serikat, dan Kanada.

Ancaman Panas di Depan Mata

Selain di daratan, Copernicus mencatat suhu permukaan laut global mencetak rekor tertinggi selama dua bulan berturut-turut pada Juli. Gelombang panas laut di sekitar Eropa serta El Nino yang tengah menguat di Pasifik mendorong fenomena ini.

Suhu rata-rata permukaan laut global Juli mencapai 20,96°C, melampaui rekor sebelumnya pada 2023. Direktur Copernicus, Carlo Buontempo, menyebut sebagian kawasan Mediterania dan Atlantik mengalami kehangatan tidak biasa, namun ia menilai El Nino menjadi faktor utama di balik rekor suhu laut tersebut.

Dalam sesi dengan wartawan pada 5 Agustus, Buontempo menyebut dunia kini menghadapi El Nino yang sangat besar, bahkan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya dari segi kekuatan. Ia menambahkan bahwa kontribusi dari Pasifik tropis kini menjadi sangat signifikan.

El Nino dan Proyeksi ke Depan

Biasanya, El Nino mencapai puncaknya menjelang akhir tahun sebelum melepaskan panas yang tersimpan di laut ke atmosfer, sehingga mendorong kenaikan suhu global. El Nino sebelumnya turut menjadikan 2023 dan 2024 sebagai tahun terpanas kedua dan pertama sepanjang sejarah.

Buontempo memperkirakan dunia akan mencatatkan rekor suhu rata-rata global baru pada akhir tahun ini atau awal 2027. Secara global, Juli lalu menempati posisi bulan Juli terpanas kedua sepanjang sejarah, dengan suhu udara permukaan rata-rata 1,47°C di atas ambang batas praindustri periode 1850-1900.

Peran Lautan dalam Mengatur Iklim

Sebelas tahun terakhir menempati posisi periode terpanas sepanjang sejarah pencatatan. Buontempo menegaskan bahwa gas rumah kaca tetap menjadi pendorong utama pemanasan ini, sebagaimana ilmuwan telah lama ketahui.

Lautan menyerap sebagian besar panas berlebih akibat emisi karbon manusia sehingga memainkan peran penting dalam mengatur iklim bumi. Namun, lautan yang semakin panas berpotensi memicu dampak berantai yang merugikan, mulai dari badai dan curah hujan yang lebih kuat hingga pemutihan terumbu karang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan
Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir
Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa
Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Berita Terbaru

Ukraina dan Rusia saling tuduh melancarkan serangan mematikan pada Minggu, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Moskow mengancam. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agu 2026 - 15:08 WIB

Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas korban jiwa akibat perang, serangan, dan aksi protes, langkah yang berpotensi mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agu 2026 - 14:00 WIB

Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat akibat perubahan iklim, memicu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Selasa, 11 Agu 2026 - 13:48 WIB