Putin Umumkan Gencatan Senjata Paskah 32 Jam

Sabtu, 11 April 2026 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Retaknya kompromi Anchorage. Rusia menuduh Donald Trump melanggar kesepakatan puncak Alaska karena menghentikan mediasi damai demi fokus pada perang Iran. Dok: Istimewa.

Retaknya kompromi Anchorage. Rusia menuduh Donald Trump melanggar kesepakatan puncak Alaska karena menghentikan mediasi damai demi fokus pada perang Iran. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Kabar gembira datang dari medan tempur Eropa Timur menjelang hari raya keagamaan. Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi mengumumkan gencatan senjata selama dua hari guna memberikan ruang bagi perayaan Paskah Ortodoks pada hari Kamis.

Dalam konteks ini, pengumuman tersebut membawa harapan bagi jutaan warga di kedua negara yang berbagi tradisi keagamaan yang sama. Langkah diplomatik ini bertujuan untuk memberikan jeda kemanusiaan di tengah konflik yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir.

Rincian Teknis dan Instruksi Militer Kremlin

Pemerintah Rusia menetapkan jadwal yang spesifik bagi penghentian permusuhan tersebut. Gencatan senjata akan berlaku mulai pukul 16.00 pada tanggal 11 April hingga akhir hari pada tanggal 12 April 2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Pertahanan Rusia, Andrei Belousov, telah menerbitkan perintah resmi kepada Kepala Staf Umum Valery Gerasimov. Secara khusus, seluruh unit militer diperintahkan untuk menghentikan tindakan militer di semua arah. Namun, Kremlin menegaskan bahwa pasukan tetap dalam status siaga guna mengeliminasi setiap potensi provokasi atau tindakan agresif dari pihak lawan selama periode tersebut.

Baca Juga :  Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Respon Zelenskyy: Peluang Menuju Perdamaian Permanen

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberikan konfirmasi melalui saluran Telegram resminya bahwa Kyiv akan mematuhi langkah tersebut. Zelenskyy mengingatkan masyarakat internasional bahwa Ukraina telah berulang kali mengusulkan langkah timbal balik serupa di masa lalu.

“Rakyat membutuhkan Paskah tanpa ancaman dan pergerakan nyata menuju perdamaian,” tegas Zelenskyy. Oleh karena itu, ia memandang jeda ini sebagai kesempatan emas bagi Rusia untuk tidak kembali meluncurkan serangan setelah perayaan usai. Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa ia telah menyampaikan tawaran melalui Amerika Serikat agar kedua pihak berhenti menargetkan infrastruktur energi masing-masing selama hari raya tersebut.

Konteks Global: Bayang-bayang Konflik Iran

Gencatan senjata Paskah ini bertepatan dengan pergeseran fokus politik global. Upaya Amerika Serikat untuk memediasi penyelesaian perang Ukraina saat ini sedang mengalami stagnasi. Hal ini terjadi karena Washington dan sekutunya harus mengalihkan sumber daya diplomatik serta militer guna menangani eskalasi perang di Iran dan wilayah Timur Tengah lainnya.

Baca Juga :  Affan Kurniawan Tewas Saat Demo, Polri Temukan Unsur Pidana

Lebih lanjut, situasi di Teluk yang kian memanas telah memicu krisis energi dunia. Akibatnya, stabilitas di Eropa Timur kini menjadi variabel yang sangat krusial guna mencegah keruntuhan ekonomi global lebih lanjut di tahun 2026. Pengamat menilai Rusia memanfaatkan momen ini guna menunjukkan gestur kemanusiaan di hadapan komunitas internasional.

Belajar dari Kegagalan Masa Lalu

Meskipun disambut positif, banyak pihak tetap bersikap skeptis terhadap efektivitas jeda 32 jam ini. Sejarah mencatat bahwa gencatan senjata serupa tahun lalu berujung pada saling tuduh atas pelanggaran di lapangan. Pada akhirnya, ketaatan penuh dari komandan lapangan di kedua belah pihak akan menjadi ujian sesungguhnya.

Dengan demikian, dunia kini memantau apakah kesunyian senjata di hari Minggu besok akan benar-benar terwujud. Keberhasilan gencatan senjata Paskah ini dapat menjadi barometer penting bagi peluang dialog komprehensif di masa depan. Rakyat di Kyiv dan Moskow kini berharap agar semangat Paskah mampu meredam ambisi militer demi keselamatan warga sipil yang telah lama menderita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi
Ribuan Pemuda Bentrok dengan Polisi di New Delhi Desak Menteri
Dua Tanker Minyak Saudi Putar Balik di Laut Merah
Marco Rubio di Manila: Ancaman Tarif Iran di Selat Hormuz
Ibrahim Traore Tegaskan Kekuasaan Tunggal di Burkina Faso
Mayor Mamdani Sebut New York Tak Bisa Tangkap Netanyahu
Diplomasi Manila: Kanada Mendesak Gencatan Senjata
Inflasi Inggris Turun ke 2,6 Persen Dorong Program Ekonomi

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:22 WIB

Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:11 WIB

Ribuan Pemuda Bentrok dengan Polisi di New Delhi Desak Menteri

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:16 WIB

Dua Tanker Minyak Saudi Putar Balik di Laut Merah

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:00 WIB

Marco Rubio di Manila: Ancaman Tarif Iran di Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 - 07:30 WIB

Ibrahim Traore Tegaskan Kekuasaan Tunggal di Burkina Faso

Berita Terbaru

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin. (Posnews/Humas PMJ)

HUKRIM

Modus Kerja di Turki, 105 WNI Dikirim Ilegal ke Libya

Jumat, 24 Jul 2026 - 17:01 WIB

Panggung politik Hungaria memanas. Mantan PM Viktor Orban merilis Pernyataan Perlawanan pasca-penggeledahan kantor partai Fidesz oleh pihak kejaksaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi

Jumat, 24 Jul 2026 - 14:22 WIB