TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran kini memainkan perjudian ekonomi yang berbahaya. Mereka mencoba memenuhi tuntutan demonstran yang kian memuncak dengan menawarkan konsesi ekonomi, sembari tetap mempertahankan cengkeraman kekuasaan.
Gelombang protes kini memasuki hari kesembilan. Faktanya, aksi massa telah menyebar ke 27 dari 31 provinsi di negara tersebut. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS melaporkan bahwa korban tewas telah melampaui angka 35 orang, termasuk empat anak-anak. Selain itu, aparat telah menangkap lebih dari 1.200 orang.
Pemicu utamanya jelas: ekonomi yang ambruk. Data resmi Senin menunjukkan inflasi mencapai 52,6% pada bulan Desember. Nilai mata uang rial runtuh, memicu kemarahan yang bermula dari pasar Teheran hingga ke lebih dari 100 kota.
Reformasi Subsidi: Obat atau Racun?
Presiden Masoud Pezeshkian mengumumkan perubahan drastis dalam sistem subsidi valuta asing. Sebelumnya, subsidi diberikan kepada importir. Kini, pemerintah akan mengalihkannya menjadi subsidi langsung ke konsumen.
Pezeshkian berdalih sistem lama memicu korupsi dan gagal membantu warga miskin. “Kami tidak menghapus subsidi, kami menyalurkannya ke konsumen akhir,” jelasnya.
Akan tetapi, langkah ini berisiko memicu kenaikan harga pangan jangka pendek. Juru bicaranya, Fatemeh Mohajerani, mengakui bahwa harga beberapa barang akan naik. Sebagai penyeimbang, parlemen sedang menggodok revisi anggaran yang mencakup kenaikan gaji hingga 43% dan pemangkasan pajak pertambahan nilai (PPN).
“Masa Basa-basi Sudah Habis”
Di sisi lain, nada bicara aparat keamanan justru semakin keras. Kepala Peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa periode “konsesi dan penenangan” bagi pengunjuk rasa telah berakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kekacauan ini. “Para perusuh harus tahu bahwa jika ada konsesi di masa lalu, tidak akan ada lagi konsesi dan penenangan seperti itu,” ancam Ejei.
Laporan lapangan melukiskan situasi yang mencekam. Polisi terlihat menyerbu Universitas Birjand dan menangkap mahasiswa. Bahkan, insiden penembakan dilaporkan terjadi di dalam rumah sakit Imam Khomeini di Ilam, memicu kemarahan tokoh reformis. Azar Mansouri dari Front Reformasi menyebut insiden itu sebagai “bencana” dan menuntut pelaku diadili.
Tekanan Internasional Meningkat
Dunia luar terus memantau dengan cemas. Donald Trump kembali bersumpah bahwa AS akan “datang menyelamatkan” jika Teheran membunuh demonstran damai secara brutal. Kementerian Luar Negeri Iran langsung membalas dengan menuduh Trump melancarkan “perang psikologis”.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar Iran menghormati hak demonstrasi damai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengklaim protes ini bisa menjadi “momen penentu” bagi nasib rakyat Iran.
Masa depan Iran kini bergantung pada satu hal krusial: apakah pembuat kebijakan mampu bermanuver di tengah sanksi ekonomi untuk menstabilkan mata uang dan meredam inflasi, sebelum kemarahan rakyat meledak tak terkendali.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















