Iran di Ujung Tanduk: Pezeshkian Tawarkan Gula-Gula Ekonomi

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Inflasi tembus 52%, Teheran coba redam amarah rakyat dengan ubah subsidi. Namun, kepala peradilan tegaskan masa

Inflasi tembus 52%, Teheran coba redam amarah rakyat dengan ubah subsidi. Namun, kepala peradilan tegaskan masa "basa-basi" sudah habis. Dok: Istimewa.

TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran kini memainkan perjudian ekonomi yang berbahaya. Mereka mencoba memenuhi tuntutan demonstran yang kian memuncak dengan menawarkan konsesi ekonomi, sembari tetap mempertahankan cengkeraman kekuasaan.

Gelombang protes kini memasuki hari kesembilan. Faktanya, aksi massa telah menyebar ke 27 dari 31 provinsi di negara tersebut. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS melaporkan bahwa korban tewas telah melampaui angka 35 orang, termasuk empat anak-anak. Selain itu, aparat telah menangkap lebih dari 1.200 orang.

Pemicu utamanya jelas: ekonomi yang ambruk. Data resmi Senin menunjukkan inflasi mencapai 52,6% pada bulan Desember. Nilai mata uang rial runtuh, memicu kemarahan yang bermula dari pasar Teheran hingga ke lebih dari 100 kota.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Reformasi Subsidi: Obat atau Racun?

Presiden Masoud Pezeshkian mengumumkan perubahan drastis dalam sistem subsidi valuta asing. Sebelumnya, subsidi diberikan kepada importir. Kini, pemerintah akan mengalihkannya menjadi subsidi langsung ke konsumen.

Baca Juga :  Karyawati Pokemon Center Tewas Ditikam Penguntit di Hadapan Publik

Pezeshkian berdalih sistem lama memicu korupsi dan gagal membantu warga miskin. “Kami tidak menghapus subsidi, kami menyalurkannya ke konsumen akhir,” jelasnya.

Akan tetapi, langkah ini berisiko memicu kenaikan harga pangan jangka pendek. Juru bicaranya, Fatemeh Mohajerani, mengakui bahwa harga beberapa barang akan naik. Sebagai penyeimbang, parlemen sedang menggodok revisi anggaran yang mencakup kenaikan gaji hingga 43% dan pemangkasan pajak pertambahan nilai (PPN).

“Masa Basa-basi Sudah Habis”

Di sisi lain, nada bicara aparat keamanan justru semakin keras. Kepala Peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa periode “konsesi dan penenangan” bagi pengunjuk rasa telah berakhir.

Ia menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kekacauan ini. “Para perusuh harus tahu bahwa jika ada konsesi di masa lalu, tidak akan ada lagi konsesi dan penenangan seperti itu,” ancam Ejei.

Baca Juga :  Wabah Hantavirus Lumpuhkan Kapal Pesiar MV Hondius

Laporan lapangan melukiskan situasi yang mencekam. Polisi terlihat menyerbu Universitas Birjand dan menangkap mahasiswa. Bahkan, insiden penembakan dilaporkan terjadi di dalam rumah sakit Imam Khomeini di Ilam, memicu kemarahan tokoh reformis. Azar Mansouri dari Front Reformasi menyebut insiden itu sebagai “bencana” dan menuntut pelaku diadili.

Tekanan Internasional Meningkat

Dunia luar terus memantau dengan cemas. Donald Trump kembali bersumpah bahwa AS akan “datang menyelamatkan” jika Teheran membunuh demonstran damai secara brutal. Kementerian Luar Negeri Iran langsung membalas dengan menuduh Trump melancarkan “perang psikologis”.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar Iran menghormati hak demonstrasi damai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengklaim protes ini bisa menjadi “momen penentu” bagi nasib rakyat Iran.

Masa depan Iran kini bergantung pada satu hal krusial: apakah pembuat kebijakan mampu bermanuver di tengah sanksi ekonomi untuk menstabilkan mata uang dan meredam inflasi, sebelum kemarahan rakyat meledak tak terkendali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer
Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza
Hakim Hukum Robert Bush 20 Tahun Penjara Akibat Penipuan

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:30 WIB

Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal

Berita Terbaru

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB

Pembelaan aturan digital anak. Pemerintah Australia mempertahankan kebijakan larangan media sosial anak di bawah 16 tahun meskipun delapan dari ten remaja masih aktif menggunakannya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agu 2026 - 07:00 WIB