Iran Membara: Mahasiswa dan Pedagang Turun ke Jalan

Rabu, 31 Desember 2025 - 05:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ambang perang terbuka. Teheran memperingatkan balasan mematikan jika Washington melancarkan serangan baru, sementara penutupan Selat Hormuz terus mencekik 20% pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ambang perang terbuka. Teheran memperingatkan balasan mematikan jika Washington melancarkan serangan baru, sementara penutupan Selat Hormuz terus mencekik 20% pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

TEHERAN – Jalanan Teheran kembali memanas. Mahasiswa dari berbagai universitas bergabung dengan pedagang pasar dan pemilik toko dalam demonstrasi besar-besaran pada Selasa (30/12/2025).

Pemicu utama kemarahan publik adalah lonjakan biaya hidup yang tak terkendali. Tercatat, mata uang Rial Iran telah kehilangan hampir separuh nilainya terhadap dolar AS sepanjang tahun 2025. Akibatnya, inflasi meroket hingga angka 42,5 persen pada bulan Desember.

Merespons hal ini, Presiden Masoud Pezeshkian mengambil langkah persuasif. Ia menginstruksikan Menteri Dalam Negeri untuk mendengarkan “tuntutan sah” para pengunjuk rasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi rencana pembentukan mekanisme dialog. “Kami secara resmi mengakui protes tersebut. Kami mendengar suara mereka,” ujarnya melalui media pemerintah.

Teriakan “Reza Shah” di Jalanan

Situasi di lapangan menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap sistem. Video yang terverifikasi Reuters memperlihatkan massa berbaris di jalanan sambil meneriakkan slogan kontroversial: “Rest in peace Reza Shah”.

Baca Juga :  Trump dan Xi Jinping Bertemu di Beijing Bahas Krisis Iran

Faktanya, slogan ini merujuk pada pendiri dinasti kerajaan yang terguling dalam Revolusi Islam 1979. Hal ini menandakan kritik tajam terhadap penguasa ulama saat ini.

Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa ratusan mahasiswa menggelar protes di empat universitas utama di Teheran. Sementara itu, media sosial dibanjiri dukungan. Warga menyebut korupsi dan harga tinggi telah membawa rakyat ke “titik ledakan”.

Sanksi AS dan Rekor Terendah Rial

Akar masalah ekonomi ini sangat kompleks. Ekonomi Iran telah terpuruk sejak AS memberlakukan kembali sanksi pada 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump. Parahnya lagi, sanksi PBB juga kembali aktif pada September lalu.

Dampaknya langsung terasa di dompet rakyat. Nilai tukar Rial menyentuh rekor terendah baru, yakni 1,4 juta rial per dolar AS di pasar gelap pada hari Selasa. Padahal, awal tahun ini nilainya masih berada di kisaran 817.500 rial.

Baca Juga :  Teori Pilihan Rasional: Mitos Pemilih Cerdas dan Ilusi Demokrasi

Inflasi tahunan juga tidak pernah turun di bawah 36,4 persen sejak Maret. Imbasnya, Kepala Bank Sentral Iran mengundurkan diri pada hari Senin. Kebijakan liberalisasi ekonomi pemerintah dituding justru menekan pasar mata uang rakyat.

Ancaman Serangan Israel dan Trump

Ketidakstabilan domestik ini terjadi di tengah ancaman eksternal yang nyata. Presiden AS Donald Trump baru saja melontarkan ancaman pada hari Senin.

Ia menyatakan mungkin akan mendukung putaran baru serangan udara Israel jika Teheran melanjutkan program rudal balistik atau nuklirnya.

Sebelumnya, AS dan Israel telah melakukan serangan udara selama 12 hari pada bulan Juni lalu. Serangan itu menargetkan instalasi militer dan nuklir Iran. Kini, pemerintah Iran harus menghadapi dua front sekaligus: tekanan sanksi dari luar dan amarah rakyat yang kelaparan dari dalam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB