JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kehadiran ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari sering kali menjadi pedang bermata dua, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan. Di satu sisi, teknologi memudahkan akses informasi keagamaan. Namun demikian, tanpa pengaturan yang ketat, perangkat tersebut justru menjadi sumber utama gangguan yang merusak kekhusyukan.
Pakar psikologi sering memperingatkan bahwa “budaya geser” (scrolling culture) pada media sosial melatih otak untuk mencari stimulasi konstan. Oleh karena itu, individu sering kali merasa gelisah atau sulit berkonsentrasi saat mencoba melakukan ibadah yang membutuhkan ketenangan durasi panjang.
Dampak Media Sosial terhadap Kualitas Ibadah
Terlalu banyak menghabiskan waktu di platform digital dapat menyebabkan kelelahan mental yang tidak kita sadari. Pasalnya, arus informasi yang tidak terbendung memaksa otak untuk terus memproses data yang sering kali tidak relevan dengan tujuan spiritual Ramadan.
Selain itu, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) sering kali membuat seseorang terus memeriksa ponsel meskipun sedang berada di lingkungan masjid. Alhasil, momen berharga untuk refleksi diri justru terbuang percuma hanya untuk memantau kehidupan orang lain secara daring. Dengan demikian, membatasi notifikasi menjadi langkah awal yang sangat krusial bagi setiap orang yang ingin meraih keberkahan maksimal.
Teknologi sebagai Pelayan, Bukan Penguasa
Kita tidak perlu sepenuhnya memusuhi teknologi. Strategi yang tepat adalah mengubah ponsel pintar menjadi alat pendukung ibadah yang efisien. Saat ini, tersedia berbagai aplikasi berkualitas yang membantu disiplin spiritual harian.
Beberapa rekomendasi alat bantu digital antara lain:
- Al-Quran Digital Terverifikasi: Memudahkan tadarus di sela waktu bekerja tanpa harus membawa mushaf fisik.
- Aplikasi Pengingat Waktu Shalat: Memberikan peringatan dini agar Anda dapat mempersiapkan diri menuju masjid lebih awal.
- Pelacak Progres Ibadah: Membantu mengevaluasi target harian seperti jumlah sedekah atau hafalan ayat baru.
Dengan mengalihkan fokus penggunaan ponsel ke arah fungsionalitas ini, Anda tetap bisa terkoneksi dengan dunia tanpa kehilangan arah tujuan spiritual.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tips “Digital Detox” di Malam-Malam Terakhir
Malam-malam terakhir Ramadan, terutama periode sepuluh hari terakhir, menuntut konsentrasi spiritual yang lebih dalam. Para ahli pengembangan diri menyarankan untuk melakukan “Detoks Digital” secara bertahap.
Langkah praktis yang dapat Anda terapkan meliputi:
- Hapus Aplikasi Hiburan Sementara: Menghapus aplikasi game atau media sosial selama satu minggu terakhir dapat memberikan ketenangan pikiran yang luar biasa.
- Terapkan Mode Jangan Ganggu (Do Not Disturb): Aktifkan mode ini mulai dari waktu berbuka hingga sahur agar interaksi digital tidak menginterupsi waktu I’tikaf.
- Ganti Layar dengan Buku Fisik: Membaca kitab atau buku pengembangan diri secara fisik membantu menenangkan saraf mata dan mempersiapkan otak untuk istirahat atau shalat malam.
Meskipun tampak menantang di awal, kebebasan dari layar akan memberikan ruang bagi hati untuk merasa lebih hadir dalam setiap doa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















