Jepang Pecahkan Rekor Anggaran: 9 Triliun Yen untuk Pertahanan

Sabtu, 27 Desember 2025 - 18:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Langkah radikal di Tokyo. Pemerintah Jepang mulai mengkaji nasionalisasi fasilitas manufaktur peralatan pertahanan, sebuah kebijakan yang memicu kekhawatiran akan kembalinya doktrin militeristik era pra-Perang Dunia II. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Langkah radikal di Tokyo. Pemerintah Jepang mulai mengkaji nasionalisasi fasilitas manufaktur peralatan pertahanan, sebuah kebijakan yang memicu kekhawatiran akan kembalinya doktrin militeristik era pra-Perang Dunia II. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Jepang kembali mengambil langkah besar dalam memperkuat postur militernya. Pemerintah secara resmi menyetujui proposal anggaran tahun fiskal 2026 pada hari Jumat (26/12/2025).

Total belanja negara mencapai rekor tertinggi, yakni 122,3 triliun yen (sekitar $781 miliar). Sorotan utama tertuju pada anggaran pertahanan yang terus merangkak naik selama 14 tahun berturut-turut.

Kali ini, angka belanja militer menembus 9,04 triliun yen. Lonjakan ini sejalan dengan dokumen kebijakan keamanan nasional revisi 2022 yang menargetkan total belanja pertahanan 43 triliun yen hingga 2027. Akibatnya, perdebatan publik mengenai arah militerisasi Jepang kembali memanas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gudang Amunisi dan Resistensi Lokal

Ke mana uang sebanyak itu akan mengalir? Secara spesifik, Kementerian Pertahanan mengalokasikan 56 miliar yen untuk proyek konstruksi gudang amunisi baru.

Pemerintah berencana membangun sekitar 130 fasilitas penyimpanan di seluruh negeri hingga tahun 2032. Saat ini, mereka telah mengidentifikasi 65 lokasi konstruksi, terutama di prefektur Hokkaido, Kyoto, Miyazaki, Kagoshima, dan Okinawa.

Baca Juga :  Polisi Selidiki Unsur Pidana Kebakaran Pabrik Pestisida Setu yang Cemari Sungai Cisadane

Namun, rencana ini menghadapi tembok resistensi lokal. Warga dan anggota majelis lokal di Kota Satsuma, Kagoshima, menyuarakan kekhawatiran serius.

“Pembangunan gudang amunisi bisa mengubah daerah kami menjadi target potensial dalam keadaan darurat,” peringat seorang anggota majelis setempat.

Rudal Hipersonik dan Pasukan Antariksa

Prioritas belanja 2026 juga mencakup modernisasi alutsista canggih. Pemerintah akan membangun sistem pertahanan pantai yang berpusat pada drone atau kendaraan udara tak berawak. Sistem ini mereka sebut sebagai “perisai”.

Selain itu, Jepang akan memborong rudal hipersonik dan rudal anti-kapal Tipe-12 yang telah ditingkatkan jangkauannya.

Perubahan besar juga terjadi pada struktur organisasi. Pasukan Bela Diri Udara Jepang (ASDF) akan berganti nama menjadi Pasukan Bela Diri Udara dan Antariksa Jepang.

Lantas, sebuah Grup Operasi Luar Angkasa baru yang terdiri dari sekitar 880 personel akan segera terbentuk. Di front selatan, Brigade ke-15 Pasukan Bela Diri Darat yang berbasis di Naha, Okinawa, akan naik status menjadi divisi penuh.

Baca Juga :  Pembela HAM Dapat Hak Imunitas, Pemerintah Siapkan Revisi UU HAM

“Pedagang Kematian” atau Kebutuhan?

Langkah agresif Tokyo menuai kritik tajam dari para ahli. Makoto Konishi, seorang komentator militer, membunyikan alarm bahaya. Menurutnya, Jepang sedang memajukan militerisasi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dengan mendorong belanja militer hingga tiga persen dari PDB.

Masahiko Yamabe, peneliti di Museum Peringatan Perdamaian Jepang, juga skeptis. Ia tidak percaya peningkatan ini bertujuan untuk perdamaian.

“Ini dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas perang Jepang. Malah, ini berpotensi menuntun negara selangkah demi selangkah menuju konflik,” tegas Yamabe.

Rakyat Tercekik Beban Biaya

Terakhir, isu pembiayaan menjadi bola panas di masyarakat. Banyak warga takut beban anggaran raksasa ini akan jatuh ke pundak mereka melalui penerbitan obligasi pemerintah atau kenaikan pajak konsumsi.

Protes pun bermunculan di jalanan. “Ini benar-benar merusak mata pencaharian rakyat,” keluh seorang demonstran kepada media.

Faktanya, ironi terjadi di lapangan. Sementara pemerintah membelanjakan triliunan yen untuk peluru dan rudal, semakin banyak warga yang kesulitan membeli kebutuhan pokok seperti beras untuk liburan akhir tahun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak
Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki
Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual
Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen
Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS
Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi
Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 13 Orang di Nizhnekamsk

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS

Berita Terbaru

Ilustrasi, langit cerah di kawasan Jakarta dan Jabodetabek saat cuaca panas pada 13 Agustus 2026.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Cuaca Jabodetabek 13 Agustus 2026 Cerah, Suhu Capai 35 Derajat

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:29 WIB

Aeon Co mengakui bahwa staf lapangan sempat mengizinkan karyawan masuk kembali ke mal yang terdampak gempa di Kumamoto. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:00 WIB