JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Konfrontasi kasus tindak pidana kekerasan seksual (TPKS) di Polda Metro Jaya pecah jadi baku hantam.
Tiga orang langsung diciduk polisi usai terlibat penganiayaan dalam insiden panas tersebut.
Peristiwa ini terjadi saat penyidik mempertemukan korban karyawati RIS dengan tersangka F dalam agenda konfrontasi, Kamis (26/3/2026).
Namun, situasi cepat memanas karena kedua pihak datang dengan pendukung masing-masing.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan penyidik sebenarnya sudah mengantisipasi potensi gesekan. Meski begitu, emosi meledak saat saksi dan tersangka bertatap muka langsung.
“Perdebatan memicu keributan hingga terjadi dugaan penganiayaan,” tegasnya, Rabu (1/4/2026).
Situasi Memanas, Polisi Bertindak Cepat
Melihat kondisi tak terkendali, penyidik langsung bergerak. Mereka menyekat dan memisahkan dua kubu untuk mencegah bentrokan meluas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah cepat itu terbukti efektif. Situasi yang sempat chaos akhirnya bisa diredam.
Tak berhenti di situ, Subdit Jatanras Ditreskrimum langsung memburu pelaku. Hasilnya, tiga orang ditangkap dan kini diproses hukum.
Dipicu Masalah Lama, Emosi Meledak
Polisi mengungkap, kericuhan bukan semata karena kasus TPKS. Ada konflik lama antara salah satu pihak dengan tersangka F yang ikut menyulut emosi.
Akibatnya, konfrontasi berubah brutal dan tak terkendali.
Selanjutnya, penyidik mengubah strategi. Korban menolak bertemu langsung dengan tersangka.
Sebagai solusi, polisi menerapkan pemeriksaan terpisah. Tujuannya jelas: menjaga keamanan dan kenyamanan semua pihak.
Kasus Lama, Baru Memanas Sekarang
Kasus ini sendiri sudah bergulir lama. Tersangka F ditetapkan sejak Juli 2025 dan sempat masuk daftar pencarian orang (DPO).
Kasus dugaan kekerasan seksual itu terjadi pada 30 Oktober 2022 di gedung DPP Bapera, Jakarta Pusat.
Hingga kini, penyidik terus menguatkan bukti. Sejumlah saksi dan ahli—mulai dari forensik hingga psikologi klinis—sudah diperiksa.
Polisi memastikan penanganan kasus berjalan profesional dan tanpa kompromi.
“Semua tahapan kami lakukan secara terukur, sekaligus menjaga situasi tetap kondusif,” tegas Budi. (red)
Editor : Hadwan



















