Kim Jong Un Labeli Korea Selatan Musuh Utama dan Perkuat Nuklir Tanpa Batas

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Garis keras Pyongyang. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan status nuklir negaranya tidak dapat diubah kembali dan secara resmi menetapkan South Korea sebagai negara paling bermusuh. Dok: Istimewa.

Foto, Garis keras Pyongyang. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan status nuklir negaranya tidak dapat diubah kembali dan secara resmi menetapkan South Korea sebagai negara paling bermusuh. Dok: Istimewa.

PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menginstruksikan penguatan kekuatan nuklir negaranya secara permanen. Selain itu, dalam pidato di hadapan parlemen pada hari Senin, Kim menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utama dan paling berbahaya bagi kedaulatan negaranya.

Dalam konteks ini, Pyongyang kini memandang statusnya sebagai negara bersenjata nuklir sebagai hal yang tidak dapat diganggu gugat. Bahkan, Kim menegaskan bahwa pencegah nuklir yang kuat sangat penting bagi keamanan nasional dan stabilitas kawasan di tahun 2026.

Menolak Disarmasi demi Keuntungan Ekonomi

Kim secara tegas menolak ide pertukaran pelucutan senjata nuklir dengan keuntungan ekonomi atau jaminan keamanan. Sebaliknya, ia mengeklaim bahwa Korea Utara telah membuktikan pilihan strategisnya untuk mempertahankan kekuatan nuklir sambil mengejar pembangunan adalah langkah yang tepat.

Oleh karena itu, ia memandang senjata nuklir sebagai instrumen yang berhasil mencegah pecahnya perang di semenanjung tersebut. Dengan demikian, militer kini dapat memfokuskan sumber daya pada pertumbuhan ekonomi, konstruksi, dan peningkatan standar hidup masyarakat. Namun, Kim tetap menuding Amerika Serikat dan sekutunya terus mengacaukan kawasan melalui pengerahan aset nuklir strategis.

Baca Juga :  Polri–Kemenhut Bersatu Padamkan Karhutla, Tangkap 83 Pelaku Pembakar Hutan

South Korea sebagai “Musuh Paling Bermusuh”

Selanjutnya, ketegangan antara dua Korea mencapai titik nadir baru melalui retorika terbaru Kim. Ia secara resmi mengakui Korea Selatan sebagai “negara paling bermusuh” di panggung global. Dalam hal ini, Kim memperingatkan Seoul bahwa setiap upaya untuk melanggar kedaulatan Korea Utara akan menghadapi balasan yang kejam tanpa ampun.

“Kami akan bertindak tanpa ragu-ragu atau menahan diri,” tegas Kim sebagaimana laporan kantor berita KCNA pada Selasa. Sebagai hasilnya, langkah ini semakin mengukuhkan kebijakan baru Pyongyang yang meninggalkan upaya reunifikasi damai yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Saat ini, analis terus memantau apakah otoritas terkait telah memasukkan pergeseran kebijakan ini ke dalam undang-undang dasar melalui amandemen terbaru.

Baca Juga :  BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Berpotensi Hujan Lebat hingga 21 Januari 2026

Rencana Ekonomi Lima Tahun dan Dukungan Rusia

Di sisi lain, Kim memaparkan prioritas ekonomi dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun yang baru. Secara khusus, pemerintah akan fokus pada modernisasi industri, peningkatan produksi batu bara, serta perluasan konstruksi perumahan nasional. Akibatnya, anggaran negara tahun 2026 kini mengalokasikan 15,8% dari total belanja untuk sektor pertahanan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlebih lagi, sesi parlemen tersebut juga mendengar pesan ucapan selamat dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin memuji kepemimpinan Kim dan berjanji untuk memperdalam kemitraan strategis komprehensif antara Moskow dan Pyongyang. Pada akhirnya, aliansi ini semakin memperkuat posisi Korea Utara di tengah isolasi internasional dan sanksi ekonomi yang masih membelenggu di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Udara Kolombia: 66 Prajurit Tewas dalam Kecelakaan Hercules C-130 di Perbatasan Peru
Uni Eropa dan Australia Sahkan Perjanjian Dagang Bebas di Tengah Krisis Energi
China Petakan Dasar Samudra Global demi Keunggulan Kapal Selam
Menggugat Kekosongan Hukum bagi Pengungsi Lingkungan
Mengapa Litium Menjadi Minyak Baru dalam Geopolitik?
Pemberangkatan Haji 2026: Jadwal 22 April Tak Berubah Meski Konflik AS-Iran Memanas
Layanan Penitipan Kendaraan Polri Diserbu Pemudik 2026, Warga Mengaku Lebih Aman
KPK Kembali Tahan Gus Yaqut di Rutan, Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru

Berita Terkait

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:00 WIB

Kim Jong Un Labeli Korea Selatan Musuh Utama dan Perkuat Nuklir Tanpa Batas

Selasa, 24 Maret 2026 - 20:30 WIB

Tragedi Udara Kolombia: 66 Prajurit Tewas dalam Kecelakaan Hercules C-130 di Perbatasan Peru

Selasa, 24 Maret 2026 - 20:00 WIB

Uni Eropa dan Australia Sahkan Perjanjian Dagang Bebas di Tengah Krisis Energi

Selasa, 24 Maret 2026 - 19:30 WIB

China Petakan Dasar Samudra Global demi Keunggulan Kapal Selam

Selasa, 24 Maret 2026 - 19:00 WIB

Menggugat Kekosongan Hukum bagi Pengungsi Lingkungan

Berita Terbaru

Menguasai medan tempur tak terlihat. China meluncurkan operasi pemantauan bawah laut raksasa di tiga samudra guna mempersiapkan navigasi kapal selam dan melumpuhkan dominasi angkatan laut Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China Petakan Dasar Samudra Global demi Keunggulan Kapal Selam

Selasa, 24 Mar 2026 - 19:30 WIB

Ilustrasi, Keamanan manusia di titik nadir. Ledakan migrasi akibat bencana alam memaksa dunia untuk mendefinisikan ulang status pengungsi, melampaui batas politik konvensional menuju perlindungan kemanusiaan yang hakiki. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menggugat Kekosongan Hukum bagi Pengungsi Lingkungan

Selasa, 24 Mar 2026 - 19:00 WIB