KKB OPM Eksekusi Banpol di Yahukimo, Tuduh Jadi Mata-Mata TNI-Polri

Senin, 8 September 2025 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasukan KKB/OPM di Papua saat melakukan patroli bersenjata di wilayah pegunungan. Foto-Istimewa

Pasukan KKB/OPM di Papua saat melakukan patroli bersenjata di wilayah pegunungan. Foto-Istimewa

PAPUA, POSNEWS.CO.ID – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) mengeksekusi seorang pria Papua yang bekerja sebagai Banpol (bantuan polisi) di Yahukimo, Papua Pegunungan. KKB menuduh korban sebagai mata-mata TNI-Polri.

Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengakui eksekusi tersebut. Ia menegaskan, siapa pun yang bekerja sama dengan aparat keamanan Indonesia akan menerima konsekuensi fatal.
“Kami ingatkan orang Papua maupun non-Papua, jangan pernah terlibat dengan militer Indonesia. Itu akan berakibat fatal,” tegas Sebby, Senin (8/9/2025).

Baca Juga :  Prabowo Tegaskan TNI Harus Jadi Benteng NKRI dan Siap Berkorban demi Keselamatan Rakyat

KKB Perketat Wilayah Operasi

Sebby menyebut pihaknya sudah menempatkan anggota KKB di berbagai kota, termasuk di sekitar wilayah operasi TNI-Polri. Ia menegaskan langkah itu memudahkan KKB mendeteksi aktivitas intelijen dan menindaknya segera.

Baca Juga :  Penggerebekan Apartemen di Tangerang: Pria Simpan Sabu, Ekstasi, Ketamin dan Pistol Rakitan

Pasukan Batalion Kanibal mengeksekusi korban di bawah komando Brigjen Elkius Kobak dan Mayor Kopitua Heluka. “Ini peringatan terakhir. Jangan ada lagi orang Papua yang terjebak dalam kerja-kerja intelijen militer Indonesia,” ujar Sebby.

Hingga kini, TNI-Polri belum mengeluarkan keterangan resmi terkait klaim KKB tersebut. Sementara itu, aparat meningkatkan patroli di Yahukimo untuk menjaga keamanan warga. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Posisi Hilal di Indonesia Belum Memenuhi Syarat MABIMS, Ini Penjelasan Kemenag
Arus Mudik Memuncak, Pelabuhan Merak Dipadati 19 Ribu Kendaraan dan 593 Ribu Penumpang
Macet Parah, One Way Cikampek–Salatiga Resmi Berlaku Pagi Ini
Koalisi Sipil Geram, Kasus Andrie Yunus Diminta Dibuka Terang di Pengadilan Umum
Prakiraan Cuaca Kamis 19 Maret 2026: Jabodetabek dan Kota Besar Diguyur Hujan Lebat
Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H Digelar Besok, Kemenag Libatkan BMKG dan BRIN
Pelabuhan Ketapang Ditutup Total Saat Nyepi 2026, Penyeberangan ke Bali Lumpuh
Remisi Nyepi 2026, 1.506 Napi Dapat Pengurangan Hukuman – 4 Langsung Bebas

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:51 WIB

Posisi Hilal di Indonesia Belum Memenuhi Syarat MABIMS, Ini Penjelasan Kemenag

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:09 WIB

Arus Mudik Memuncak, Pelabuhan Merak Dipadati 19 Ribu Kendaraan dan 593 Ribu Penumpang

Kamis, 19 Maret 2026 - 10:40 WIB

Macet Parah, One Way Cikampek–Salatiga Resmi Berlaku Pagi Ini

Kamis, 19 Maret 2026 - 05:19 WIB

Koalisi Sipil Geram, Kasus Andrie Yunus Diminta Dibuka Terang di Pengadilan Umum

Kamis, 19 Maret 2026 - 04:27 WIB

Prakiraan Cuaca Kamis 19 Maret 2026: Jabodetabek dan Kota Besar Diguyur Hujan Lebat

Berita Terbaru

Diplomasi tingkat tinggi di Gedung Putih. PM Jepang Sanae Takaichi berupaya mengamankan kepentingan energi Jepang. Saat ini perhatian Donald Trump sedang terbagi oleh konflik di Timur Tengah. Dok: Reuters.

INTERNASIONAL

Takaichi Temui Trump di Washington di Tengah Pusaran Perang Iran

Kamis, 19 Mar 2026 - 15:08 WIB