Komentar PM Takaichi soal Taiwan Dibalas Ancaman Potong Kepala

Kamis, 13 November 2025 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustasi, Taktik baru perang informasi. Biro Keamanan Nasional Taiwan meluncurkan situs pelaporan khusus guna memikat warga Tiongkok yang kecewa pada sistem pemerintahan Beijing. Dok: Istimewa.

Ilustasi, Taktik baru perang informasi. Biro Keamanan Nasional Taiwan meluncurkan situs pelaporan khusus guna memikat warga Tiongkok yang kecewa pada sistem pemerintahan Beijing. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Perang kata diplomatik antara China dan Jepang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda pada Rabu (12/11/2025). Bahkan, ketegangan ini semakin memanas setelah serangkaian komentar pedas di media pemerintah China dan munculnya seruan di Tokyo untuk mengusir seorang diplomat senior China.

Ketegangan ini bermula dari pernyataan Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, di parlemen pekan lalu.

Ucapan PM Takaichi Soal Taiwan

Dalam sebuah rapat parlemen, seorang anggota oposisi bertanya kepada Takaichi skenario apa terkait Taiwan yang akan pemerintah Jepang anggap sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” (survival-threatening situation).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Takaichi menjawab, “Jika ada kapal perang dan penggunaan kekuatan, tidak peduli bagaimana Anda memikirkannya, itu bisa merupakan situasi yang mengancam kelangsungan hidup.”

Istilah ini bukan basa-basi. Ini adalah terminologi hukum di bawah undang-undang keamanan Jepang tahun 2015. Artinya, jika situasi itu memenuhi syarat, Jepang dapat mengaktifkan Pasukan Bela Diri (militernya) untuk merespons ancaman terhadap sekutunya.

Secara historis, para pemimpin Jepang menghindari menyebut Taiwan secara spesifik dalam skenario seperti itu. Sikap ini sejalan dengan kebijakan “ambiguitas strategis” yang juga sekutu utamanya, Amerika Serikat, anut. Oleh karena itu, banyak pihak menganggap komentar Takaichi sebagai pelanggaran tradisi tersebut.

Baca Juga :  Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi

Ancaman Potong Kepala Diplomat China

Beijing bereaksi keras atas pernyataan Takaichi. Namun, eskalasi terbesar datang dari Konsul Jenderal China di Osaka, Xue Jian, pada hari Sabtu.

Melalui akun media sosial X, Xue Jian membagikan artikel berita tentang Takaichi dan menambahkan komentarnya sendiri: “kepala kotor yang menjulurkan dirinya harus dipotong”.

Sontak, Tokyo merespons dengan kemarahan. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyebut unggahan itu (yang kemudian Xue Jian hapus) “sangat tidak pantas”. Jepang segera melayangkan protes resmi ke Beijing.

Kini, beberapa tokoh politik senior di Tokyo menuntut tindakan lebih jauh. Takayuki Kobayashi, kepala kebijakan partai berkuasa, dan Kenta Izumi, anggota oposisi terkemuka, sama-sama menyerukan pengusiran diplomat Xue Jian.

Pelanggaran Serius dan Kesombongan Sejarah

Di sisi lain, China tidak tinggal diam atas pernyataan awal Takaichi. Juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara, Chen Binhua, pada Rabu (12/11) menyatakan “ketidakpuasan yang kuat dan penentangan yang tegas”.

Chen menegaskan bahwa komentar Takaichi “secara serius melanggar prinsip Satu-China dan merupakan campur tangan besar-besaran dalam urusan dalam negeri China.”

Baca Juga :  Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Lebih penting lagi, China mengaitkan komentar Takaichi dengan sejarah kelam kedua negara. Chen menekankan bahwa Jepang “memikul kesalahan sejarah terhadap rakyat China atas masalah Taiwan,” merujuk pada 50 tahun penjajahan brutal Jepang di Taiwan.

Media pemerintah China mengambil nada yang lebih agresif. CCTV menyebut pernyataan Takaichi “sangat jahat” dan telah “melewati batas”, bahkan menyamakannya dengan invasi Jepang ke Manchuria tahun 1931. Sebuah akun media sosial yang berafiliasi dengan CCTV menjuluki Takaichi “pembuat onar” dan bertanya, “Apakah kepalanya ditendang keledai?”

Reaksi Taiwan dan Sikap Takaichi

Di tengah perseteruan dua raksasa Asia Timur itu, Taiwan turut angkat bicara. Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung, memperingatkan bahwa ucapan diplomat Xue Jian sangat berbahaya. Ia khawatir komentar itu “berisiko membangkitkan sentimen anti-Jepang di kalangan rakyat China”. Ia juga merasa insiden ini tidak dapat orang anggap sebagai insiden terisolasi.

Sementara itu, PM Takaichi, yang orang kenal sebagai pendukung lama Taiwan dan “China hawk”, menolak untuk menarik kembali ucapannya. Meskipun demikian, ia mencatat bahwa ia akan “berhati-hati” dalam mengomentari skenario spesifik di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB