Vandalisme Swastika di Queens Picu Krisis Keamanan dan Politik

Selasa, 5 Mei 2026 - 08:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Simbol kebencian di ruang publik. Serangkaian aksi vandalisme antisemitisme yang menargetkan rumah warga dan tempat ibadah di Queens memicu penyelidikan kejahatan kebencian besar-besaran dan memperuncing polarisasi politik di New York City. Dok: Istimewa.

Simbol kebencian di ruang publik. Serangkaian aksi vandalisme antisemitisme yang menargetkan rumah warga dan tempat ibadah di Queens memicu penyelidikan kejahatan kebencian besar-besaran dan memperuncing polarisasi politik di New York City. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Serangan kebencian yang terang-terangan kembali mengguncang komunitas Yahudi di New York City. Pihak berwenang mengonfirmasi temuan grafiti antisemitisme, termasuk simbol swastika, yang mengotori sejumlah rumah pribadi, tempat ibadah, dan monumen bersejarah di distrik Queens.

Selain itu, insiden ini menambah daftar panjang aksi vandalisme yang menargetkan warga Yahudi di kota dengan populasi Yahudi terbesar di luar Israel tersebut. Sebelumnya, pelaku juga sering menyasar fasilitas publik seperti taman bermain dan sistem kereta bawah tanah melalui tindakan serupa.

Penodaan Memorial Kristallnacht di Forest Hills

Dalam aksi terbaru ini, pelaku mengincar wilayah Forest Hills sebagai salah satu titik paling sensitif. Mereka tidak hanya menyerang rumah-rumah warga, tetapi juga mencoret sinagoga dan plakat peringatan bagi penyintas Kristallnacht.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai catatan, Kristallnacht atau “Malam Kaca Pecah” merupakan peristiwa pogrom anti-Yahudi di Jerman Nazi pada tahun 1938. Peristiwa bersejarah tersebut mengawali penganiayaan sistematis oleh pengikut Adolf Hitler terhadap kaum Yahudi. Oleh karena itu, publik memandang penodaan terhadap plakat ini sebagai penghinaan mendalam terhadap sejarah dan martabat para korban Holocaust.

Reaksi Keras Otoritas Kota

Wali Kota New York, Zohran Mamdani, menyatakan kemarahannya melalui pernyataan resmi di media sosial. Secara tegas, Mamdani menekankan bahwa tindakan ini bukan sekadar vandalisme biasa, melainkan aksi kebencian yang sengaja bertujuan untuk menanamkan rasa takut di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Kedaulatan Digital: Menjerat Raksasa Teknologi dalam Rezim Pajak Global 2026

“Saya ngeri dan marah melihat swastika yang mengotori rumah-rumah dan sinagoga,” ujar Mamdani. Ia memastikan bahwa Satgas Kejahatan Kebencian NYPD sedang bekerja intensif untuk mengidentifikasi pelaku. Senada dengan itu, Ketua Dewan Kota New York, Julie Menin, berjanji bahwa pemerintah akan selalu membela komunitas Yahudi dan melawan segala bentuk diskriminasi.

Polemik Politik dan Lonjakan Statistik 182 Persen

Di balik penanganan hukum, insiden ini memicu perdebatan politik yang panas. Secara khusus, sebagian kelompok Yahudi menuduh Mamdani—yang menyebut Israel sebagai “rezim apartheid”—telah menyulut kenaikan sentimen antisemitisme melalui retorika politiknya. Namun, Mamdani membantah keras tuduhan tersebut.

Baca Juga :  Natalius Pigai Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak HAM Berlandaskan Nilai Pancasila

Meskipun demikian, kenyataan di lapangan memang menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data kepolisian, insiden antisemitisme melonjak drastis sebesar 182 persen antara Januari 2025 hingga Januari 2026. Selain itu, hasil jajak pendapat terbaru oleh grup Jewish Majority menunjukkan bahwa 82 persen pemilih Yahudi di New York merasa sangat khawatir dengan peningkatan rasa tidak aman di lingkungan mereka.

Menanti Keadilan di Tahun 2026

Penyebaran simbol-simbol Nazi di ruang publik New York menjadi ujian berat bagi kohesi sosial kota tersebut. Maka dari itu, masyarakat kini menanti hasil nyata dari penyelidikan NYPD guna memastikan bahwa pelaku kejahatan kebencian ini mendapatkan sanksi hukum yang setimpal.

Singkatnya, New York berada di titik kritis dalam menjaga keragaman dan keamanan warganya. Di tahun 2026 yang penuh dengan ketegangan global, kemampuan pemerintah kota untuk meredam kebencian domestik akan menjadi cerminan dari kekuatan sistem hukum dan demokrasi Amerika Serikat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ribuan Warga India Protes Kebijakan Penghapusan Daftar Pemilih
PM Kanada Dan Presiden AS Bahas Kesepakatan Perdagangan
Polisi Israel Bebaskan Tersangka Suap Pemilih, Upaya Likud
Politisi Jerman Kecam Kerusuhan Demonstrasi Pemuda
UEA Berharap Mediasi Qatar Berhasil Mencegah Konflik
167 Warga Sipil Berhasil Dievakuasi dari Oleshky Kherson
Penembakan Guncang Hiburan Malam AS Saat Halloween
Gedung Putih Siapkan Perintah Eksekutif dan Pertahanan Hukum

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 06:25 WIB

Ribuan Warga India Protes Kebijakan Penghapusan Daftar Pemilih

Selasa, 3 November 2026 - 14:21 WIB

PM Kanada Dan Presiden AS Bahas Kesepakatan Perdagangan

Selasa, 3 November 2026 - 13:11 WIB

Polisi Israel Bebaskan Tersangka Suap Pemilih, Upaya Likud

Selasa, 3 November 2026 - 12:04 WIB

Politisi Jerman Kecam Kerusuhan Demonstrasi Pemuda

Selasa, 3 November 2026 - 11:08 WIB

UEA Berharap Mediasi Qatar Berhasil Mencegah Konflik

Berita Terbaru

ATTACK SHARK merilis headset gaming nirkabel X60 dengan dock pengisi daya magnetis dan USB hub. Ketahui spesifikasi audio dan jadwal peluncurannya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

ATTACK SHARK Rilis Perangkat Dengar Bermain X60

Rabu, 4 Nov 2026 - 07:06 WIB