KYIV, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Ukraina dan Israel berada di titik kritis pada hari Selasa. Pemerintah Ukraina secara terbuka menuduh Yerusalem membiarkan impor gandum yang berasal dari hasil jarahan militer Rusia di wilayah pendudukan Ukraina.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa sebuah kapal pengangkut gandum telah tiba dan bersiap membongkar muatan di sebuah pelabuhan Israel. Zelenskyy menyebut perdagangan tersebut ilegal dan memperingatkan konsekuensi hukum yang serius bagi pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari pengapalan tersebut.
Ancaman Sanksi: “Membeli Barang Curian adalah Pidana”
Melalui unggahan di platform X, Zelenskyy menegaskan bahwa tindakan membeli barang curian merupakan tindakan yang mengandung tanggung jawab hukum di negara mana pun. “Intelijen Ukraina tengah menyiapkan sanksi yang menargetkan perusahaan dan individu yang memetik keuntungan dari pengiriman ini,” tulis Zelenskyy.
Ukraina juga berencana melakukan koordinasi dengan mitra-mitra Eropa untuk memastikan individu terkait masuk dalam daftar sanksi internasional. Kyiv mengklaim telah mengidentifikasi asal gandum tersebut serta metode penyembunyiannya, termasuk melalui pemindahan muatan antarkapal (ship-to-ship transfer) di Laut Hitam.
Respon Israel: Menolak “Diplomasi Twitter”
Yerusalem merespons tuduhan tersebut dengan sikap skeptis. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan bahwa otoritas pajak negara tersebut telah membuka investigasi terhadap kapal yang dijadwalkan bersandar di Haifa. Namun, Saar mengkritik cara Zelenskyy menyampaikan keluhannya.
Saar mencap pernyataan Zelenskyy sebagai “diplomasi Twitter” dan menyebut Ukraina tidak memberikan informasi yang cukup atau mengajukan permintaan bantuan hukum resmi. Pihak Israel mengeklaim kapal tersebut belum memasuki pelabuhan sepenuhnya dan belum menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Namun, situs pelacakan maritim MarineTraffic.com menunjukkan kapal itu sudah berada di Haifa selama beberapa hari.
Pemanggilan Duta Besar dan Protes Sistemik
Kementerian Luar Negeri Ukraina tidak tinggal diam atas penolakan Israel. Juru bicara Kemenlu Ukraina, Heorhii Tykhyi, menyatakan bahwa Kyiv telah menginformasikan kepada otoritas Israel mengenai kapal-kapal tersebut jauh sebelumnya. Menurut Tykhyi, setidaknya ada lebih dari dua kapal yang telah tiba di Israel membawa produk pertanian hasil jarahan Rusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Luar Negeri Ukraina juga telah memanggil Duta Besar Israel, Michael Brodsky, untuk menyerahkan nota protes. Kyiv memandang masalah ini sebagai isu sistemik, bukan kejadian terisolasi. Mereka menuduh Israel gagal merespons permintaan resmi untuk menahan kapal dan muatan ilegal tersebut, yang berisiko merusak kepercayaan antara kedua negara.
Dampak pada Hubungan Bilateral
Sengketa gandum ini menambah beban baru dalam hubungan Ukraina-Israel yang selama ini sering mengalami pasang surut. Kyiv mendesak Israel untuk segera menghentikan impor gandum yang mereka klaim sebagai hasil jarahan tersebut guna menjaga integritas hukum internasional.
Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, perdagangan komoditas pangan menjadi isu sensitif yang melibatkan kedaulatan negara. Jika Israel tetap membiarkan gandum tersebut masuk ke sirkulasi komersial, hubungan bilateral kedua negara diprediksi akan mengalami kemunduran signifikan di tengah upaya bersama melawan agresi militer Rusia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















