Gelombang Populisme: Ketika Emosi Mengalahkan Logika di Kotak Suara

Minggu, 14 Desember 2025 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Emosi di atas akal sehat? Gelombang populisme melanda dunia, benturkan rakyat vs elit. Simak analisis bahaya

Ilustrasi, Emosi di atas akal sehat? Gelombang populisme melanda dunia, benturkan rakyat vs elit. Simak analisis bahaya "orang kuat" bagi masa depan demokrasi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID —  Satu dekade terakhir, wajah politik dunia berubah drastis. Kotak suara di berbagai negara tidak lagi memenangkan teknokrat yang berbicara data. Sebaliknya, panggung kini milik para orator yang pandai membakar emosi massa.

Pemimpin populis dengan gaya “orang kuat” bermunculan bak cendawan di musim hujan. Mulai dari Amerika, Eropa, hingga Asia, mereka datang membawa janji-janji sederhana untuk masalah yang rumit. Gelombang populisme ini menyapu logika dan menggantikannya dengan sentimen.

Narasi “Kita vs Mereka”

Strategi utama mereka selalu seragam, meski beda negara. Mereka membenturkan dua kubu imajiner: “Rakyat Murni” melawan “Elit Korup”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemimpin populis memosisikan diri sebagai satu-satunya penyambung lidah rakyat sejati. Lantas, mereka menunjuk kambing hitam. Entah itu imigran, pihak asing, atau kaum liberal kota yang mereka tuduh mengkhianati bangsa.

Baca Juga :  Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Narasi ini sangat efektif. Pasalnya, manusia secara alami memiliki insting kesukuan. Menciptakan musuh bersama adalah cara tercepat untuk menyatukan barisan pendukung yang fanatik.

Cermin Kecemasan Ekonomi

Namun, populisme tidak lahir di ruang hampa. Faktanya, fenomena ini adalah gejala dari penyakit ekonomi yang lebih dalam.

Kecemasan ekonomi menjadi bahan bakar utamanya. Ketimpangan yang melebar dan hilangnya lapangan kerja akibat globalisasi membuat banyak orang merasa tertinggal. Mereka merasa dikhianati oleh sistem yang ada.

Oleh karena itu, ketika seorang tokoh datang dan berteriak “Hancurkan sistem!”, seruan itu terdengar seperti musik di telinga mereka. Populisme adalah jeritan protes dari mereka yang merasa tidak didengar oleh elit politik konvensional.

Menggerogoti Demokrasi dari Dalam

Dampak paling berbahaya terjadi setelah para populis ini terpilih. Mereka cenderung tidak menyukai aturan main demokrasi yang membatasi kekuasaan mereka.

Baca Juga :  BNN Desak Regulasi Ketat Vape dan Gas N2O, 100 Persen Sampel Positif Narkoba

Akibatnya, mereka perlahan melemahkan institusi penyeimbang (check and balances). Pers bebas mereka labeli sebagai “musuh rakyat”. Pengadilan independen mereka serang sebagai “antek elit”.

Mereka menggunakan instrumen demokrasi (pemilu) untuk mematikan demokrasi itu sendiri dari dalam. Sering kali, mereka mengubah konstitusi demi memperpanjang masa jabatan atau menumpuk kekuasaan di tangan eksekutif.

Koreksi atau Lonceng Kematian?

Pada akhirnya, kita dihadapkan pada pertanyaan eksistensial. Apakah populisme ini adalah koreksi yang sehat bagi demokrasi yang macet? Atau, justru lonceng kematian bagi kebebasan?

Mungkin jawabannya ada di tengah-tengah. Populisme adalah peringatan keras bahwa demokrasi harus bekerja untuk semua orang, bukan hanya segelintir orang. Akan tetapi, jika kita membiarkan emosi terus mengemudi, kita berisiko menabrakkan peradaban ini ke jurang otoritarianisme yang gelap.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB