JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Cobalah perhatikan deretan poster film di bioskop kesayangan Anda saat ini. Apa yang Anda lihat? Kemungkinan besar, Anda hanya melihat angka di belakang judul film tersebut.
Entah itu Fast X, Mission Impossible 7, atau live-action putri Disney dari tahun 90-an. Tampaknya, Hollywood sedang kehabisan bensin kreativitas. Ide-ide segar menghilang, tergantikan oleh gelombang sekuel, prekuel, dan daur ulang (remake) yang tak berujung.
Dominasi waralaba raksasa seperti Marvel Cinematic Universe (MCU) begitu kuat mencengkeram tangga box office. Akibatnya, penonton mulai bertanya-tanya. Apakah orisinalitas sudah mati di tanah paman Sam?
Takut Rugi: Bisnis Berbasis IP
Mengapa studio raksasa begitu malas berinovasi? Jawabannya sangat pragmatis: uang. Membuat satu film blockbuster membutuhkan biaya produksi dan pemasaran hingga triliunan rupiah.
Oleh karena itu, para eksekutif studio gemetar ketakutan saat harus mengambil risiko pada ide orisinal baru. Mereka lebih memilih bermain aman dengan aset yang sudah memiliki basis penggemar atau Intellectual Property (IP).
Pasalnya, menjual tiket untuk karakter yang sudah penonton kenal jauh lebih mudah. Studio tidak perlu repot-repot memperkenalkan dunia baru dari nol. Bagi mereka, sekuel adalah mesin pencetak uang yang “pasti untung”, sedangkan ide baru adalah perjudian yang berbahaya.
Candu Nostalgia dan Zona Nyaman
Namun, kita tidak bisa menimpakan seluruh kesalahan kepada produser. Penonton juga memegang andil besar dalam melestarikan siklus ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara psikologis, manusia menyukai kenyamanan dari sesuatu yang familier. Menonton film daur ulang ibarat memakan “makanan rumah” yang menenangkan hati. Kita tahu apa yang akan terjadi, dan itu membuat otak kita rileks.
Selain itu, faktor nostalgia menjadi magnet yang sangat kuat. Generasi milenial dan Gen Z rela membayar mahal untuk melihat kenangan masa kecil mereka hidup kembali dalam format visual canggih. Studio hanya memanen apa yang penonton tanam.
Penulis Menjerit, Penonton Jenuh
Sayangnya, tren bisnis ini membunuh kreativitas para penulis naskah baru. Ide-ide orisinal yang brilian sering kali berakhir di tempat sampah. Studio menolaknya mentah-mentah karena menganggapnya “terlalu berisiko” atau “kurang komersial”.
Imbasnya, industri perfilman mulai merasakan dampak negatif jangka panjang. Gejala kejenuhan massal atau superhero fatigue mulai terlihat nyata.
Penonton perlahan merasa lelah dengan formula cerita yang seragam dan efek visual yang berlebihan. Buktinya, grafik pendapatan beberapa film franchise besar mulai menunjukkan tren penurunan yang signifikan belakangan ini.
Menunggu Siklus Baru
Pada akhirnya, apakah orisinalitas di Hollywood benar-benar sudah tamat? Belum tentu. Sejarah seni dan hiburan selalu berputar dalam siklus.
Saat penonton benar-benar muak dengan sekuel yang membosankan, mereka akan menuntut cerita baru dengan lantang. Film-film independen yang unik (seperti Everything Everywhere All At Once) mulai mencuri perhatian dan penghargaan utama.
Maka, studio mau tidak mau harus beradaptasi. Mereka harus mulai berani mengambil risiko lagi atau bersiap ditinggalkan oleh penonton yang mendambakan kesegaran cerita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















