Krisis Kreativitas Hollywood: Mengapa Bioskop Hanya Penuh Sekuel dan Daur Ulang?

Rabu, 10 Desember 2025 - 17:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pocong dan Kuntilanak rajai bioskop! Apakah ini prestasi budaya atau tanda industri film kita jalan di tempat? Simak analisis fenomena horor lokal yang mendunia. Dok: Istimewa.

Pocong dan Kuntilanak rajai bioskop! Apakah ini prestasi budaya atau tanda industri film kita jalan di tempat? Simak analisis fenomena horor lokal yang mendunia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Cobalah perhatikan deretan poster film di bioskop kesayangan Anda saat ini. Apa yang Anda lihat? Kemungkinan besar, Anda hanya melihat angka di belakang judul film tersebut.

Entah itu Fast X, Mission Impossible 7, atau live-action putri Disney dari tahun 90-an. Tampaknya, Hollywood sedang kehabisan bensin kreativitas. Ide-ide segar menghilang, tergantikan oleh gelombang sekuel, prekuel, dan daur ulang (remake) yang tak berujung.

Dominasi waralaba raksasa seperti Marvel Cinematic Universe (MCU) begitu kuat mencengkeram tangga box office. Akibatnya, penonton mulai bertanya-tanya. Apakah orisinalitas sudah mati di tanah paman Sam?

Takut Rugi: Bisnis Berbasis IP

Mengapa studio raksasa begitu malas berinovasi? Jawabannya sangat pragmatis: uang. Membuat satu film blockbuster membutuhkan biaya produksi dan pemasaran hingga triliunan rupiah.

Oleh karena itu, para eksekutif studio gemetar ketakutan saat harus mengambil risiko pada ide orisinal baru. Mereka lebih memilih bermain aman dengan aset yang sudah memiliki basis penggemar atau Intellectual Property (IP).

Baca Juga :  Evolusi Pertanian yang Mengubah Wajah Peradaban Barat

Pasalnya, menjual tiket untuk karakter yang sudah penonton kenal jauh lebih mudah. Studio tidak perlu repot-repot memperkenalkan dunia baru dari nol. Bagi mereka, sekuel adalah mesin pencetak uang yang “pasti untung”, sedangkan ide baru adalah perjudian yang berbahaya.

Candu Nostalgia dan Zona Nyaman

Namun, kita tidak bisa menimpakan seluruh kesalahan kepada produser. Penonton juga memegang andil besar dalam melestarikan siklus ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara psikologis, manusia menyukai kenyamanan dari sesuatu yang familier. Menonton film daur ulang ibarat memakan “makanan rumah” yang menenangkan hati. Kita tahu apa yang akan terjadi, dan itu membuat otak kita rileks.

Selain itu, faktor nostalgia menjadi magnet yang sangat kuat. Generasi milenial dan Gen Z rela membayar mahal untuk melihat kenangan masa kecil mereka hidup kembali dalam format visual canggih. Studio hanya memanen apa yang penonton tanam.

Penulis Menjerit, Penonton Jenuh

Sayangnya, tren bisnis ini membunuh kreativitas para penulis naskah baru. Ide-ide orisinal yang brilian sering kali berakhir di tempat sampah. Studio menolaknya mentah-mentah karena menganggapnya “terlalu berisiko” atau “kurang komersial”.

Baca Juga :  Politik di Balik Selera Musik Anda

Imbasnya, industri perfilman mulai merasakan dampak negatif jangka panjang. Gejala kejenuhan massal atau superhero fatigue mulai terlihat nyata.

Penonton perlahan merasa lelah dengan formula cerita yang seragam dan efek visual yang berlebihan. Buktinya, grafik pendapatan beberapa film franchise besar mulai menunjukkan tren penurunan yang signifikan belakangan ini.

Menunggu Siklus Baru

Pada akhirnya, apakah orisinalitas di Hollywood benar-benar sudah tamat? Belum tentu. Sejarah seni dan hiburan selalu berputar dalam siklus.

Saat penonton benar-benar muak dengan sekuel yang membosankan, mereka akan menuntut cerita baru dengan lantang. Film-film independen yang unik (seperti Everything Everywhere All At Once) mulai mencuri perhatian dan penghargaan utama.

Maka, studio mau tidak mau harus beradaptasi. Mereka harus mulai berani mengambil risiko lagi atau bersiap ditinggalkan oleh penonton yang mendambakan kesegaran cerita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB