Krisis Makna di Era Kemakmuran: Analisis Kekosongan Eksistensial

Kamis, 23 Oktober 2025 - 08:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kedaulatan atas diri sendiri. Di tengah ketidakpastian global 2026, eksistensialisme mengajak kita berhenti mencari makna di luar sana dan mulai menciptakannya sendiri melalui kebebasan dan tindakan nyata. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kedaulatan atas diri sendiri. Di tengah ketidakpastian global 2026, eksistensialisme mengajak kita berhenti mencari makna di luar sana dan mulai menciptakannya sendiri melalui kebebasan dan tindakan nyata. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Lihatlah profil profesional muda di kota-kota besar: karier menanjak, gaji tinggi, apartemen yang bagus, dan jadwal liburan yang padat. Secara materi, mereka adalah definisi kesuksesan. Namun, di balik fasad tersebut, banyak yang diam-diam berjuang melawan perasaan hampa, depresi, atau existential dread (kecemasan eksistensial).

Mengapa kemakmuran materi tidak selalu sejalan dengan kesehatan mental dan rasa damai? Fenomena ini bukanlah hal baru, dan jawabannya mungkin terletak pada kebutuhan manusia yang paling mendasar: makna.

Teori di Balik Krisis Makna

Psikiater Wina dan penyintas Holocaust, Viktor Frankl, adalah pendiri Logoterapi, sebuah aliran psikoterapi yang berpusat pada “makna”. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning, Frankl berpendapat bahwa dorongan utama manusia bukanlah mengejar kesenangan (seperti kata Freud) atau kekuasaan (kata Adler), melainkan “kehendak untuk hidup bermakna” (will to meaning).

Ketika seseorang gagal menemukan atau memenuhi makna dalam hidupnya, ia akan jatuh ke dalam kondisi yang Frankl sebut sebagai “kekosongan eksistensial” (existential vacuum). Pada dasarnya, ini adalah perasaan hampa, kebosanan kronis, dan keyakinan bahwa hidup tidak memiliki tujuan.

Kemakmuran yang Hampa

Budaya modern, dengan obsesinya pada pencapaian material, status sosial, dan kesenangan instan, seringkali menjadi jebakan. Budaya ini mendorong kita untuk ‘hustle’—bekerja keras demi target finansial atau promosi jabatan—namun kita jarang berhenti untuk bertanya, “Untuk apa ini semua?”

Pekerjaan yang hanya menawarkan gaji tinggi tanpa rasa kontribusi (purpose) atau koneksi kemanusiaan yang tulus jelas memperburuk krisis ini. Akibatnya, kita mencoba mengisi kekosongan eksistensial itu dengan konsumsi berlebih, hiburan instan, atau pencapaian yang lebih tinggi lagi, yang pada akhirnya hanya memberikan kelegaan sementara sebelum kehampaan itu kembali.

Baca Juga :  Peltu TNI Dikeroyok di Depok Usai Tegur Ibu Kasar ke Anak - 2 Pelaku Ditangkap

Pergeseran dari Hustle ke Purpose

Justru, kekosongan eksistensial inilah yang tampaknya memicu pergeseran budaya baru, terutama di kalangan generasi muda. Misalnya, kita melihat semakin banyak individu yang secara sadar menolak hustle culture.

Muncul tren ‘slow living’ (hidup perlahan), mindfulness, dan pencarian ‘purpose’ (tujuan) yang kini mendapat prioritas di atas gaji. Selain itu, banyak yang rela pindah kuadran karier, memulai usaha sosial, atau mengabdikan lebih banyak waktu untuk komunitas. Pada hakikatnya, ini bukanlah pelarian dari tanggung jawab, melainkan jawaban atas kebutuhan mendesak untuk mengisi hidup mereka dengan makna yang otentik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Silmy Karim Diduga Terima Rp100 Juta per Minggu, KPK Bongkar Kode ‘Malaikat’
Dipecat dari Polri, Bripka Dedy Kini Jalani Pemeriksaan Kasus Narkoba di Bareskrim
Noel Divonis 4 Tahun 6 Bulan Penjara, Terbukti Korupsi Sertifikasi K3
Gagal Amankan Kursi DK PBB: Sikap Jerman Terhadap Ukraina dan Israel
Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri
Selain Motor Listrik, Kejagung Temukan Mark Up Sepatu – Tablet dan TV Program MBG
Kurir Sabu 510 Gram Ditangkap di Pasar Rebo, Polisi Kejar Bandar dan Penerima
Pesawat Militer AS Tetap Pasok Peralatan Karantina Ebola

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:13 WIB

Silmy Karim Diduga Terima Rp100 Juta per Minggu, KPK Bongkar Kode ‘Malaikat’

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:43 WIB

Dipecat dari Polri, Bripka Dedy Kini Jalani Pemeriksaan Kasus Narkoba di Bareskrim

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:07 WIB

Noel Divonis 4 Tahun 6 Bulan Penjara, Terbukti Korupsi Sertifikasi K3

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:06 WIB

Gagal Amankan Kursi DK PBB: Sikap Jerman Terhadap Ukraina dan Israel

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:03 WIB

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Berita Terbaru

Penertiban birokrasi federal. Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempermudah pemecatan 8.000 pegawai federal senior bergaji tinggi demi efisiensi kerja. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Kamis, 4 Jun 2026 - 15:03 WIB