MAPUTO, POSNEWS.CO.ID – Saat mata dunia tertuju pada Ukraina, Gaza, dan Sudan, sebuah tragedi kemanusiaan besar sedang berlangsung dalam senyap di Afrika bagian selatan. Mozambik tengah menghadapi gelombang pengungsian massal akibat pemberontakan brutal.
Data terbaru menunjukkan fakta yang mengejutkan. Lebih dari 300.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak Juli lalu. Penyebabnya, kelompok militan ISIS-Mozambique mengamuk tanpa kendali.
Konflik yang telah berjalan sejak Oktober 2017 ini seolah terlupakan oleh komunitas internasional. Padahal, total pengungsi kini telah menembus angka 1 juta jiwa. Mirisnya, banyak dari mereka harus mengungsi dua, tiga, bahkan empat kali demi menghindari kejaran maut.
Militer Gagal, ISIS Makin Berani
Upaya militer sejauh ini tampaknya menemui jalan buntu. Baik tentara nasional Mozambik maupun pasukan intervensi dari Rwanda gagal memadamkan pemberontakan.
Rwanda telah mengerahkan sekitar 4.000 hingga 5.000 personel militer terlatih. Awalnya, mereka berhasil memukul mundur militan. Namun, situasi berbalik tahun ini.
Tomás Queface, peneliti pemantau konflik Acled, menyebut para pemberontak semakin “audacious” atau berani. Pasukan Rwanda tidak lagi seefektif dulu karena mengurangi patroli.
Akibatnya, kekerasan terhadap warga sipil meningkat tajam. Pada November saja, lebih dari 100.000 orang mengungsi setelah ISIS merangsek ke selatan hingga provinsi Nampula.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lindungi Gas, Abaikan Nyawa?
Kritik tajam mengarah pada prioritas operasi militer. Borges Nhamirre, peneliti dari Institute for Security Studies, menyoroti ketimpangan tujuan.
“Jika tujuannya adalah menjamin keamanan manusia, maka mereka telah gagal,” tegas Nhamirre.
Sebaliknya, militer tampak lebih fokus mengamankan aset ekonomi. Pasukan terkonsentrasi di sekitar proyek Gas Alam Cair (LNG) milik Total senilai $20 miliar. Faktanya, proyek raksasa tersebut kini jauh lebih aman daripada tahun 2021, sementara desa-desa di sekitarnya terbakar.
Penculikan Anak dan Minimnya Bantuan
Dampak sosial dari konflik ini sangat mengerikan. ISIS gencar melakukan penculikan anak untuk dijadikan tentara paksa atau budak seks.
Sheila Nhancale dari Human Rights Watch (HRW) membeberkan data pilu. Dari 100.000 pengungsi baru pada November, sekitar 70.000 di antaranya adalah anak-anak. Risiko kekerasan seksual dan eksploitasi mengintai mereka setiap saat.
Di tengah penderitaan ini, bantuan asing justru menyusut. Donor internasional hanya memberikan $195 juta tahun ini, jauh di bawah kebutuhan estimasi.
“Mereka hanya ingin ini berakhir. Mereka ingin kembali ke rumah, bertani, dan hidup normal,” ujar Sebastián Traficante dari MĂ©decins Sans Frontières, menggambarkan keputusasaan para pengungsi yang hidup dalam kondisi sangat buruk.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















