BEIJING, POSNEWS.CO.ID  —  Tiga astronot misi Shenzhou-20 (SZ-20) China telah kembali dengan selamat ke Bumi. Meskipun begitu, kepulangan mereka diwarnai drama di orbit rendah Bumi yang menyoroti bahaya puing-puing antariksa (space debris).
Komandan Chen Dong, bersama Chen Zhongrui dan Wang Jie, mendarat di Situs Pendaratan Dongfeng, Mongolia Dalam, pada Jumat (14/11/2025) sekitar pukul 11:14 waktu Beijing. Selanjutnya, mereka terbang ke Beijing dan kini memasuki periode karantina serta pemulihan.
Akan tetapi, mereka pulang bukan menggunakan wahana yang membawa mereka ke Stasiun Luar Angkasa Tiangong pada April lalu.
Kronologi Darurat di Orbit
Awalnya, kru SZ-20 dijadwalkan pulang pada 5 November, setelah kru pengganti (SZ-21) tiba pada 31 Oktober. Namun, China Manned Space Agency (CMSA) menunda misi kepulangan itu.
Belakangan, CMSA mengonfirmasi bahwa wahana Shenzhou-20 diduga kuat terkena hantaman puing antariksa kecil. Hantaman ini menyebabkan “retakan-retakan kecil” pada jendela penglihatan (viewport window) kapsul tersebut.
Akibatnya, CMSA menganggap wahana SZ-20 tidak lagi memenuhi syarat untuk kepulangan yang aman. Mereka pun terpaksa mengambil keputusan drastis.
Solusi “Tukar Kapsul”
Alih-alih mempertaruhkan nyawa kru, CMSA memutuskan untuk meninggalkan wahana Shenzhou-20 yang rusak di orbit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, kru SZ-20 diperintahkan pulang menggunakan kapsul Shenzhou-21. Padahal, kapsul SZ-21 itu baru saja tiba dan seharusnya berfungsi sebagai “sekoci” darurat dan kendaraan pulang bagi kru SZ-21 yang baru tiba.
Para astronot akhirnya meninggalkan Tiangong pada Kamis malam (waktu AS) dan mendarat dengan selamat di Bumi pada Jumat pagi menggunakan kapsul “pinjaman” tersebut.
“Jalan eksplorasi antariksa manusia tidak mulus,” kata Komandan Chen Dong setelah keluar dari kapsul. “Ini penuh dengan kesulitan dan tantangan. Tetapi itulah mengapa kita memilih menjalani jalan ini.”
Masalah Baru: Kru Shenzhou-21 “Terjebak”
Solusi ini berhasil menyelamatkan kru SZ-20. Namun, tindakan ini menciptakan masalah baru yang serius: Tiga astronot kru Shenzhou-21 kini “terjebak” di Stasiun Luar Angkasa Tiangong tanpa kendaraan pulang atau “sekoci” darurat.
Oleh karena itu, China kini harus mempercepat misi berikutnya. Media pemerintah Xinhua melaporkan bahwa China akan meluncurkan wahana Shenzhou-22 (kemungkinan tanpa awak) “pada waktu yang tepat di masa depan” untuk menjemput kru SZ-21 setelah misi 6 bulan mereka selesai.
Ironi Puing Antariksa
Insiden ini menyoroti masalah sampah antariksa yang semakin parah. Saat ini, para ahli memperkirakan ada lebih dari 34.000 objek berukuran lebih dari 10 cm yang mengorbit Bumi dengan kecepatan 23 kali kecepatan peluru.
Ironisnya, China adalah salah satu kontributor terbesar masalah ini. Pada tahun 2007, militer China menguji rudal anti-satelit dan secara sengaja menghancurkan salah satu satelit cuaca tuanya. Tindakan itu menciptakan “awan puing buatan paling parah” dalam sejarah, dengan ribuan kepingan yang masih mengancam orbit hingga hari ini.
Para ahli sepakat tidak ada cara efektif untuk membersihkan puing yang sudah ada. Maka, satu-satunya solusi adalah pencegahan dan penerapan regulasi internasional yang lebih ketat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















