PRETORIA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik global mulai menekan pasar pangan dan energi di seluruh Afrika bagian selatan. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menjadi sumber utama tekanan ekonomi bagi negara-negara tetangga.
Dalam konteks ini, Lamola menyampaikan pidatonya di hadapan Dewan Menteri Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC) di Pretoria. Ia menegaskan bahwa guncangan ekonomi akibat perang tersebut sudah mulai menyentuh lapisan masyarakat terbawah di kawasan tersebut.
Ancaman Harga Pupuk dan Ketahanan Pangan
Konflik di Timur Tengah yang bermula pada akhir Februari lalu telah mengganggu rantai pasok global secara sistemik. Serangan terkoordinasi AS dan Israel ke situs strategis Iran memicu aksi balasan yang meluas ke seluruh kawasan. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak dan berdampak langsung pada biaya produksi pertanian.
Lebih lanjut, Lamola menyoroti bahwa kenaikan harga pupuk akan segera mendorong harga pangan ke tingkat yang lebih tinggi. Kondisi ini tentu saja membahayakan ketahanan pangan bagi banyak negara di Afrika bagian selatan. Oleh sebab itu, krisis energi di Teluk Persia bukan lagi sekadar masalah jarak jauh, melainkan ancaman nyata bagi meja makan penduduk Afrika.
Pemulihan Pasca-Pandemi dan Beban Utang
Banyak negara anggota SADC menghadapi guncangan eksternal ini saat mereka masih berjuang memulihkan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19. Bahkan, sebagian besar negara di kawasan tersebut masih memikul beban utang yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kenaikan biaya hidup akibat perang Iran dapat memperlambat proses pemulihan ekonomi nasional secara signifikan.
Dalam hal ini, Lamola menekankan bahwa kedaulatan pangan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar lagi. Tekanan geopolitik ini memaksa negara-negara SADC untuk mengevaluasi kembali ketergantungan mereka pada impor energi dan bahan baku pertanian dari luar benua. Sebagai hasilnya, stabilitas politik kawasan kini bergantung pada kemampuan setiap negara dalam mengelola inflasi yang diimpor dari konflik global tersebut.
Solusi: Industrialisasi dan Kerja Sama Regional
Sebagai langkah mitigasi, Lamola mendesak penguatan kerja sama regional dan percepatan industrialisasi. Ia percaya bahwa membangun ekonomi yang lebih tangguh adalah satu-satunya jalan untuk melindungi lebih dari 380 juta orang di kawasan SADC. Dengan demikian, integrasi ekonomi antarnegara anggota harus segera bergerak dari sekadar wacana menuju implementasi nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada akhirnya, krisis ini menjadi pengingat pahit bahwa anarki internasional selalu mengorbankan pihak yang paling lemah secara ekonomi. Oleh sebab itu, Afrika Selatan berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya de-eskalasi di Timur Tengah. Secara simultan, SADC akan fokus pada penguatan kemandirian energi dan pangan guna menghadapi ketidakpastian dunia yang kian meningkat di tahun 202
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















