JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengguncang Jakarta Timur.
Sebanyak 72 siswa dari empat sekolah dilaporkan keracunan usai menyantap menu spageti yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Kelapa, Duren Sawit.
Akibatnya, puluhan siswa harus dilarikan ke rumah sakit dan kini menjalani perawatan intensif di tiga fasilitas kesehatan berbeda.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengapresiasi langkah cepat Badan Gizi Nasional dalam menangani insiden ini.
Namun demikian, ia menilai sanksi pembekuan sementara tidak cukup.
“SPPG yang menyebabkan keracunan harus ditutup permanen dan dicabut izin operasionalnya,” tegas Charles.
Menurutnya, langkah tegas ini penting sebagai efek jera agar seluruh penyelenggara program MBG tidak bermain-main dengan standar keamanan pangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rantai Produksi Disorot, Audit Total Diminta
Selain itu, DPR mendesak audit menyeluruh terhadap seluruh rantai distribusi makanan MBG. Mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga distribusi ke sekolah.
Charles menegaskan, pengawasan harus diperketat dengan melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan secara intensif.
“Pengawasan preventif wajib diperkuat agar program ini memberi manfaat, bukan malah membahayakan kesehatan siswa,” ujarnya.
Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, langsung turun ke lapangan meninjau kondisi korban di RSKD Duren Sawit.
Ia memastikan, seluruh siswa mendapatkan penanganan medis optimal.
“Ini dampak dari makanan yang disiapkan SPPG di Pondok Kelapa,” ungkapnya.
Fakta Penting Keracunan MBG di Duren Sawit
Berikut data terkini:
- 72 siswa terdampak
- Berasal dari 4 sekolah
- Dirawat di 3 rumah sakit
- Diduga akibat menu spageti MBG
- Edukasi: Kenali Gejala Keracunan Makanan
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat perlu mengenali gejala keracunan makanan, antara lain:
- Mual dan muntah
- Diare
- Pusing dan lemas
- Nyeri perut
Jika gejala muncul, segera cari pertolongan medis untuk mencegah kondisi memburuk.
Kesimpulan: Program Gizi Harus Aman, Bukan Jadi Ancaman. (red)
Editor : Hadwan



















