NAYPYIDAW, POSNEWS.CO.ID – Militer Myanmar meningkatkan gempuran udara dan aksi kekerasan terhadap warga sipil secara masif.
Reorganisasi Komando dan Strategi Jet Tempur
Lembaga pemantau ACLED merilis laporan resmi mengenai eskalasi konflik pada hari Senin.
Pihak junta merombak struktur komando militer sejak bulan Maret lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mantan pemimpin kudeta Min Aung Hlaing mengamankan kursi presiden sipil pada bulan April.
Ia kemudian menunjuk mantan kepala intelijen Ye Win Oo sebagai panglima militer baru.
Di bawah komando baru, militer menerjunkan skuadron dua hingga lima jet tempur.
Armada udara meluncurkan gempuran bom secara terus-menerus ke sasaran tunggal.
Pasukan darat juga menggempur wilayah perbatasan yang kaya komoditas tanah langka.
Pembantaian Massal Warga Sipil di Wilayah Anyar
Aksi kekerasan militer memicu lonjakan jumlah korban jiwa secara drastis.
ACLED mencatat belasan kasus pembantaian massal sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Serangan brutal militer merenggut lebih dari 450 nyawa warga sipil.
Wilayah kering Anyar di Myanmar tengah menyumbang 40 persen total korban tewas.
Pasukan junta menyerbu wilayah kota kecil Myit Chay pada bulan Mei lalu.
Saksi mata Ye Naung menyebut sekitar 700 prajurit masuk ke permukiman warga.
Prajurit merampas harta benda, menganiaya warga, serta membunuh 40 penduduk lokal.
Manuver Diplomasi Regional Min Aung Hlaing
Eskalasi pertempuran ini mewarnai dinamika politik internal yang sangat memprihatinkan.
Kudeta militer tahun 2021 telah menewaskan sekitar 100.000 jiwa.
Konflik bersenjata tersebut juga memaksa jutaan warga mengungsi dari rumah mereka.
Meskipun melancarkan tindakan represif, Min Aung Hlaing gencar menggalang dukungan internasional.
Ia melangsungkan kunjungan diplomasi ke negara tetangga India dan China.
Pemimpin junta juga mencoba membangun kembali komunikasi bersama perhimpunan ASEAN.
Selanjutnya, Min Aung Hlaing merancang kunjungan kenegaraan ke Thailand pada 6 hingga 7 Agustus mendatang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













