Ekonomi Gig: Mitos Fleksibilitas dan Realitas Prekariat Digital

Sabtu, 15 November 2025 - 16:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ekonomi Gig menjanjikan kebebasan

Ilustrasi, Ekonomi Gig menjanjikan kebebasan "bos bagi diri sendiri". Namun, realitasnya adalah "prekariat digital"—pekerja tanpa jaminan sosial yang dikendalikan algoritma. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dalam dekade terakhir, lanskap pekerjaan telah berubah drastis. Akibatnya, jutaan orang di seluruh dunia kini bekerja di Ekonomi Gig (Gig Economy). Tentu saja, kita melihat mereka setiap hari. Mereka adalah pengemudi ojek online (ojol), kurir paket yang bergegas, atau freelancer desain dan penulisan yang bekerja berbasis proyek di platform digital. Pada awalnya, model ini menawarkan sesuatu yang terlihat revolusioner: kemerdekaan.

Mitos “Menjadi Bos bagi Diri Sendiri”

Secara teori, janji ekonomi gig sangat menggiurkan. Platform digital (aplikator) menjual gagasan “kebebasan” dan “fleksibilitas”. Misalnya, pekerja dapat menentukan jam kerja mereka sendiri. Mereka bisa “menjadi bos bagi diri sendiri”.

Oleh karena itu, mereka tidak terikat pada rutinitas 9-ke-5 yang kaku atau perintah manajer di kantor. Bagi banyak orang, terutama generasi muda, ini terdengar seperti bentuk kemerdekaan sejati dari pekerjaan tradisional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Prekariat” yang Dikelola Algoritma

Akan tetapi, setelah bertahun-tahun berjalan, mitos fleksibilitas itu mulai retak. Di balik kebebasan semu, muncul sebuah realitas baru yang oleh para sosiolog disebut sebagai Prekariat Digital (proletariat yang hidup dalam kondisi rentan/precarious).

Baca Juga :  Kapolres Metro Bekasi Pimpin Sertijab dan Pengukuhan Pejabat, Tegaskan Komitmen Pelayanan Masyarakat

Realitas ini memiliki tiga pilar yang suram:

  1. Ketidakpastian Pendapatan: Pertama, fleksibilitas ternyata berarti ketidakpastian. Pendapatan bisa anjlok kapan saja karena perubahan skema insentif atau karena algoritma tiba-tiba memberi lebih sedikit pesanan. Tidak ada gaji bulanan yang pasti.
  2. Ketiadaan Jaminan Sosial: Kedua, dan yang paling penting, pekerja gig hidup tanpa jaring pengaman sosial. Mereka tidak mendapatkan asuransi kesehatan, jaminan hari tua (pensiun), tunjangan hari raya, atau bahkan cuti sakit yang dibayar. Jika mereka sakit atau mengalami kecelakaan di jalan, pendapatan mereka langsung berhenti pada hari itu juga.
  3. Manajer Bernama Algoritma: Ketiga, mitos “bos bagi diri sendiri” runtuh. Pada kenyataannya, mereka memiliki bos baru yang lebih kejam dan tidak terlihat: Algoritma. Algoritma menentukan pesanan, menghitung tarif (yang seringkali turun sepihak), memantau kinerja secara real-time, dan bisa memberikan sanksi atau “putus mitra” (PHK) secara otomatis tanpa ruang negosiasi.

Status “Mitra” vs. “Pekerja”

Masalah utamanya terletak pada status hukum. Platform (aplikator) secara cerdik mengklasifikasikan pekerja mereka sebagai “Mitra” (Partner), bukan “Pekerja” (Employee).

Baca Juga :  Ilusi Kebebasan Gig Economy: Kerja Keras Tanpa Jaring Pengaman

Akibat penggunaan istilah “mitra” ini, perusahaan bisa menghindari semua tanggung jawab hukum ketenagakerjaan. Mereka tidak perlu membayar UMR, memberi pesangon, membayar lembur, atau menyediakan jaminan sosial (BPJS Ketenagakerjaan).

Oleh karena itu, di seluruh dunia, kita menyaksikan perjuangan global dari para pengemudi dan kurir. Mereka berdemonstrasi menuntut hak-hak dasar. Mereka berjuang untuk mendapatkan pengakuan sebagai “pekerja” yang layak mendapat perlindungan, bukan hanya “mitra” yang rentan dan tereksploitasi.

Mencari Jaring Pengaman Baru

Pada akhirnya, ekonomi gig tidak akan hilang. Fleksibilitas memang menawarkan nilai nyata bagi sebagian orang. Akan tetapi, model saat ini jelas telah menciptakan kelas pekerja baru yang sangat rentan.

Maka, tantangan bagi pemerintah dan masyarakat bukanlah bagaimana menghentikan ekonomi gig, melainkan bagaimana mengaturnya.

Kita membutuhkan model perlindungan pekerja yang baru dan inovatif yang sesuai untuk era digital ini. Mungkin ini berupa skema jaminan sosial universal yang fleksibel (di mana kontribusi dibagi antara pekerja, platform, dan negara), atau definisi hukum baru (seperti “pekerja-independen”) yang menjamin hak-hak dasar tanpa menghilangkan fleksibilitas. Sebab, fleksibilitas seharusnya tidak berarti kehilangan martabat atau jaminan keselamatan kerja.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA
Aiptu Sumaryanto Gugur saat Operasi Narkoba di Katingan, Jenazah Ditemukan di Sungai
Grand Final Abang None Jakarta Pusat 2026 Digelar 23 Juli, Ini Misi 15 Pasang Finalis

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:31 WIB

Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar

Minggu, 5 Juli 2026 - 15:37 WIB

TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terbaru

Lompatan besar klon tempur EVE. Fenris Creations mematangkan aspek pergerakan karakter dan menguji sistem ekonomi orbit pada fase Operation Avalon. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

EVE Vanguard Hadirkan Formula Shooter Ekstraksi

Kamis, 9 Jul 2026 - 05:10 WIB