Mungo Man dan Ritual Pemakaman Tertua di Dunia

Selasa, 13 Januari 2026 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tulang belulang berusia 40.000 tahun ini mengubah pemahaman kita tentang sejarah manusia dan kepunahan hewan raksasa. Dok: Istimewa.

Tulang belulang berusia 40.000 tahun ini mengubah pemahaman kita tentang sejarah manusia dan kepunahan hewan raksasa. Dok: Istimewa.

NEW SOUTH WALES, POSNEWS.CO.ID – Lima puluh ribu tahun silam, lanskap subur menyambut manusia pertama yang menjejakkan kaki di tenggara benua Australia. Saat itu, suhu bumi lebih sejuk daripada sekarang. Bahkan, hewan-hewan raksasa prasejarah atau megafauna—seperti singa marsupial, biawak raksasa, dan diprotodon seukuran badak—masih berkeliaran bebas.

Di tepian Danau Mungo inilah, para arkeolog menemukan tiga set fosil yang menuturkan kisah hidup yang luar biasa. Fosil tersebut adalah milik “Mungo Man”, seorang pemburu pengumpul yang hidup dan mati di sana.

Analisis tulang belulang menceritakan riwayatnya dengan detail. Semasa muda, Mungo Man kehilangan dua gigi taring bawahnya, kemungkinan akibat sebuah ritual. Ia tumbuh menjadi pria setinggi hampir 1,7 meter. Seiring waktu, gigi gerahamnya aus, mungkin karena mengunyah makanan berpasir atau mengupas daun alang-alang untuk membuat benang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masa tuanya tidak mudah. Ia menderita radang sendi parah, terutama di siku kanannya yang rusak total—tanda khas seseorang yang menggunakan woomera (alat pelempar tombak) selama bertahun-tahun. Saat meninggal di usia 50 tahun, keluarganya menguburkannya dengan penuh hormat: menaburkan oker merah di atas tubuhnya. Ini adalah bukti ritual pemakaman tertua di dunia yang pernah ditemukan.

Baca Juga :  Diskriminasi Terhadap Umat Muslim di Jepang Kian Meluas

Perang Penanggalan: 40.000 atau 62.000 Tahun?

Geolog Universitas Melbourne, Profesor Jim Bowler, menemukan harta karun sejarah ini pada 1974, lima tahun setelah ia menemukan sisa-sisa kremasi “Mungo Lady”. Namun, penemuan ini justru memicu perang ilmiah yang sengit.

Menggunakan penanggalan karbon dan studi sedimen, Bowler menyimpulkan makam tersebut berusia 40.000 tahun. Sebaliknya, pada 1999, tim yang dipimpin Profesor Alan Thorne dari Australian National University mengklaim usianya jauh lebih tua, yakni 62.000 tahun.

Perbedaan angka ini bukan sekadar statistik. Thorne menggunakan data ini untuk menantang teori “Out of Africa”—gagasan bahwa semua manusia modern berasal dari satu titik di Afrika. Ia mendukung teori multi-regional yang menyatakan manusia modern muncul secara simultan di berbagai benua.

Baca Juga :  Lagu Kebangsaan Tak Bisa Ditarik Royalti, Menkum HAM Tegas Bantah Klaim LMKN

Akan tetapi, para pendukung “Out of Africa” seperti Profesor Chris Stringer dari Natural History Museum London tetap skeptis. Ia menilai bukti DNA Thorne belum cukup kuat untuk meruntuhkan teori migrasi dari Afrika.

Manusia vs Megafauna: Siapa Pembunuhnya?

Debat meluas ke nasib hewan raksasa. Dr. Tim Flannery, pendukung teori kontroversial “blitzkrieg”, meyakini kedatangan manusia sekitar 46.000 tahun lalu memicu kepunahan mendadak megafauna akibat perburuan massal. Ia mengklaim penanggalan Mungo mendukung pandangannya bahwa kedatangan manusia dan kepunahan hewan terjadi dalam “momen geologis yang hampir bersamaan”.

Di sisi lain, Jim Bowler menolak menyalahkan leluhur Australia sepenuhnya. Ia berargumen bahwa perubahan iklim yang intens pada 40.000 tahun lalu memainkan peran lebih besar dalam kepunahan tersebut.

“Menyalahkan orang Australia paling awal atas kepunahan total mereka adalah kesimpulan yang terlalu jauh,” bantah Bowler. Terlepas dari perdebatan itu, Mungo Man tetap menjadi bukti tak terbantahkan tentang kecanggihan budaya manusia di masa lalu, jauh sebelum peradaban modern menyentuh benua Amerika.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan
Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai
Puluhan Negara Desak Solusi Dua Negara demi Akhiri Konflik
Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump
Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan
AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP
Tanah Longsor Sapu Tujuh Persen Populasi Orangutan
Putri Bajrakitiyabha Wafat pada Usia 47 Tahun

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:15 WIB

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:00 WIB

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:02 WIB

Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:21 WIB

AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP

Berita Terbaru

Gebrakan besar di perbatasan. Otoritas Hong Kong menyita ratusan ribu barang palsu termasuk jersi Piala Dunia siap ekspor senilai dua puluh juta dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Jun 2026 - 18:15 WIB

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Jun 2026 - 16:00 WIB