Perang Surat di PBB: Tiongkok Telanjangi Argumen Jepang Soal Taiwan dan Militerisme

Selasa, 2 Desember 2025 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Panas di New York! Tiongkok kirim surat balasan telak ke Sekjen PBB. Dubes Fu Cong bongkar kontradiksi Jepang soal

Ilustrasi, Panas di New York! Tiongkok kirim surat balasan telak ke Sekjen PBB. Dubes Fu Cong bongkar kontradiksi Jepang soal "pertahanan pasif" dan provokasi Taiwan. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Arena diplomasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memanas. Perwakilan Tetap Tiongkok, Fu Cong, melayangkan “serangan” diplomatik susulan melalui surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Senin (01/12/2025).

Langkah ini merupakan respons langsung atas surat Jepang tertanggal 24 November lalu. Dalam surat tersebut, Jepang berusaha membela diri terkait isu Taiwan.

Namun, Fu Cong menilai argumen Tokyo sangat tidak masuk akal. Ia menuduh Jepang berusaha menghindar dari isu utama dan justru menyalahkan Tiongkok tanpa dasar. Seketika, surat balasan ini membuka kembali luka sejarah dan ketegangan geopolitik Asia Timur.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sumber Masalah: Mulut “Provokatif” Takaichi

Fu menegaskan bahwa akar penyebab ketegangan saat ini sangat jelas. Biang keroknya adalah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di parlemen pada 7 November lalu.

Saat itu, Takaichi mengklaim bahwa “kontingensi Taiwan” dapat menjadi ancaman eksistensial bagi Jepang. Implikasinya, Jepang siap melakukan intervensi militer.

Baca Juga :  Maling Besinglet dan Celana Dalam Bobol Toko di Cileungsi, Aksinya Viral Terekam CCTV

“Pernyataan keliru semacam itu secara terbuka menantang hasil kemenangan Perang Dunia II,” tegas Fu. Bahkan, ia menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap Piagam PBB.

Menggugat Amnesia Sejarah

Tiongkok juga mempertanyakan klaim Jepang yang mengaku memegang “posisi konsisten”. Padahal, dokumen sejarah seperti Deklarasi Kairo dan Proklamasi Potsdam jelas-jelas menegaskan kedaulatan Tiongkok atas Taiwan.

Fu mengingatkan kembali Pernyataan Bersama Tiongkok-Jepang tahun 1972. Kala itu, Jepang mengakui Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok sebagai satu-satunya pemerintahan sah.

“Pemerintah Jepang sepenuhnya memahami dan menghormati pendirian ini,” kutip Fu. Namun, ucapan Takaichi kini justru mengkhianati komitmen tersebut. Akibatnya, Tiongkok mempertanyakan bagaimana Jepang bisa memenangkan kepercayaan dunia jika terus melanggar janji sendiri.

Topeng “Pertahanan Pasif” Terbongkar

Poin paling tajam dalam surat Fu menyasar strategi militer Jepang. Jepang kerap berdalih bahwa mereka menganut strategi “pertahanan pasif” yang eksklusif untuk membela diri.

Baca Juga :  Polri Resmi Bentuk Tim Transformasi, Dorong Reformasi dan Akuntabilitas Institusi

Akan tetapi, Fu menilai argumen itu penuh kontradiksi. Mengaitkan nasib Jepang dengan Taiwan dan mengisyaratkan penggunaan kekuatan terhadap Tiongkok jelas melampaui batas pertahanan diri. “Argumen Jepang ini bertujuan menyesatkan komunitas internasional,” tambahnya.

Lebih jauh, Fu menuding Jepang sedang membangkitkan kembali militerisme. Faktanya, Tokyo terus menaikkan anggaran pertahanan selama 13 tahun berturut-turut.

Selain itu, Jepang telah melonggarkan aturan ekspor senjata mematikan. Bahkan, ada indikasi upaya mengubah prinsip non-nuklir mereka. “Sangat jelas bahwa Jepang sedang membebaskan diri dari prinsip pertahanan dan mempersenjatai diri kembali,” peringat Fu.

Ultimatum: Tarik Ucapan atau Tanggung Akibat

Pada akhirnya, Tiongkok memberikan ultimatum keras. Jika Jepang benar-benar ingin hubungan kedua negara stabil, mereka harus mengambil langkah nyata.

Fu mendesak Tokyo untuk segera menegaskan kembali prinsip satu Tiongkok. Tak hanya itu, mereka harus menarik kembali ucapan keliru Takaichi secara instan.

“Jika tidak, pihak Jepang harus menanggung semua konsekuensi yang timbul darinya,” pungkas Fu dengan nada ancaman diplomatik yang serius.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC
Israel Gelar Serangan Susulan di Lebanon Selatan Saat Diplomasi
AS Periksa Akun Media Sosial Jurnalis Asing Pemohon Visa
AS Tetap Dorong Lisensi Rudal Patriot Ukraina
Presiden Lee Jae Myung Siaga Satu Sambut Puncak Gelombang
Iran dan Oman Sepakati Kontrol Selat Hormuz dalam Draf

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:11 WIB

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang

Jumat, 7 Agustus 2026 - 12:17 WIB

Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:02 WIB

Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Israel Gelar Serangan Susulan di Lebanon Selatan Saat Diplomasi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:00 WIB

AS Tetap Dorong Lisensi Rudal Patriot Ukraina

Berita Terbaru

Ilustrasi, Tewas. (Posnews/Ist)

DAERAH

Rebutan Warisan Berujung Maut di Tapanuli Selatan

Jumat, 7 Agu 2026 - 13:22 WIB

Polisi London menahan seorang wanita setelah ia melukai empat pria di kawasan Covent Garden. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang

Jumat, 7 Agu 2026 - 13:11 WIB

Pemerintah Prancis memberlakukan undang-undang baru yang melarang perusahaan melakukan panggilan telemarketing tanpa persetujuan awal konsumen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen

Jumat, 7 Agu 2026 - 12:17 WIB

Senat AS mengonfirmasi Dr Erica Schwartz sebagai Direktur CDC di tengah krisis internal lembaga. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Jumat, 7 Agu 2026 - 11:02 WIB

Militer Israel menggempur kembali kawasan Lebanon selatan di tengah berlangsungnya negosiasi diplomatik di Roma. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Israel Gelar Serangan Susulan di Lebanon Selatan Saat Diplomasi

Jumat, 7 Agu 2026 - 10:00 WIB