NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Arena diplomasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memanas. Perwakilan Tetap Tiongkok, Fu Cong, melayangkan “serangan” diplomatik susulan melalui surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB AntĂłnio Guterres, Senin (01/12/2025).
Langkah ini merupakan respons langsung atas surat Jepang tertanggal 24 November lalu. Dalam surat tersebut, Jepang berusaha membela diri terkait isu Taiwan.
Namun, Fu Cong menilai argumen Tokyo sangat tidak masuk akal. Ia menuduh Jepang berusaha menghindar dari isu utama dan justru menyalahkan Tiongkok tanpa dasar. Seketika, surat balasan ini membuka kembali luka sejarah dan ketegangan geopolitik Asia Timur.
Sumber Masalah: Mulut “Provokatif” Takaichi
Fu menegaskan bahwa akar penyebab ketegangan saat ini sangat jelas. Biang keroknya adalah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di parlemen pada 7 November lalu.
Saat itu, Takaichi mengklaim bahwa “kontingensi Taiwan” dapat menjadi ancaman eksistensial bagi Jepang. Implikasinya, Jepang siap melakukan intervensi militer.
“Pernyataan keliru semacam itu secara terbuka menantang hasil kemenangan Perang Dunia II,” tegas Fu. Bahkan, ia menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap Piagam PBB.
Menggugat Amnesia Sejarah
Tiongkok juga mempertanyakan klaim Jepang yang mengaku memegang “posisi konsisten”. Padahal, dokumen sejarah seperti Deklarasi Kairo dan Proklamasi Potsdam jelas-jelas menegaskan kedaulatan Tiongkok atas Taiwan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fu mengingatkan kembali Pernyataan Bersama Tiongkok-Jepang tahun 1972. Kala itu, Jepang mengakui Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok sebagai satu-satunya pemerintahan sah.
“Pemerintah Jepang sepenuhnya memahami dan menghormati pendirian ini,” kutip Fu. Namun, ucapan Takaichi kini justru mengkhianati komitmen tersebut. Akibatnya, Tiongkok mempertanyakan bagaimana Jepang bisa memenangkan kepercayaan dunia jika terus melanggar janji sendiri.
Topeng “Pertahanan Pasif” Terbongkar
Poin paling tajam dalam surat Fu menyasar strategi militer Jepang. Jepang kerap berdalih bahwa mereka menganut strategi “pertahanan pasif” yang eksklusif untuk membela diri.
Akan tetapi, Fu menilai argumen itu penuh kontradiksi. Mengaitkan nasib Jepang dengan Taiwan dan mengisyaratkan penggunaan kekuatan terhadap Tiongkok jelas melampaui batas pertahanan diri. “Argumen Jepang ini bertujuan menyesatkan komunitas internasional,” tambahnya.
Lebih jauh, Fu menuding Jepang sedang membangkitkan kembali militerisme. Faktanya, Tokyo terus menaikkan anggaran pertahanan selama 13 tahun berturut-turut.
Selain itu, Jepang telah melonggarkan aturan ekspor senjata mematikan. Bahkan, ada indikasi upaya mengubah prinsip non-nuklir mereka. “Sangat jelas bahwa Jepang sedang membebaskan diri dari prinsip pertahanan dan mempersenjatai diri kembali,” peringat Fu.
Ultimatum: Tarik Ucapan atau Tanggung Akibat
Pada akhirnya, Tiongkok memberikan ultimatum keras. Jika Jepang benar-benar ingin hubungan kedua negara stabil, mereka harus mengambil langkah nyata.
Fu mendesak Tokyo untuk segera menegaskan kembali prinsip satu Tiongkok. Tak hanya itu, mereka harus menarik kembali ucapan keliru Takaichi secara instan.
“Jika tidak, pihak Jepang harus menanggung semua konsekuensi yang timbul darinya,” pungkas Fu dengan nada ancaman diplomatik yang serius.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency



















