Persaingan Senyap: Adu Strategi India dan Tiongkok di Samudra Hindia

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Jauh dari sorotan, sebuah

Ilustrasi, Jauh dari sorotan, sebuah "permainan besar" baru sedang berlangsung saat India dan Tiongkok bersaing memperebutkan pengaruh strategis di sepanjang jalur laut Samudra Hindia. Dok: Istimewa

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Di perairan hangat Samudra Hindia, sebuah kompetisi strategis yang senyap namun intens sedang berlangsung. Dua raksasa Asia, India dan Tiongkok, terlibat dalam pertarungan jangka panjang. Mereka memperebutkan pengaruh melalui jaringan pelabuhan, aliansi militer, dan diplomasi ekonomi yang canggih.

Ini bukanlah konfrontasi terbuka, melainkan sebuah permainan catur geopolitik. Setiap pembangunan pelabuhan dan kesepakatan pertahanan menjadi bidak penting yang menentukan masa depan tatanan keamanan regional.

Strategi Untaian Mutiara Tiongkok

Ambisi Tiongkok di Samudra Hindia paling jelas terlihat melalui Belt and Road Initiative (BRI). Para analis menyebut strategi ini sebagai Untaian Mutiara (String of Pearls). Melalui investasi infrastruktur masif, Beijing mendanai dan membangun jaringan pelabuhan komersial di sepanjang pesisir Samudra Hindia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Proyek-proyek utamanya meliputi:

  • Pelabuhan Gwadar di Pakistan: Memberikan Tiongkok akses langsung ke Laut Arab.
  • Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka: Tiongkok mengambil alih pelabuhan ini melalui sewa 99 tahun setelah Sri Lanka gagal membayar utangnya.
  • Pangkalan Militer di Djibouti: Menjadi pangkalan militer luar negeri pertama Tiongkok, yang berlokasi strategis di Tanduk Afrika.
Baca Juga :  Impor Sawit India Merosot: Penurunan Permintaan

Beijing bersikeras proyek-proyek ini murni komersial. Namun, banyak pihak di New Delhi dan Barat melihatnya sebagai fasilitas penggunaan ganda (dual-use). Fasilitas ini suatu saat dapat melayani Angkatan Laut Tiongkok dan secara efektif “mengepung” India dari laut.

Respons Kalung Berlian India

Bagi India, Samudra Hindia adalah halaman belakang strategisnya. Merasa terancam oleh kehadiran Tiongkok, New Delhi meluncurkan serangkaian kebijakan balasan. Banyak pihak menyebutnya sebagai strategi “Kalung Berlian” (Necklace of Diamonds).

Di bawah kebijakan SAGAR (Security and Growth for All in the Region), India memposisikan diri sebagai penyedia keamanan utama di kawasan. Respons India meliputi:

  • Pembangunan Pelabuhan Tandingan: India berinvestasi dalam pengembangan Pelabuhan Chabahar di Iran untuk menandingi Gwadar. Mereka juga mengembangkan Pelabuhan Sittwe di Myanmar.
  • Aliansi Keamanan Regional: India memperkuat kemitraan pertahanan dengan negara-negara kepulauan seperti Maladewa, Mauritius, dan Seychelles. Salah satunya dengan membangun jaringan radar pesisir untuk memantau lalu lintas maritim.
  • Diplomasi Ekonomi dan Budaya: Berbeda dari Tiongkok, Indiaembangunan, jalur kredit, dan pelatihan militer yang sering sering kali menekankanrsama.
Baca Juga :  Fokus AS ke Asia: Ujian Relevansi bagi Eropa

menekankan ikatan sejarah dan budaya bersama.

Adu Pengaruh di Negara Ketiga

Negara-negara pesisir Samudra Hindia kini menjadi arena utama persaingan ini. New Delhi dan Beijing memperebutkan pengaruh di Sri Lanka, Maladewa, Myanmar,ing.

Tio dengan tawaran inves Timur.

Tiongkok datang dengan tawaran investasi masif yang sulit negara berkembang tolak. Sebaliknya, India menawarkan kemitraan keamanan yang lebih tepercaya. Pendekatan India juga memiliki citras. Nera kecil ini pun be Akibatnya, negara-negaraisi sulit,coba memanfaatkan pe sulit. Mereka mencoba memanfaatkan persaingan ini untuk keuntungan maksimal tanpa harus memihak. bukan hanya tentang siapa yang memiliki pelabuhan lebih banyak. Ini adalah pertarungan visi tentang siapa yang akan menjadi kekuatan dominan dalam membentuk tatanan keamanan dan ekonomi di salah satu kawasan paling vital di dunia. Hasil dari “permainan besar” ini akan memiliki implikasi mendalam bagi stabilitas global di dekade-dekade mendatang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki
Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual
Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen
Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS
Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi
Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 13 Orang di Nizhnekamsk
Trump Tuntut Kompensasi dari Iran, Perumit Upaya Pembukaan

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi

Berita Terbaru