Polri Sita 27 Kayu Misterius di Garoga, Ada Jejak Gergaji di Lokasi Banjir Bandang

Senin, 8 Desember 2025 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gelondongan kayu menumpuk di Desa Garoga usai banjir bandang yang menghancurkan permukiman. (Posnews/Ist)

Gelondongan kayu menumpuk di Desa Garoga usai banjir bandang yang menghancurkan permukiman. (Posnews/Ist)

SUMATERA UTARA, POSNEWS.CO.ID – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bergerak cepat menyelidiki gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang di Garoga, Batang Toru, Tapanuli Selatan.

Sebanyak 27 sampel kayu disita untuk menelusuri asal-usulnya. Gelondongan batang kayu tersebut hingga kini masih berserakan akibat longsor dan banjir.

Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Irhamni mengatakan, tim sudah mendirikan posko dekat DAS Garoga dan mengecek dua jembatan yang terdampak.

“Di TKP, 27 sampel kayu sudah kami ambil. Police line terpasang,” tegas Irhamni, Senin (8/12/2025).

Irhamni memastikan, penyidik menggandeng ahli untuk mengurai jenis dan karakter kayu. Dominasi kayu karet, ketapang, dan durian terlihat jelas.

Baca Juga :  Bareskrim Polri Terbitkan DPO Bandar Narkoba Boy, Diduga Setor Uang Rp8 Miliar

Dari hasil identifikasi, muncul temuan mengejutkan: ada bekas gergaji dan jejak alat berat pada sebagian kayu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Identifikasi menunjukkan kayu gergajian, kayu tercabut pakai alat berat, kayu longsoran, hingga kayu yang terangkut loader,” ungkapnya.

Tim juga masih menginventarisasi kayu yang menumpuk di pesisir laut. Polisi menyisir ulang apakah gelondongan itu murni akibat bencana atau ada campur tangan manusia.

Desa Garoga Lenyap Dihantam Kayu dan Lumpur

Sebelumnya, Menteri KLH/BPLH Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan kondisi Desa Garoga yang hilang diterjang banjir dan longsor.

“Hampir semua rumah tertimbun tanah dan kayu,” ujarnya.

Baca Juga :  Bareskrim Bongkar TPPU Tambang Emas Ilegal Rp25,8 Triliun, Rumah dan Toko Emas Digeledah

Hanif menjelaskan, DAS Garoga adalah yang terbesar kedua di wilayah itu. Hulu sungainya curam, sehingga luapan kayu dan lumpur sangat masif dan menghantam desa.

Curah hujan ekstrem mencapai 450 mm pada 24–25 November, sehingga lereng tidak mampu menahan beban. Pohon tumbang dan kayu-kayu yang menyumbat aliran sungai menciptakan tekanan besar hingga meluluhlantakkan Garoga.

Hanif juga menyinggung adanya perkebunan sawit seluas 200 hektare di hulu Sungai Garoga yang diduga memperparah aliran permukaan saat hujan deras.

“Kita akan hitung ulang. Tapi runtuhan terbesar memang diduga dari sana,” tegasnya. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer
Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global
Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21
Mengapa Isu Perubahan Iklim Menjadi Alat Tawar Politik Baru?
Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 14:22 WIB

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Berita Terbaru

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Mar 2026 - 14:22 WIB

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

INTERNASIONAL

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Mar 2026 - 12:20 WIB

Perebutan urat nadi kehidupan. Geopolitik air kini menjadi medan tempur baru bagi negara-negara yang bersaing memperebutkan kedaulatan sumber daya di tengah ancaman kekeringan global 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Senin, 23 Mar 2026 - 11:12 WIB