Prabowo Ingatkan Ancaman Konflik Timur Tengah, Pemerintah Diminta Hemat BBM dan Anggaran

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan terkait konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik global. (Posnews/Biro Pers)

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan terkait konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik global. (Posnews/Biro Pers)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan jajaran pemerintah agar tidak lengah menghadapi dinamika global, khususnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Ia menilai ketegangan geopolitik dunia berpotensi mengguncang stabilitas energi dan ekonomi, sehingga Indonesia harus segera menyiapkan langkah penghematan yang terukur.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Dalam arahannya, presiden menegaskan pemerintah harus bersikap proaktif, terutama dengan mengendalikan konsumsi energi nasional seperti bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Prabowo, meskipun kondisi dalam negeri relatif stabil, pemerintah tidak boleh berasumsi bahwa Indonesia akan selalu aman dari dampak krisis global.

Karena itu, langkah penghematan harus mulai dipikirkan sejak dini agar ketahanan ekonomi tetap terjaga.

“Negara kita memang aman, dan kita patut bersyukur. Namun kita tetap harus melakukan langkah-langkah proaktif, terutama mengurangi konsumsi BBM,” tegas Prabowo di hadapan para menteri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, Prabowo mencontohkan kebijakan penghematan yang telah dilakukan pemerintah Pakistan dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu.

Negara tersebut bahkan menetapkan langkah darurat yang disebut sebagai critical measures, mirip dengan kebijakan saat pandemi COVID-19.

Baca Juga :  Prabowo Siap Bentuk Komite Reformasi Kepolisian untuk Bongkar Struktur Lama

Sebagai bagian dari kebijakan itu, pemerintah Pakistan menerapkan sistem kerja work from home hingga 50 persen bagi pegawai pemerintah maupun swasta.

Selain itu, hari kerja dipangkas menjadi empat hari dalam sepekan guna menekan penggunaan energi dan biaya operasional.

Gaji Anggota Parlemen Pakistan Dipangkas 25 Persen

Tidak berhenti di situ, Pakistan juga melakukan langkah drastis dengan memangkas gaji anggota parlemen sebesar 25 persen.

Bahkan, sejumlah anggota kabinet pemerintah di negara tersebut tidak menerima gaji selama masa kebijakan penghematan berlangsung.

Menurut Prabowo, dana hasil pemotongan tersebut kemudian dialokasikan untuk membantu kelompok masyarakat paling rentan yang terdampak kondisi ekonomi global.

Langkah efisiensi juga menyasar sektor energi. Pemerintah Pakistan memangkas hingga 50 persen penggunaan BBM di seluruh kementerian dan lembaga negara.

Selain itu, sekitar 60 persen kendaraan dinas pemerintah diwajibkan tidak beroperasi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.

Tak hanya itu, pemerintah Pakistan juga menghentikan berbagai belanja negara yang dianggap tidak mendesak, seperti pengadaan pendingin ruangan, kendaraan baru, hingga pembelian perabot kantor.

Baca Juga :  Polda Metro Amankan Pelaku Pembakaran Kios Kalibata, Usut Tuntas Pengeroyokan Matel

Dalam kebijakan lainnya, pemerintah Pakistan juga membatasi perjalanan dinas ke luar negeri serta memangkas anggaran acara seremonial pemerintah.

Di sektor pendidikan, sejumlah kegiatan pembelajaran bahkan dialihkan ke sistem daring untuk menekan biaya operasional.

Prabowo menilai berbagai langkah efisiensi tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam menghadapi potensi tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik.

Karena itu, ia meminta para menteri segera mengkaji kemungkinan penerapan kebijakan penghematan yang relevan bagi Indonesia.

“Ini hanya contoh yang bisa kita pelajari. Saya kira dalam beberapa hari ke depan kita bisa mengkaji langkah-langkah penghematan yang perlu kita lakukan,” ujar Prabowo.

Di akhir arahannya, presiden menegaskan bahwa penghematan anggaran dan energi sangat penting untuk menjaga kesehatan fiskal negara.

Ia bahkan menargetkan agar Indonesia mampu menekan defisit anggaran secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

“Saya yakin dalam dua sampai tiga tahun kita bisa semakin kuat. Namun kita harus tetap hemat agar defisit tidak bertambah. Bahkan kalau bisa, cita-cita kita adalah tidak memiliki defisit,” pungkasnya. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaringan Pemasok Senjata ke KKB Yalimo–Yahukimo Dibongkar Polisi, 8 Orang Ditangkap
Trump Tolak Tawaran Putin: AS Pertimbangkan Operasi Militer Rebut Uranium Iran
Arus Mudik Lebaran 2026 Dipantau Ketat, Wakapolri Tinjau Command Center KM 29
Sentimen Konsumen AS Terjun Bebas: Dampak Perang Iran Mulai Cekik Ekonomi Rumah Tangga
Diplomasi Asia Tengah: Wang Yi Desak Rekonsiliasi Damai Afghanistan-Pakistan
Heboh! 25 Kg Kokain Diduga dari Kolombia Terdampar di Selayar, Nelayan Temukan di Pesisir
Masa Depan Orde Liberal: Tantangan Populisme dan Kembalinya Politik Identitas
Agenda Global Bersama: Kolaborasi Lintas Negara Melawan Ancaman Non-Tradisional

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:41 WIB

Jaringan Pemasok Senjata ke KKB Yalimo–Yahukimo Dibongkar Polisi, 8 Orang Ditangkap

Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:31 WIB

Trump Tolak Tawaran Putin: AS Pertimbangkan Operasi Militer Rebut Uranium Iran

Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:16 WIB

Arus Mudik Lebaran 2026 Dipantau Ketat, Wakapolri Tinjau Command Center KM 29

Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:37 WIB

Sentimen Konsumen AS Terjun Bebas: Dampak Perang Iran Mulai Cekik Ekonomi Rumah Tangga

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:55 WIB

Prabowo Ingatkan Ancaman Konflik Timur Tengah, Pemerintah Diminta Hemat BBM dan Anggaran

Berita Terbaru