Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Putin sebut ada peluang capai kesepakatan damai Ukraina, sementara Zelenskyy umumkan kunjungan negosiator AS ke Moskow dan Kyiv. Dok: Istimewa.

Putin sebut ada peluang capai kesepakatan damai Ukraina, sementara Zelenskyy umumkan kunjungan negosiator AS ke Moskow dan Kyiv. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Tiga pejabat tinggi Rusia secara beruntun menyatakan kekecewaan mendalam kepada pemerintah Amerika Serikat pekan ini. Rusia menilai Washington telah mengabaikan komitmen penting hasil pertemuan puncak di Alaska pada Agustus tahun lalu.

Eskalasi Serangan Drone dan Frustrasi Moskow

Tudingan keras ini mencuat seiring serangan drone militer Ukraina yang kian gencar membakar kilang minyak Moskow. Selain itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memamerkan keberhasilan pasukannya di depan para pemimpin Barat saat KTT G7.

Zelenskyy mengonfirmasi militer Ukraina sukses membalikkan arah pertempuran dan menyudutkan posisi pertahanan pasukan Rusia saat ini. Sebaliknya, Kremlin membantah keras klaim sepihak itu dan terus meluncurkan gempuran rudal udara ke Kyiv.

Misteri Semangat Anchorage dan Pergeseran Trump

Rusia sebelumnya menyambut baik upaya Donald Trump untuk memediasi pengakhiran konflik bersenjata sejak tahun lalu. Para pejabat Rusia sering mendengungkan istilah Semangat Anchorage untuk menggambarkan kesepakatan damai versi mereka.

Konsep damai itu menuntut penyerahan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia sebagai syarat pembekuan garis depan. Namun, Trump secara mengejutkan mengubah haluan dengan mendukung Ukraina merebut kembali seluruh wilayah kedaulatan negara.

Tudingan Taktik Membeli Waktu Senjata Kyiv

Asisten Presiden Rusia Yuri Ushakov menilai hanya pihak Moskow yang konsisten menjaga komitmen damai itu. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menuduh Amerika Serikat menggunakan pertemuan Alaska murni untuk membeli waktu.

Baca Juga :  Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China

Lavrov menilai Washington sengaja memperlambat proses diplomasi agar sekutu dapat mengirim pasokan senjata baru ke Kyiv. Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov juga melihat AS kini semakin mendekati kebijakan anti-Rusia ekstrem milik Eropa.

Desakan Diplomasi AS di Tengah Krisis Ekonomi

Analis politik Gerhard Mangott menilai Putin menghadapi tekanan berat akibat krisis ekonomi dan serangan udara Ukraina. Oleh karena itu, Putin harus menunjukkan aksi nyata guna membuktikan ia masih memegang kendali pertempuran.

Analis International Crisis Group Oleg Ignatov menjelaskan kekosongan mediator AS sejak perang Iran pecah pada Februari. Fokus perhatian Washington kini beralih sepenuhnya untuk mengamankan Selat Hormuz dan meredam ambisi nuklir Tehran.

Pada akhirnya, Rusia sangat mendesak Amerika Serikat untuk segera kembali memimpin perundingan damai secara serius.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Demokrat Berjanji Batasi Kebijakan Trump Pasca Kemenangan
Partai Demokrat Kuasai Majelis Kongres dan Kalahkan Republik
Jepang Pertimbangkan Bantuan Untuk Mahkamah Internasional
Donald Trump Puji Kemenangan Demokrat dan Salahkan Perang
Partai Demokrat Kuasai Kongres Amerika Serikat, Hentikan Agenda
Pasukan Rusia Bom Sekolah Di Zaporizhzhia, 24 Tewas
Pemerintah Inggris Gandakan Waktu Tunggu Izin Tinggal
Donald Trump Fokus Renovasi Kolam Menjelang Pemilu

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 10:12 WIB

Demokrat Berjanji Batasi Kebijakan Trump Pasca Kemenangan

Jumat, 6 November 2026 - 09:40 WIB

Partai Demokrat Kuasai Majelis Kongres dan Kalahkan Republik

Jumat, 6 November 2026 - 09:05 WIB

Jepang Pertimbangkan Bantuan Untuk Mahkamah Internasional

Jumat, 6 November 2026 - 08:30 WIB

Donald Trump Puji Kemenangan Demokrat dan Salahkan Perang

Jumat, 6 November 2026 - 07:26 WIB

Partai Demokrat Kuasai Kongres Amerika Serikat, Hentikan Agenda

Berita Terbaru