Biennale Venesia 2026 Dibuka Tanpa Juri Akibat Protes Geopolitik

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seni di bawah tekanan. Edisi ke-60 Biennale Venesia dibuka dalam atmosfer paling kacau sepanjang sejarah setelah juri mengundurkan diri sebagai protes terhadap partisipasi negara-negara yang terlibat konflik militer dan pelanggaran HAM. Dok:  (AP Photo/Luca Bruno)

Seni di bawah tekanan. Edisi ke-60 Biennale Venesia dibuka dalam atmosfer paling kacau sepanjang sejarah setelah juri mengundurkan diri sebagai protes terhadap partisipasi negara-negara yang terlibat konflik militer dan pelanggaran HAM. Dok: (AP Photo/Luca Bruno)

VENESIA, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan geopolitik dunia kini merembet ke panggung seni rupa internasional. Biennale Venesia memulai edisi paling kontroversial dalam ingatannya pada hari Sabtu tanpa kehadiran juri resmi dan tanpa penganugerahan piala singa emas yang ikonik.

Gelombang protes meletus di luar paviliun nasional setelah dewan juri secara kolektif mengundurkan diri. Mereka menyatakan penolakan untuk memberikan penilaian selama negara-negara yang berada di bawah penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) tetap diizinkan berpartisipasi. Seniman ternama asal Inggris, Anish Kapoor, menyebut situasi ini sebagai refleksi dari “politik kebencian dan perang” yang telah berlangsung terlalu lama.

Pemungutan Suara Bergaya Eurovision

Guna menyelamatkan legitimasi penghargaan, panitia memperkenalkan mekanisme baru yang melibatkan publik secara langsung. Pengunjung di lokasi Giardini dan Arsenale kini memegang kendali penuh untuk menentukan pemenang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka akan memberikan suara untuk paviliun nasional terbaik dari 100 peserta, serta peserta terbaik dalam pertunjukan utama “In Minor Keys”. Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung pada hari penutupan, 22 November mendatang. Perubahan ini mengubah dinamika pameran menjadi ajang diplomasi publik yang masif di tahun 2026.

Baca Juga :  Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Sorotan Karya: Dari New Orleans hingga Harlem

Kurasi tahun ini memberikan ruang besar bagi narasi-narasi yang selama ini terabaikan. Pameran utama menyambut pengunjung dengan patung bulu merah menjulang yang terinspirasi dari budaya Black Masking di New Orleans. Karya ini menjadi simbol fokus pameran terhadap perspektif minoritas global.

Mendiang Koyo Kouoh, kurator wanita Afrika pertama untuk Biennale, meninggalkan warisan melalui tema yang mengangkat kelompok-kelompok yang sering terlupakan. “Dia adalah sosok yang memikirkan cara membuat ruang bagi semua orang untuk bersinar,” ujar asisten kurator Marie Helene Pereira. Di Paviliun Inggris, pemenang Turner Prize, Lubaina Himid, mengeksplorasi dilema para pendatang baru melalui lukisan pasangan yang mencoba membangun rumah di tempat yang asing.

Kontroversi dan Provokasi di Paviliun Nasional

Beberapa paviliun menampilkan karya yang sangat berani dan memancing diskusi publik:

  • Vatikan: Menawarkan “istirahat spiritual” di Taman Mistik ordo Karmelit, di mana pengunjung mendengarkan musik mistik abad ke-12 melalui headphone.
  • Austria: Menampilkan performa provokatif Florentina Holzinger yang melibatkan tubuh manusia sebagai simbol kritik terhadap pariwisata massal di Venesia.
  • Rumania/Israel: Belu-Simion Fainaru memasang gembok bertuliskan pesan perdamaian dalam bahasa Ibrani. Ia secara tegas menolak boikot dan menyuarakan pentingnya dialog sebagai pernyataan politik.
Baca Juga :  Jepang Kembangkan Sistem SHIELD dan Reorganisasi Industri

Feminisme Sehari-hari dan Kelangsungan Planet

Di pusat komunitas yang dulunya merupakan gereja, seniman Estonia Merike Estna melakukan aksi melukis dinding secara terus-menerus sepanjang pameran berlangsung. Aktivitas harian ini merupakan representasi dari kerja keras perempuan yang sering kali kurang dihargai dalam masyarakat.

Kurator Natalia Sielewicz menyamakan praktik ini dengan “feminisme sehari-hari dalam mempertahankan kehidupan dan planet kita.” Pesan ini memperkuat posisi Biennale tahun 2026 sebagai wadah di mana seni tidak lagi bisa dipisahkan dari isu keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

Diplomasi Seni di Titik Nadir

Biennale Venesia 2026 membuktikan bahwa ruang seni tidak lagi menjadi zona netral yang terisolasi dari konflik dunia. Pengunduran diri juri menandai titik balik di mana integritas moral seniman mulai menantang struktur institusional pameran.

Singkatnya, keberhasilan edisi kali ini tidak akan diukur dari nilai artistik semata, melainkan dari sejauh mana dialog antarbangsa dapat bertahan di bawah bayang-bayang boikot. Masyarakat internasional kini menanti apakah sistem pemungutan suara publik mampu meredam polarisasi atau justru semakin memperjelas keretakan politik di jantung dunia seni.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa
Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Berita Terbaru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

HUT RI ke-81, Tarif MRT, LRT, dan Transjakarta di Jakarta Cuma Rp1

Minggu, 9 Agu 2026 - 15:57 WIB