BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Eskalasi kekerasan di perbatasan selatan Lebanon kembali memakan korban jiwa dari kalangan tenaga kemanusiaan. Serangan udara ganda Israel di kota Majdal Zoun menghancurkan sebuah bangunan dan menargetkan para penyelamat yang sedang menjalankan misi evakuasi.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa lima orang tewas dalam insiden tersebut. Tiga di antaranya merupakan anggota Pertahanan Sipil Lebanon, satuan penyelamat milik pemerintah. Mereka terjebak di bawah reruntuhan setelah serangan kedua menghantam lokasi yang sama sesaat setelah serangan pertama terjadi.
Serangan Ganda di Majdal Zoun: Target Petugas Penyelamat
Juru bicara Pertahanan Sipil Lebanon menyatakan bahwa ketiga petugas penyelamat tersebut awalnya berusaha menolong korban luka akibat ledakan pertama. Namun, militer Israel meluncurkan serangan kedua di titik yang sama. Strategi serangan ganda ini sering kali menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak penyelamat dan medis.
Tentara Lebanon juga melaporkan bahwa dua anggotanya mengalami luka-luka dalam serangan susulan tersebut. Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan komentar resmi mengenai alasan penargetan bangunan tersebut maupun serangan yang mengenai petugas kemanusiaan.
Kecaman PM Nawaf Salam dan Isu Kejahatan Perang
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, merespons serangan ini dengan nada yang sangat keras. Ia menyebut aksi militer Israel tersebut sebagai kejahatan perang yang nyata dan terang-terangan. Salam menegaskan bahwa penargetan terhadap warga sipil dan petugas medis melanggar hukum internasional secara fundamental.
Kekhawatiran ini sejalan dengan pernyataan kantor Hak Asasi Manusia PBB bulan lalu. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa serangan udara Israel terhadap warga sipil dan petugas kesehatan di Lebanon dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Sejak konflik memanas pada Maret lalu, lebih dari 100 petugas medis telah gugur dalam menjalankan tugasnya.
Gencatan Senjata yang Rapuh: Saling Tuding Pelanggaran
Serangan terbaru ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Meskipun kesepakatan tersebut telah mengurangi skala pertempuran secara keseluruhan, bentrokan antara Israel dan Hezbollah masih terus berlangsung di beberapa titik di Lebanon Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua belah pihak saling menuduh lawan sebagai pelanggar pertama kesepakatan damai. Militer Israel saat ini masih menduduki sebagian wilayah di selatan dan melarang warga kembali ke rumah mereka. Di sisi lain, Hezbollah tetap meluncurkan serangan drone dan roket untuk mengincar posisi pasukan Israel di Lebanon utara.
Korban Jiwa dan Dampak Kemanusiaan yang Meluas
Sejak 2 Maret 2026, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon telah melampaui 2.500 jiwa. Data menunjukkan bahwa jumlah tersebut mencakup lebih dari 270 wanita dan 170 anak-anak. Kerusakan infrastruktur di Lebanon Selatan sangat masif, membuat sebagian besar wilayah tersebut kini menjadi reruntuhan.
Selain itu, serangan terhadap jurnalis juga masih menjadi perhatian serius. Pekan lalu, serangan Israel menewaskan seorang jurnalis di Lebanon Selatan. Pihak otoritas menyatakan bahwa serangan berkelanjutan sering kali menghalangi tim penyelamat untuk mengakses lokasi kejadian, yang memperparah risiko kematian bagi korban yang terjebak di bawah reruntuhan.
Diplomasi di Titik Kritis
Tragedi di Majdal Zoun menunjukkan betapa tipisnya batas antara gencatan senjata dan perang terbuka. Tanpa adanya pengawasan internasional yang lebih ketat, keberhasilan proses perdamaian yang diupayakan Amerika Serikat berada dalam ancaman serius.
Masyarakat internasional kini menanti langkah tegas dari PBB untuk memastikan keselamatan petugas kemanusiaan di medan tempur. Selama serangan terhadap warga sipil dan petugas medis terus berlanjut, harapan warga Lebanon untuk kembali ke kehidupan normal di tahun 2026 tetap menjadi impian yang sulit terjangkau.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















