Armada Y-20 China Gelar Latihan Formasi Jarak Jauh

Selasa, 27 Januari 2026 - 11:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Uji nyali di angkasa. Pesawat angkut raksasa China hadapi jamming navigasi dan turbulensi dalam simulasi tempur tanpa panduan darat. Dok: Wikipedia.

Uji nyali di angkasa. Pesawat angkut raksasa China hadapi jamming navigasi dan turbulensi dalam simulasi tempur tanpa panduan darat. Dok: Wikipedia.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Langit barat daya China menjadi saksi bisu manuver strategis terbaru militer Tiongkok. Selanjutnya, sekelompok pesawat angkut Y-20 milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) baru-baru ini melaksanakan latihan formasi multi-pesawat dan jarak jauh yang intensif.

Latihan ini bukan sekadar penerbangan rutin. Sebaliknya, kondisi cuaca yang kompleks dan wilayah udara yang sama sekali asing menantang pilot dan kru.

Fokus utama misi ini adalah menguji batas kemampuan. Secara spesifik, latihan menyoroti koordinasi sistem, navigasi otonom, dan pengambilan keputusan di tempat (on-the-spot decision-making). Tujuannya jelas: mengasah kemampuan pengiriman strategis dan mobilitas udara jarak jauh unit pesawat angkut besar di lingkungan medan tempur yang tidak dikenal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terbang Buta Tanpa Dukungan Darat

Awalnya, sesi bermula pada siang hari. Beberapa pesawat Y-20 meluncur mulus ke landasan pacu, lepas landas, dan segera membentuk formasi di udara menuju target yang ditentukan.

Baca Juga :  Hubungan AS-Iran Menegang Tanpa Kemajuan Berarti

Berbeda dengan operasi rutin, militer merancang latihan ini dengan tingkat kesulitan tinggi. Akibatnya, kru harus menghadapi tantangan meteorologi yang rumit dan rute yang asing dengan informasi dukungan darat yang sangat terbatas.

Sepanjang misi, kru bergantung sepenuhnya pada sistem canggih di dalam pesawat (onboard advanced systems) dan penilaian otonom mereka sendiri untuk menyelesaikan tugas. Oleh karena itu, latihan ini tidak hanya menguji keterampilan operasional, tetapi juga mengevaluasi kemampuan mental kru dalam memproses informasi beragam, mengantisipasi risiko, dan mengeksekusi keputusan terkoordinasi.

Simulasi Perang Elektronik

Komando misi meningkatkan intensitas dengan mensimulasikan berbagai situasi darurat (contingencies). Misalnya, skenario ujian tersebut mencakup gangguan sinyal navigasi satelit (jamming), turbulensi parah, dan perubahan cuaca mendadak.

Merespons tekanan ini, kru di kokpit tetap tenang. Bahkan, mereka berbagi informasi real-time melalui tautan data, mengkalibrasi ulang rencana navigasi, serta menyesuaikan formasi dan jalur penerbangan. Akhirnya, mereka berhasil mengeksekusi manuver taktis dan prosedur pemulihan darurat dengan presisi.

Baca Juga :  China, Thailand, dan Kamboja Sepakati 5 Poin Kunci Perdamaian dan Stabilitas Regional

Saat malam tiba, formasi pesawat menyelesaikan semua tujuan pelatihan dan kembali dengan selamat ke pangkalan. Kemudian, kru melakukan debriefing rinci, menganalisis data penerbangan, dan mendiskusikan aspek koneksi kolaboratif serta integrasi informasi.

Mengenal “Kunpeng” Raksasa

Sebagai informasi, Aviation Industry Corporation of China (AVIC) milik negara merancang dan memproduksi Y-20 sebagai tulang punggung logistik udara China. Pesawat ini memiliki berat lepas landas maksimum sekitar 200 ton.

Pesawat ini melakukan penerbangan perdananya pada 26 Januari 2013 dan resmi bergabung dengan angkatan udara China pada 6 Juli 2016.

Secara resmi, Y-20 menyandang nama sandi “Kunpeng”. Militer mengambil nama ini dari burung mitos raksasa dalam legenda Tiongkok yang konon mampu terbang menempuh jarak yang sangat jauh. Hal ini menjadi simbol yang pas untuk ambisi jangkauan global militer China.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS
Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang
Ribuan Korban Hilang Banjir Bandang Perbatasan Nepal-Tiongkok
Penarikan Total Pasukan AS dari Irak Berpacu
Petinggi Chubu Electric Mundur Usai Skandal Pemalsuan Data
Los Angeles Dodgers Amankan Tiket Postseason MLB
Serangan Terhadap Pipa Minyak Arab Saudi dan Kapal Teluk

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 17:39 WIB

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS

Rabu, 16 September 2026 - 16:35 WIB

Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS

Rabu, 16 September 2026 - 16:29 WIB

Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang

Rabu, 16 September 2026 - 15:44 WIB

Ribuan Korban Hilang Banjir Bandang Perbatasan Nepal-Tiongkok

Rabu, 16 September 2026 - 14:38 WIB

Penarikan Total Pasukan AS dari Irak Berpacu

Berita Terbaru

Laporan CBO menunjukkan biaya perang AS melawan Iran tembus $38 miliar Dolar AS dan mendongkrak inflasi hingga 2027. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS

Rabu, 16 Sep 2026 - 17:39 WIB

Donald Trump mengecam keputusan Mahkamah Agung AS yang memblokir aturan pembatasan surat suara via pos jelang pemilu paruh waktu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS

Rabu, 16 Sep 2026 - 16:35 WIB

 Serangan udara Israel di Kfar Rumman, Lebanon Selatan menewaskan 13 orang termasuk 6 anak-anak. Simak rincian eskalasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang

Rabu, 16 Sep 2026 - 16:29 WIB

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ribuan Korban Hilang Banjir Bandang Perbatasan Nepal-Tiongkok

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:44 WIB