BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Langit barat daya China menjadi saksi bisu manuver strategis terbaru militer Tiongkok. Selanjutnya, sekelompok pesawat angkut Y-20 milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) baru-baru ini melaksanakan latihan formasi multi-pesawat dan jarak jauh yang intensif.
Latihan ini bukan sekadar penerbangan rutin. Sebaliknya, kondisi cuaca yang kompleks dan wilayah udara yang sama sekali asing menantang pilot dan kru.
Fokus utama misi ini adalah menguji batas kemampuan. Secara spesifik, latihan menyoroti koordinasi sistem, navigasi otonom, dan pengambilan keputusan di tempat (on-the-spot decision-making). Tujuannya jelas: mengasah kemampuan pengiriman strategis dan mobilitas udara jarak jauh unit pesawat angkut besar di lingkungan medan tempur yang tidak dikenal.
Terbang Buta Tanpa Dukungan Darat
Awalnya, sesi bermula pada siang hari. Beberapa pesawat Y-20 meluncur mulus ke landasan pacu, lepas landas, dan segera membentuk formasi di udara menuju target yang ditentukan.
Berbeda dengan operasi rutin, militer merancang latihan ini dengan tingkat kesulitan tinggi. Akibatnya, kru harus menghadapi tantangan meteorologi yang rumit dan rute yang asing dengan informasi dukungan darat yang sangat terbatas.
Sepanjang misi, kru bergantung sepenuhnya pada sistem canggih di dalam pesawat (onboard advanced systems) dan penilaian otonom mereka sendiri untuk menyelesaikan tugas. Oleh karena itu, latihan ini tidak hanya menguji keterampilan operasional, tetapi juga mengevaluasi kemampuan mental kru dalam memproses informasi beragam, mengantisipasi risiko, dan mengeksekusi keputusan terkoordinasi.
Simulasi Perang Elektronik
Komando misi meningkatkan intensitas dengan mensimulasikan berbagai situasi darurat (contingencies). Misalnya, skenario ujian tersebut mencakup gangguan sinyal navigasi satelit (jamming), turbulensi parah, dan perubahan cuaca mendadak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merespons tekanan ini, kru di kokpit tetap tenang. Bahkan, mereka berbagi informasi real-time melalui tautan data, mengkalibrasi ulang rencana navigasi, serta menyesuaikan formasi dan jalur penerbangan. Akhirnya, mereka berhasil mengeksekusi manuver taktis dan prosedur pemulihan darurat dengan presisi.
Saat malam tiba, formasi pesawat menyelesaikan semua tujuan pelatihan dan kembali dengan selamat ke pangkalan. Kemudian, kru melakukan debriefing rinci, menganalisis data penerbangan, dan mendiskusikan aspek koneksi kolaboratif serta integrasi informasi.
Mengenal “Kunpeng” Raksasa
Sebagai informasi, Aviation Industry Corporation of China (AVIC) milik negara merancang dan memproduksi Y-20 sebagai tulang punggung logistik udara China. Pesawat ini memiliki berat lepas landas maksimum sekitar 200 ton.
Pesawat ini melakukan penerbangan perdananya pada 26 Januari 2013 dan resmi bergabung dengan angkatan udara China pada 6 Juli 2016.
Secara resmi, Y-20 menyandang nama sandi “Kunpeng”. Militer mengambil nama ini dari burung mitos raksasa dalam legenda Tiongkok yang konon mampu terbang menempuh jarak yang sangat jauh. Hal ini menjadi simbol yang pas untuk ambisi jangkauan global militer China.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















