Strategi Dua Jalur Teheran: Tindakan Keras Domestik

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Doha. Amerika Serikat dan Iran menyepakati perundingan darurat di Qatar guna meredakan ketegangan perang pasca-sains aksi saling serang di Teluk Arab. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Doha. Amerika Serikat dan Iran menyepakati perundingan darurat di Qatar guna meredakan ketegangan perang pasca-sains aksi saling serang di Teluk Arab. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran memperketat tindakan keras terhadap pengkritik domestik pada Senin (9/2/2026). Aparat melakukan gelombang penangkapan baru sembari tetap membiarkan pintu diplomasi terbuka bagi Amerika Serikat untuk negosiasi nuklir lebih lanjut.

Penangkapan tersebut menyasar Javad Emam, juru bicara koalisi reformis utama. Selain itu, otoritas juga menangkap Hossein Karoubi, putra dari tokoh pembangkang terkemuka Mehdi Karoubi. Langkah ini terjadi hanya beberapa hari setelah pejabat Iran dan AS mengadakan pembicaraan di Oman yang kedua pihak nilai sebagai awal yang positif.

Pembersihan Tokoh Reformis dan Aktivis

Teheran saat ini menempuh pendekatan dua jalur yang kontradiktif. Aparat memburu dan memenjarakan kritikus yang mereka anggap berbahaya. Namun, pada saat yang sama, pemerintah mengejar peluang diplomatik dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Juru bicara koalisi Front Reformis menyatakan bahwa Garda Revolusi Iran telah menahan Javad Emam. Setidaknya empat tokoh Front Reformis lainnya juga mengalami nasib serupa. Selain politisi, aparat juga menangkap beberapa aktivis dan pembuat film yang menandatangani pernyataan protes. Hingga saat ini, pemerintah Iran terus melabeli aksi protes tersebut sebagai “kerusuhan” yang dipicu oleh musuh bebuyutan mereka, yakni Israel dan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Tawaran Konsesi Nuklir di Oman

Di tengah pernyataan keras di dalam negeri, Iran memberikan sinyal untuk berkompromi terkait program nuklirnya. Langkah ini bertujuan untuk menghindari konflik lebih lanjut dengan Washington. Kepala badan atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa Teheran bersedia mengencerkan uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Namun, Eslami menekankan bahwa langkah tersebut sangat bergantung pada kesediaan AS untuk mencabut semua sanksi ekonomi. Pengenceran uranium atau downblending akan mencampur materi nuklir dengan zat lain untuk mengurangi tingkat pengayaannya. Hal ini secara otomatis akan memperpanjang waktu yang Iran butuhkan untuk menciptakan bahan nuklir yang cukup bagi sebuah bom. Meskipun demikian, Teheran tetap bersikeras bahwa program pengayaan mereka murni untuk tujuan sipil dan riset.

Tekanan terhadap Pemenang Nobel

Tindakan keras Iran juga menyasar tokoh kemanusiaan terkemuka. Pada hari Sabtu, pengadilan menjatuhkan hukuman tambahan enam tahun penjara bagi pemenang Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi. Ia menghadapi tuduhan membahayakan keamanan nasional dan menyebarkan propaganda melawan sistem Islam.

Baca Juga :  Xi Jinping dan Trump Sepakat Bangun Kepercayaan Lewat Dialog

Mohammadi telah menghabiskan sebagian besar dekade terakhir di balik jeruji besi karena kampanyenya melawan hukuman mati dan aturan berpakaian bagi perempuan. Kini, ia menghadapi ancaman hukuman hingga 17 tahun penjara dan 154 cambukan. Selain Mohammadi, penangkapan Azar Mansouri, pemimpin koalisi reformis sejak 2023, juga semakin memperlemah kamp politik yang mendukung Presiden petahana Masoud Pezeshkian.

Perbedaan Data Korban Jiwa

Situasi di lapangan tetap menyisakan perdebatan mengenai jumlah korban jiwa selama protes baru-baru ini. Otoritas Iran secara resmi mengakui bahwa 3.117 orang tewas. Mereka mengklaim sebagian besar korban merupakan anggota pasukan keamanan dan orang asing yang tidak bersalah.

Sebaliknya, organisasi internasional memberikan angka yang jauh lebih tinggi. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan telah memverifikasi 6.961 kematian, di mana sebagian besar adalah pengunjuk rasa. Selain itu, mereka mencatat lebih dari 51.000 penangkapan telah terjadi. Di tengah tekanan domestik yang brutal, dunia internasional kini mengamati apakah tawaran nuklir Iran akan membuahkan hasil atau hanya menjadi strategi penguluran waktu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Berita Terbaru

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB